Boks 1:
MENCIPTA SI GILA BUKU
TION dan Abdul Hakim sedari awal memang penggila buku. Dan dengan ‘gila’, mereka ingin menularkan kegilaan itu. Bengkel Buku Gerak-Gerik lahir dengan konsep unik. Terletak di Ciputat, bertetangga dengan kampus IAIN Syarif Hidayatullah, mereka menerapkan sistem membership. Sebetulnya, jadi member di situ nggak susah. “...(B)ayar Rp. 5000, udah,” kata Tion. “Mau dia itu PKI, mau dia apa, kek, nggak ‘ngaruh....Cukup Rp. 5000, buat seumur hidup.”
Gaya Tion memang begitu, slenge’an. Cocok dengan tugasnya yang lebih banyak membuka pasar. Nama Gerak-Gerik sendiri sesuai dengan konsep yang ada di kepala Tion: gerakan buku. Jualan buku hanyalah sarana, untuk memperluas akses buku bagi sebanyak mungkin orang.
Gerakan itu bergulir dari toko buku yang alit banget jika dibanding toko buku Gramedia: hanya rumah bekas cafe bangkrut, yang dikontrak dengan ngos-ngosan oleh Tion dan Abdul Hakim. Wartawan Koranku diterima di ruangan 4X3 meter, di tengah 7 susunan rak buku yang mencakup buku-buku bestsellers, psikologi, filsafat, agama, sastra, plus majalah dan buku-buku bekas (yang bisa seharga Rp. 500-an).
Co-founder Gerak-Gerik, Abdul Hakim, beda tampilan dengan Tion. Abdul Hakim rapi, dan gayanya lebih nge-dosen. Tugasnya lebih banyak merancang program acara untuk meramaikan Gerak-Gerik. Toko buku alternatif ini pernah mendatangkan Pramudya Ananta Toer—satu-satunya pengarang kita yang dicalonkan dapat Nobel, dan kenyang dipenjara sejak jaman Belanda sampai jaman Soeharto.
Tion berteori bahwa bisnis beginian harus melalui tiga tahap. Pertama, tahap merintis—yakni dengan militan membangun jaringan. Tahap kedua, mempertahan jaringan itu dan menjaga amanah. Tahap ketiga, barulah ambil keuntungan. Menurutnya, sekarang Gerak-Gerik baru di tahap merintis. Keuntungannya sekarang bukan duit, tapi banyaknya pelanggan. Lagian, kata Tion, “gue kan mencipta orang-orang yang gila buku aja.”
Niat itu digenjot lagi dengan gebrakan bikin newsletter Skriptura, terbit bulanan. Isinya resensi berbagai buku yang terbit. Yang mengisi, para member Gerak-Gerik sendiri. Jadi, kata Abdul Hakim, sekalian melatih menulis juga. Banyak, memang, fasilitas yang ditawarkan bagi member di sini. Korting yang dinikmati member, misalnya, bisa sampai 30%.
Tiap hari toko ini buka. Karena pasarnya pelajar dan mahasiswa, jika liburan sering seret juga. Tapi pilihan buku dan suasana cinta buku rupanya memuaskan pengunjung. Toni, anak FISIP Universitas Nasional, datang ke sini karena pilihan buku yang jarang ada di toko buku. Bahkan nggak ada juga di pasar loak buku Senen. Juga karena lebih murah dari toko buku. Siti Muniroh, lulusan IAIN Jakarta, merasa pilihan buku yang ada di sini “satu selera” dan pas.
Mungkin, bagi kita-kita yang belum kuliah, sekilas kagok juga mampir ke sini. Tapi lama-lama sih enak, kok.*** (written by Hikmat Darmawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar