Jumat, 25 Juli 2003

Hari ini adalah hari ulang tahun seorang teman, yang cukup akrab waktu di kampus. Juan, namanya. Sudah lama kami tak berjumpa. Tapi namanya teman, walau jauh di mata selalu dekat di hati.



Dan begitulah,

Pagi-pagi setelah bangun tidur, saya langsung mengucapkan selamat via sms. Eh, tak disangka tak dinyana, ia malah balik menelepon dengan suara girang. Ia bilang, ia akan menikah. Betapa bahagianya...



Belakangan ini saya banyak mendapat undangan resepsi pernikahan dari teman-teman. Senin pekan ini, misalnya. Begitu tiba di ruang kerja, membuka komputer, langsung terdengar suara tanda email baru tiba. Begitu dibuka,

taraaaaa...

undangan demi undangan bermunculan di layar.



"Hmmm...banyak juga yang menikah tahun ini," saya bergumam sendiri. Lalu teringatlah saya pada seorang teman bernama Iman. Dia juga teman saya satu kampus. Kami pun akrab. Bahkan, belakangan ini ia kerap menemani saya di dunia maya. Selama di cyber itulah kami sering ngobrol soal pernikahan.



Iman, seperti namanya, insya Allah adalah orang yang betul beriman. Ia punya cita-cita terpuji, menikah untuk beribadah. Dia yakin betul, menikah itu adalah separuh agama. Betul, Man, hal itu pernah pula saya dengar

Tapi...



Menurut saya, agak naif juga kalau kita ngotot menikah dengan alasan demi menyempurnakan agama. Niatnya memang mulia. Tapi niat mulia itu, kata orang, hanya akan berakhir mulia bila dilakukan dengan proses yang mulia pula. Artinya, meskipun kita sudah bersusah payah mewujudkan niat mulia itu, belum tentu tujuan mulianya tercapai.



Misalnya begini cieee...kayak Caroline Zachrie. Banyak yang percaya poligami itu sunah nabi.banyak juga sih yang gak percaya. Tapi sekarang kita ambil contoh orang yang percaya aja dulu, ya. Nah, setelah kita beristri dua, apa betul kita dapat tambahan pahala? Jangan-jangan malah tambah dosa karena ada orang yang tersakiti (sang istri atau keluarganya, misalnya?)



Kita lupa ada alasan lain Rasulullah memiliki istri banyak. Beliau ingin membantu para istri tersebut menjaga izzah mereka. Dan, tentu saja agar mereka tidak telantar. Lagipula, turunnya ayat yang membolehkan beristri maksimal empat 'kan disebabkan pada masa itu orang lazim beristri belasan. Jadi ayat itu justru membatasi. Bukan sebaliknya, biasa beristri satu lalu diberi keistimewaan boleh empat.



Begitu pula dengan menikah, Man. Kita bergegas "menyempurnakan" agama, tapi seringkali tidak memikirkan apakah kita sudah sampai separuh. Jangan-jangan kita belum 1/10 agama, 1/8 agama, apalagi 1/4 agama. Kita lupa, mempersiapkan diri menghadapi perang selanjutnya adalah lebih penting daripada langsung ikut berperang membabi buta.



Ada yang bilang, orang berani bukanlah orang yang berlari dari kejauhan lalu lompat masuk ke jurang dengan mata terpejam. Pemberani adalah orang yang mengamati dasar jurang, memperkirakan kedalamannya, menimbang risikonya, lalu terjun dengan segala pertimbangannya.



Jadi, menurut saya, proses persiapan itu lebih penting. Dan wajar kalau persiapan itu butuh waktu. Jangan percaya kalo orang bilang, "cepetan kawiiiiin dah keburu tuaaaa...." Coba, mending mana, kamu kawin lebih belakangan dari orang lain tapi persiapanmu lebih matang, atau kamu menikah lebih cepat tanpa persiapan? Mudah-mudahan sih, kamu menikah lebih cepat DENGAN persiapan, ya.



(buat Iman, sorry baru diposting sekarang. Seharian tadi abis ngukur Jakarta)

Tidak ada komentar:

Pengikut