Kamis, 17 Juni 2004

Komunitas-komunitas buku alternatif:

PARA PENCINTA KERAS KEPALA



Komunitas-komunitas buku sedang menjamur.Berjuang di tengah dunia buku yang berantakan.



NAMA akrabnya Tion —bunyinya mirip dengan nama dalam sebuah cerpen dari Jose Luis Borges, sastrawan Argentina, berjudul Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Walau sedang teler alias nggak enak badan, ia berapi-api menceritakan toko bukunya, Bengkel Buku Gerak-Gerik. “Karena gue sadar ... gak punya duit, maka gue harus militan ...” Tion, kependekan dari Ikhwan Nasution, membeber gimana dia harus aktif membangun pasar dan jualan buku ke mana-mana. Kalau perlu, sampai ngelapak-lapak segala: menggelar alas terpal dan buku-buku, berjualan di manapun ia bisa.



Tadinya, Tion memang mengawali ‘karir’ sebagai pedagang buku keliling. Utamanya sih, keliling di acara-acara para aktivis kayak diskusi, seminar, pertemuan LSM, dan sebagainya. Tahun ..., Tion ketemu Abdul Hakim yang aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Mereka ngobrol: Tion punya ide bikin toko buku, Abdul Hakim punya bahan intelektual dan modal duit. Jadilah, dengan modal cekak, mereka nekad membuka toko buku alternatif Gerak-Gerik di sebelah IAIN Ciputat. Gimana nggak nekad: sewa tempat saja, aslinya Rp. 6 juta, mesti mereka cicil karena mereka cuma sanggup bayar Rp. 2 juta!



Yang “alternatif” dari Gerak-Gerik adalah pilihan bukunya dan juga cara jualannya (Lihat: Mencipta Si Gila Buku). Dari segi pilihan buku, mereka menjual banyak judul yang nggak gampang kita temuin di toko buku gede kayak Gramedia atau Gunung Agung. Soalnya, mereka dapat asupan buku dari penerbit-penerbit kecil. Para penerbit kecil itu memang sering nggak sanggup masukin buku ke toko-toko buku besar. Padahal seringkali judul-judul buku mereka sangat menarik. Khususnya buku-buku filsafat dan sastra, yang entah kenapa sejak era Reformasi semakin mencuat.



Dari segi cara jualan, Gerak-Gerik juga unik. Mereka menerapkan sistem diskon yang lumayan gede (10-40% untuk buku-buku baru). Lebih unik lagi, mereka menerapkan sistem member. Di samping secara militan aktif menyerbu pasar, dengan ngelapak-lapak seperti kata Tion tadi. Jadi, cara kerja mereka sih udah kayak sistem Books Club di Amrik atau Eropa Barat.



Kalau di Amrik dan Eropa Barat, jaringan klub buku jadi salah satu alternatif pemasaran yang kuat juga. Mereka memberi diskon besar untuk buku-buku laris. Mereka juga biasa jadi salah satu sumber paling kuat untuk menyumbang angka dalam daftar bestsellers buku di sana. Jadi, kalau misalnya kita baca “Harry Potter and The Order of Phoenix” duduk di tangga pertama best sellers, maka sumbangan jalur distribusi jaringan klub buku di sana penting juga.



Beda dengan di sini. Salah satu jalur klub buku yang lumayan kuat adalah yang dibikin oleh grup penerbitan paling raksasa di negeri ini: kelompok penerbit Gramedia. Sifatnya eksklusif untuk buku-buku terbitan grup ini saja, dan berfungsi kayak direct selling dengan korting nggak seberapa. Sementara yang di jalur alternatif macam Gerak-Gerik, kondisinya lumayan ‘compang-camping’. Kondisinya masih coba-coba, dan betul-betul bersifat membangun “komunitas buku”.



Dalam sebuah komunitas buku, suasana yang tergalang masih berupa semangat kebersamaan: sama-sama senang buku, sama-sama membangkitkan cinta pada buku, sama-sama untung kecil. Tapi rupanya model komunitas ini menarik juga. Soalnya, sekarang komunitas-komunitas buku tumbuh di mana-mana. Ada Rumah Dunia (?) di Tangerang, yang dibuat oleh Gola Gong dan kawan-kawan. Ada Rumah Buku (?) dan Toko Buku Kecil (Tobucil) di Bandung. Juga Komunitas Pasar Buku Indonesia di Kebon Jeruk, yang juga menghimpun aktivis gerakan Indonesia Membaca dan gerakan 1001 Buku. Dan banyak lagi.



Sebagian sekaligus jadi toko buku alternatif, kayak Gerak-Gerik dan Tobucil. Sebagian besar lainnya lebih suka jadi semacam taman bacaan, atau sekadar tempat ‘kumpul bocah’. Yang sama adalah suasana cinta buku yang ditumbuhkan di tempat-tempat alternatif itu. Yang terasa banget di komunitas-komunitas itu adalah semangat cinta buku mereka. Pokoknya, “perjuangan” banget deh. Asyik rasanya ngumpul di tempat ngumpulnya para—meminjam istilah Goenawan Mohamad, penyair senior kita—“pencinta keras kepala” itu. Cinta kayak ginian kan asyiknya, dan harusnya, bisa ditularkan dan dinikmati sama-sama.



Soal semangat, gimana nggak harus “berjuang” atau “militan”—situasi buku kita kan amburadul banget? Nggak usahlah kita bandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, atau Jepang yang nggak pernah heran kalau ada buku yang terjual sampai sejuta kopi (kayak kaset lagu pop). Coba bandingin kondisi buku Indonesia sama tetangga kita, Malaysia.



Untuk tahun 2000, untuk penduduk Indonesia yang 203 juta orang, buku yang keluar per tahun hanyalah 2000 judul. Sedang di Malaysia, dengan penduduk cuma 21 juta jiwa, produksi bukunya mencapai 15.000 judul per tahun. Mestinya sih, kita malu, ya?



Lebih malu lagi kalau ada yang ogah senang buku karena beralasan, “habis buku mahal sih!” Taruhlah buku mahal kayak Harry Potter atau Musashi—harganya Rp. 100-150 ribu. Tapi bisa di-‘makan’ seumur hidup. Dibanding, misalnya, makan di MacDonald (yang nggak pernah sepi) yang bisa habis Rp. 20-50 ribu setiap minggu, misalnya, tapi cuma habis dimakan sekali dan sesudah beberapa jam keluar lagi.



Jika bangsa kita belum mencintai buku, banyak sebab yang bisa dituding: mahalnya harga buku, mahalnya distribusi, mahalnya pajak buku, pendidikan, de-es-be. Tapi kalau melihat tumbuhnya komunitas-komunitas buku yang militan sekarang ini, rasanya bisa deh kita optimis.***

(written by Hikmat Darmawan

Tidak ada komentar:

Pengikut