Kamis, 17 Juni 2004

Link



Tau Friendster, kan? Di bawah ini tulisan saya soal situs yang lagi ngetren itu.



FRIENDSTER: Multilevel Friendmaking



Mau kenalan tapi malu. Pengin ketemu nggak punya waktu. Dengan Friendster, Dian Sastro pun jadi temanmu.



JANGAN ngaku gaul deh kalo nggak tahu Friendster. Waduh! Friendster itu sama sekali nggak ada hubungannya sama lobster. Friendster itu nama situs komunitas gratisan yang sekarang lagi ngetren banget di Jakarta. Saking ngetrennya, ada lho bar yang khusus bikin acara untuk anggota situs itu.



Sebetulnya, demam Friendster di Jakarta ini termasuk terlambat. Sebab, teman-teman kita di Amrik udah keranjingan situs ini sejak pertengahan tahun lalu. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah diluncurkan, situs untuk pertemanan online ini berhasil menggaet 300.000 pengguna. Setiap minggu, pengguna situs ini terus bertambah 20%.



Jonathan Abrams, Chief Executive Officer situs ini, melemparkan friendster.com ke publik pada Maret 2002. Ia sendiri tak mengira sambutan publik bakal segila itu. Soalnya, komunitas online yang menghubungkan orang-orang lewat jaringan bukan barang baru. Sebelumnya sudah ada sixdegrees.com, ryze.org, LinkedIn.com, atau ecademy.com. Lalu apa yang membuat Friendster berbeda?



Menurut seorang pengamat software sosial, Ross Mayfield, kelebihan Friendster adalah prinsip Friend of a Friend-nya. Friendster bisa menghubungkan orang hanya dengan mengklik gambar teman dari teman kita. Semakin banyak kita punya teman di lapis pertama, maka semakin banyak pula jaringan teman kita di lapis kedua. Lagi pula, menjadi anggota Friendster tidak rumit. Cukup berbekal alamat e-mail dan kata kunci, kamu berhak bikin profil di situ.



Kelebihan lainnya, kita bisa langsung lihat profil anggotanya. “Daripada e-mail, Friendster lebih enak karena ada gambarnya,” kata Anisah Ayuda Putri kepada Auliana dari KORANKU. Puput, demikian siswi kelas 2 SMUN 46 Jakarta ini biasa dipanggil, ikutan Friendster sejak Januari 2004. Pertama kali gabung, dia hanya punya dua teman. Sekarang, “Yah, udah dapat 18 teman baru deh,” ia menjawab.





MENGGAET TEMAN BARU



Menambah teman memang alasan utama orang gabung ke situs ini. Itu juga yang jadi cita-cita pencipta situs yang sekarang beranggotakan lebih dari sejuta orang. Makanya, di situs itu ada menu “gallery”. Di galeri, kita bisa lihat profil temannya teman kita. Kalau cocok, kita bisa langsung “add as a friend”. Memang, situs ini bekerja atas dasar teori “six degrees of separation” (lihat: Dunia (tidak) Selebar Daun Kelor?). Jadi, kita menambah teman lewat jaringan teman.



Kamu juga bisa cari teman berdasarkan lokasi. Dengan begitu, kamu bias dapat teman dari berbagai negara. Contohnya teman kita Farah ….. dari SMU 55, Jakarta. Siswi kelas 3 ini pertama kali kenal Friendster pada November 2003, dari saudara di Singapura. Sekarang, di friends list-nya ada 115 teman dari berbagai negara.



Misalnya kamu baru punya empat teman tapi teman-teman mereka nggak ada yang asik, jangan menyerah. Kamu bisa cari teman lewat menu “user search”. Di sini, kamu bisa cari teman TK yang pernah kamu taksir, mantan gebetan waktu SMP, atau sesama penggemar manga. Pokoknya, tinggal ketik kata kuncinya dan Friendster akan mencari profilnya.



Masalahnya, belum tentu teman asik itu ada di jaringan kamu. Kamu kan hanya bisa menambah teman dari jaringan yang sama. Eits, tetap bisa dong. Kirim aja pesan pengin kenalan lewat menu “Send a message”. Tulis aja kamu mau kenalan sama orang itu, trus kasih alamat e-mail kamu biar mereka bisa meng-add kamu as their friend. Gampang!





TESTIMONIAL, BENER NGGAK YA?



Satu hal yang menarik dari Friendster adalah menu “testimonial”. Apa lagi tuh? Ini adalah kesaksian kamu tentang sohibmu, atau sebaliknya. Kalo kamu punya teman yang unik, jangan ragu kasih pendapat kamu tentang dia. Pendapat kamu ini bisa jadi rekomendasi buat orang-orang yang membaca profil temanmu.



Sebaliknya, kamu jangan ragu minta testimonial yang jujur dari temanmu. Kalo pendapat temanmu bagus dan bisa “menjual”, kamu tinggal “approve”. Maka, pendapat temanmu itu bakal terpampang di profilmu. Kalo kesaksian dari temanmu cenderung negatif, jangan marah. Kamu simpan sendiri aja pendapat itu buat bahan introspeksi.



Memang nggak semua orang senang dengan menu testimonial ini. Banyak yang bilang menu ini rada corny, alias dibuat-buat. Douglas Wolk, misalnya. Pengamat gaya hidup dan penulis buku James Brown live at Apollo ini bilang, “Testimonial cuma sarana melambungkan ego penggunanya.” Nah lho.





FRIENDSTER VS “FAKESTER:



Nggak jarang, profil yang ada di Friendster itu palsu. Nggak percaya? Coba aja cari aja profil Dian Sastro. Kamu bisa menemukan empat profil Dian Sastro di situs ini. Semuanya memuat gambar artis yang sama, hanya posenya yang beda. Ada lagi profil yang bernama lembaga, misalnya nama sekolah, restoran, atau nama jalan. Yang lebih gila, ada lho yang bikin profil “God” atau “Almighty God”. Profil macam begini, oleh Jon Abrams, dijuluki “fakester” alias pemalsu.



Jon sebel banget sama profil-profil fakester ini. Soalnya itu merusak bayangan awal Jon tentang Friendster, yaitu tempat berkenalan dengan orang lain lewat teman sendiri seperti di kehidupan nyata. Lagi pula, menurut dia, pemasangan foto orang lain tanpa izin bisa dikategorikan pembajakan hak cipta. Akhirnya, September tahun lalu sang CEO mengancam: profil-profil fakester ini bakal dihapus tanpa pemberitahuan lebih dulu.



Mungkin kita bisa mengambil satu pelajaran penting dari sini: jangan terlalu percaya pada profil di internet. Sebaliknya, kita juga nggak perlu ngasih info terlalu mendetail tentang diri kita, seperti nomor telpon dan alamat. Kalo menurut Ibu Tuti Indrawati, psikolog dari……, “Dampak positif-negatif sesuatu tergantung dari kematangan orangnya. Hidup kan harus bisa membedakan mana yang serius, mana yang tidak.” Makanya, pilih-pilih dong.

1 komentar:

Anonymous mengatakan...

Saya salah satu pengguna friendster.
Akhir-akhir ini saya merasa ada yang aneh di profil saya.
Background saya terganti secara otomatis tanpa sepengetahuan saya.
Lalu, profil saya teracak-acak dan banyak kata yang tidak jelas.
Kenapa terjadi demikian??
Padahal jika saya melihat profil saya melalui friendster teman saya, profil saya masih bagus.
Tapi, apabila saya log in dengan nama saya, maka profil saya tampil jelek sekali.
Tolong bantu saya ya..
PLEASE

Pengikut