Bom Terus Berjoget
Emha Ainun Nadjib*
BOM meledak lagi. Kemudian meledak lagi. Masih meledak lagi. Dan jiwa-jiwa melayang, meninggalkan badan hangus pupus menjadi debu hitam. Kaki terpatah dari pangkalnya. Badan tercecer-cecer.
Di Marriott itu, bagai ledakan gunung. Bola api kiamat kecil. Asap membubung, menyebar, menyesakkan napas, sampai masuk mengotori darah, terselip di sela-sela antara daging dan tulang. Gumpalan kegelapan menebal bersemayam di lubuk nurani setiap orang, dan ia belum akan menipis sesudah 100 tahun. Kepala kita terpilin dan akal pikiran kita terbatuk-batuk, muntah, memuntahkan ketidakmengertian.
Nyawa-nyawa pergi kebingungan. Yang ditinggalkan meraung-raung. Air mata mengucur menciprat-ciprat. Kemanusiaan dihina. Demokrasi ditampar. Cinta ditikam. Akal sehat dicabik-cabik. Dan Indonesia Raya terjerembap lagi.
Kita marah, kita mengutuk. Rasanya hati kita ingin melompati hukum. Kalau pelaku pemboman itu ada di depan kita sekarang, rasanya hanya dengan langsung membunuhnya maka baru sepadan untuk kekeruhan jiwa yang ditimbulkan oleh ulahnya. Dalam sebuah acara dialog tentang bom Marriott, seorang pemirsa menelepon dengan emosi tinggi: ''Pak Polisi, kalau pelakunya tertangkap, langsung dimatikan saja, tak usah pengadilan segala.''
Tentu saja, kesehatan akal hukum kita tidak menyetujui emosi itu, tetapi rasanya memang demikian juga kata-kata yang muncul dari kedalaman kalbu kita.
***
KITA. Siapakah sebenarnya ''kita''? Siapa sajakah kita? Kalau yang mengutuk pemboman adalah kita, lantas pastikah yang melakukan pemboman bukan kita? Melainkan mereka? Bagaimana menjamin keadilan proses hukum untuk mengidentifikasi mereka di tengah-tengah kita?
Apa landasan siapa pun untuk percaya bahwa --saya, misalnya-- tidak termasuk di antara mereka yang terlibat dalam pemboman? Siapa yang bisa menghalangi dalang pemboman untuk juga mengumumkan kutukan atas terjadinya pemboman?
Jadi, di mana garis batas ''kita'' sesungguhnya? Kita seluruh bangsa Indonesia? Kita umat manusia sedunia? Kita kelas-kelas? Segmen dan strata? Kita politik kiri dan kanan? Kita pusat dan pinggiran? Kita gajah atau kita pelanduk? Bisakah kita menghitung jumlah muatan di dalam kita?
Kita Amerika Serikat atau kita Irak? Kita Tony Blair atau kita BBC? Kita Howard atau kita Syafi'i Ma'arif dan Hasyim Muzadi? Kita Manimaren dan Sukhoi atau kita seberangnya? Kita koalisi kekuatan sekuler 2004 atau kita kumpulan parpol agama? Kita TNI atau kita Polri? Kita TNI-ini atau TNI-itu? Kita Polri-sini atau Polri-sana?
Kita kemapanan proyek atau kita kejujuran politik? Peta apa yang terkandung dalam frame kita? Apa yang menjadi sumber pemetaan di antara kita? Kepentingan golongan-golongan dalam kehidupan bernegara? Ke-aku-an antarkaum pemeluk agama? Satuan-satuan pamrih yang bertentangan di dalam percaturan kekuasaan yang sedang dan akan berlangsung? Atau konstelasi politik mondial yang dibentuk oleh dendam-dendam sejarah pada skala panjang?
Apakah kita ini satu pihak? Ataukah kita begitu ragamnya, sehingga --ketahuan atau tidak-- ternyata sesungguhnya pelaku pemboman, inisiatornya, sponsornya, dalangnya, adalah bagian dari kita? Kalau para penegak hukum menyatakan bahwa ''A'' bersalah, lembaga apakah yang berkewenangan dan berkekuatan nyata untuk mengontrol kemungkinan ''A'' tak bersalah serta membuka pintu hukum lebih luas dan mendalam menuju kemungkinan bersalahnya ''B'', ''C'', bahkan kemungkinan bersalahnya sebagian di antara pemroses hukum sendiri?
Apalagi di era yang segala sesuatunya sebegini sophisticated dan complicated --alias: sebegini gampang menyembunyikan kejahatan. Di dalam sistem hukum yang lemah, yang tidak mandiri dari konteks-konteks politik, adalah pekerjaan mudah untuk menyembunyikan kejahatan di balik topeng wajah yang dicat dengan warna indah kemuliaan dan kebenaran.
***
PELAKU pemberantasan narkoba justru sangat strategis untuk menjadi bandar narkoba. Pengontrol judi justru amat berpeluang memperoleh hasil terbanyak dari omset setiap perjudian. Sekadar di sebuah desa, para penduduknya tak punya peluang untuk tahu apa yang dilakukan oleh lurah dan cariknya di dalam jaringan sindikasi kejahatan sistemik lokal yang menjahati rakyatnya.
Umat tidak sedikit pun tahu kualitas dan integritas kepribadian ulamanya. Para pemilih terus memilih meskipun tidak pernah punya pengetahuan tentang siapa sesungguhnya yang mereka pilih. Serta tak pernah ada inisiatif pemberdayaan dari pihak mana pun untuk mengubah ketidaktahuan itu. Bahkan proses transparansi reformasi dengan segala omong besarnya tentang penegakan hukum tidak bisa dijumpai padanya satu lubang sekecil apa pun untuk menelusuri siapa pembunuh Udin wartawan Bernas, Yogya, sekian tahun lalu. Pun jangan lupa: Marsinah yang legendaris.
Maka, atas dasar wacana apa seseorang, atau 210 juta orang, hendak mempercayai atau tak mempercayai bahwa Amrozi dan teman-temannya adalah pelaku pemboman Bali yang menggegerkan dunia? ''Demona Micronuclear'', inisial bom hantu pembunuh ratusan orang yang para pakar bom membungkam mulutnya sesudah melakukan penelitian di lapangan?
Beberapa hari sesudah meledaknya bom Bali itu, dua malam saya begadang di lokasinya, dekat lubang tanah di pusat ledakannya, mengobrol dengan para pecalang --dan sudah mulai tercium ''bau Amrozi''. Alangkah dahsyatnya kekuatan umat Islam di dunia ini! Sekadar sebuah pesantren kecil tak terkenal di pinggiran Lamongan sanggup menghasilkan juru bom yang kualitasnya hanya bisa ditandingi kader-kader CIA, Mossad, atau jaringan profesional internasional para ''penggemar senjata'' yang malang melintang ''mengentuti'' bumi namun keberadaannya melebihi siluman turunan setan mana pun.
Itu baru Amrozi dan Lamongan. Belum Jombang: jangan-jangan di antara sekian ribu murid Gus Dur di Pesantren Denanyar, Tebuireng, Rejoso, atau Tambakberas, tak sedikit yang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Amrozi; namun pasti kelas kemampuannya berlipat-lipat. Cukup Jawa Timur saja sudah membuat Amerika Serikat keder habis.
Belum lagi tragedi 11 September yang mengubah sejarah dunia itu. Para pelakunya pasti orang yang sangat paham Al-Quran. Yang konon merancang hari-H penghancuran gedung itu berdasarkan surah At-Taubah, surah kesembilan, yang jumlah kata-katanya 2.001. Yang sengaja mencari gedung bertingkat 109, di juz ke-11, karena pada ayat ke-109 itu Tuhan berfirman tentang dua macam gedung: gedung yang didirikan atas dasar takwa serta gedung yang didirikan di sisi jurang, yang runtuh bersama orang-orang yang terperosok ke dalam api neraka. Yang di ayat 109 itu pula jurang yang memerosokkan disebut ''Jurf Harr''. Jerf Harr St.
Bagaimana mungkin kita tahu apa sebenarnya 11-9-2001 itu? Siapa nama pilot pesawat penabrak itu? Di mana mereka berlatih sehingga pilot F-16 pun terkagum-kagum padanya? Osama bin Laden banditnya? Di mana ia sekarang? Alangkah hebatnya dia sehingga tak tersentuh oleh tangan Amerika yang sudah menyentuh bulan dan planet Mars? Apakah ia Si Buta dari Gua Hantu?
***
TETAPI, sekurangnya ada tiga hal yang mendekati pasti dan kita semua tahu agak persis.
Pertama, tidak ada tragedi sengeri apa pun, tidak ada bencana sedahsyat apa pun, tidak ada gempa bumi dan gunung meletus --tidak juga bom Bali dan Marriott-- yang sanggup mengetuk hati para pemimpin bangsa Indonesia untuk saling menyapa dan berkumpul. Baik yang presiden, yang mantan presiden, yang calon presiden, yang politisi, yang begawan, yang militer, yang resi, yang pemuka agama, yang ilmuwan, atau siapa saja, juga yang bukan siapa-siapa: ''Yuk, kita orang-orang tua duduk melingkar.''
Keadaan bangsa dan negara kita sudah sedemikian parahnya. Kali ini, hingga nanti waktu yang layak, sudah tak ada kepantasan lagi untuk terus bersibuk mempertentangkan kepentingan antarkelompok kita. Sudah terlalu memalukan untuk suntuk mempersaingkan ambisi kita. Sudah terlalu hina untuk terus berkonsentrasi pada keuntungan-keuntungan sepihak. Hari ini juga kita harus berunding, melakukan rekapitulasi nasional, memulai kembali satu perjalanan kebangsaan. Musuh kita bersama tak kurang-kurang kuatnya, yang dari luar dan di dalam diri kita semua.
Kedua, juga tak ada bom atau gunung meletus yang mampu membuat kita bersikap mawas terhadap diri sendiri. Bom demi bom itu adalah kenyataan yang sangat menghancurkan. Dan terhadap kenyataan itu, kita selalu melayaninya dengan tiga jenis sikap, yang pada hakikatnya pasti akan memperpanjang, memperlebar, dan mempersubur potensi pemboman-pemboman lagi.
Yakni dengan prasangka, hingga ke taraf fitnah subjektif, dan sangat kerasan berkepanjangan dalam atmosfer itu. Kemudian dengan sikap antidielaktika: peristiwa pemboman selalu dilihat sebagai satu penggalan kasus yang berdiri sendiri.
Pemboman dilihat hanya sebagai sebab, dan sama sekali tidak sebagai akibat. Padahal, bom hanya satu titik dalam suatu peta berangkai: ia bisa terkait dengan soal hegemoni politik, perlindungan lahan dagang, dendam terhadap ketidakadilan, dan macam-macam lagi. Orang sakit korengan hanya sibuk cari zalf pengoles koreng dan tidak berpikir tentang mengubah pola makanan atau cara hidup yang lebih menyeluruh. Jadi, tinggal tunggu koreng berikutnya dan berikutnya.
Kemudian ketiga, sikap keterjajahan. Sebagaimana diambil dan direbut kembalinya Timor Timur, cara perekonomian nasional memaknai perlunya utang, disinformasi dan kecurangan melihat masalah Ambon dan Poso, serta berbagai kuman nasional kita, penanganan soal bom-bom selama ini tidak akan pernah bisa meyakinkan siapa pun secara tuntas bahwa ia tidak terkait dengan intervensi dan transaksi dengan pihak non-Indonesia.
Atas semua itu, terpikir oleh saya untuk memberi saran kepada Kapolri Da'i Bachtiar: kalau memang jelas itu semua pokal JI, kalau memang sudah menjadi pandangan baku bahwa toh sumber segala malapetaka ini adalah bahwa Islam itu agama terorisme, kenapa tidak mengupayakan proses menuju perundang-undangan untuk tegas menyatakan bahwa Islam adalah agama terlarang di bumi Nusantara?
Dan akhirnya, last but not least: berapa kali pun bom meledak, kita terus berjoget. Ikon kebudayaan mutakhir kita adalah joget. Itu entertainment bagi yang menyukainya, di lain sisi ia merupakan suatu jenis kekerasan psikologis bagi yang hatinya tak sanggup.
* Budayawan
Dikutip dari Majalah GATRA,
edisi 39
Sabtu, 09 Agustus 2003
Jumat, 08 Agustus 2003
Dua hari lalu ada bom di Marriott. Bom besar, menewaskan sekitar 15 orang, melukai 120 orang, merusak perekonomian dan mood satu negara. Orang bertanya-tanya, siapa pelakunya. Saya bertanya-tanya, apa si pelaku mau mengaku kenapa?
Yang pasti, JI jadi pihak yang paling dituding. Herannya, kalau JI memang dituduh biang masalah, kenapa gak dituntasin sekalian sih? Saya jadi setuju sama Bung Emha (yang tulisannya sekarang makin mateng ajah!) dalam Kolom di Gatra, kalau memang Islam dianggap sebagai agama bermasalah, kenapa tidak sekalian saja dilarang. Jadi, di Indonesia, tidak boleh ada warganya yang memeluk agama Islam. Setuju?
Yang pasti, JI jadi pihak yang paling dituding. Herannya, kalau JI memang dituduh biang masalah, kenapa gak dituntasin sekalian sih? Saya jadi setuju sama Bung Emha (yang tulisannya sekarang makin mateng ajah!) dalam Kolom di Gatra, kalau memang Islam dianggap sebagai agama bermasalah, kenapa tidak sekalian saja dilarang. Jadi, di Indonesia, tidak boleh ada warganya yang memeluk agama Islam. Setuju?
Hmmmh......
Kerja itu memang melelahkan. Apalagi kerja dengan kesadaran penuh bahwa kita sulit kaya.
Kerja itu memang melelahkan. Apalagi kerja dengan kesadaran penuh bahwa kita sulit kaya.
Langganan:
Postingan (Atom)