MENEMBUS JANTUNG BALI
SENYUM mengembang di bibir Sitor Situmorang, Selasa malam pekan lalu.
Bertepatan dengan ulang tahunnya ke-77, penyair kelahiran Harianboho, Sumatera Utara, itu mendapat kado istimewa. Kumpulan puisinya, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan mendekam di laci hampir seperempat abad, malam itu diluncurkan: The Rites of Bali Aga.
Peluncuran buku terbitan Metafor Publishing itu dilakukan di QB, toko buku papan atas di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Metafor mendesain acara itu sekaligus sebagai pesta ulang tahun kejutan untuk sastrawan "sepanjang zaman" ini. Di ujung acara, sebuah kue tar cokelat dengan tujuh batang lilin
disuguhkan kepada Sitor untuk dipotong.
Oleh Sitor, potongan pertama diserahkan kepada istrinya, Barbara Brouwer. Setelah itu, Sitor mendapat hadiah lukisan dari Paul Husner, pelukis kelahiran Swiss, yang memberi ilustrasi pada The Rites. Mengomentari keterlambatan penerbitan kumpulan ini, Sitor malah melempar pertanyaan, "Dulu itu siapa yang mau membaca karya berbahasa Inggris?"
Beberapa sajak dalam kumpulan ini pernah dimuat oleh Indonesia, jurnal terbitan Universitas Cornell, Amerika. Lalu mengapa gerangan Sitor menulis dalam bahasa Inggris? Pada masa itu, medio 1970-an, rupanya Sitor akrab bergaul dengan para hippies. "Saya seperti dibimbing merekam pikiran para hippies itu dalam bahasa mereka," katanya kepada Gatra.
Tapi, "Rasanya itulah kali pertama dan terakhir saya menulis dalam bahasa Inggris," ia menambahkan. The Rites ditulis pada September 1978, tiga tahun setelah Sitor keluar dari tahanan rezim Orde Baru. Delapan tahun ia diterungku --tanpa pernah disidangkan. Tuduhannya pun tak jelas, kecuali Sitor dianggap pengikut Bung Karno.
Bali Aga adalah sebutan untuk penduduk Bali asli yang tergusur saat terjadi arus migrasi penduduk Majapahit ketika kerajaan itu runtuh. Penduduk asli ini kemudian membentuk komunitas khusus untuk mempertahankan tradisi turun-temurun mereka. Kini, mereka tinggal di kawasan Trunyan dan Tenganan. Spirit inilah yang kemudian dituangkan Sitor dalam The Rites.
Unsur tradisional ini, menurut Harry Aveling -pengamat sastra Indonesia dari La Trobe University, Melbourne, Australia- mencerminkan kereligiusan Sitor, yang mampu menembus jantung Bali. Sitor memang dekat dengan "dunia lama". Putra Ompu Babiat Situmorang, tokoh yang sangat dekat dengan Raja Sisingamangaraja XII, ini juga beberapa kali menjalani ritual adat.
Gara-gara itulah, beberapa penyair sempat menduga Sitor telah masuk ke dunia mistik. Padahal, kata Sitor, dia melakoni hal tersebut layaknya menjalani sebuah happening. Meski begitu, seperti diakui Sitor dalam Sitor Situmorang, Seorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba, dunia lama itu seolah
selalu menuntut dihidupkan dalam karya-karyanya sebagai penyelesaian atas masa lalu.
Jauh sebelum menulis The Rites, nama Sitor Situmorang sebagai penyair telah menjulang. Karya-karyanya dibicarakan di mana-mana dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Karya-karyanya, antara lain Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak,Jalan Mutiara, dan Wajah Tak Bernama, merupakan tonggak dalam susastra Indonesia modern.
Seorang pengamat Barat pernah mengatakan, di dalam diri Sitor bertemu yang purba dan yang baru dari negerinya. Pada masa awal kepenyairannya, misalnya, Sitor bisa berangkat dari bentuk pantun yang dicerahkan ke dalam situasi aktual. Tapi, tiba-tiba dia juga mengejutkan dengan puisinya yang paling kontroversial: malam lebaran/bulan di atas kuburan. Atau ini: bunga di atas
batu/dibakar sepi....
Harry Aveling membandingkan kekuatan bertutur Sitor dengan seorang penyair klasik Amerika, Walt Whitman. Muhammad Haji Saleh, sastrawan Malasyia, menyebut sajak-sajak Sitor seperti lagu. Dengan jejak panjang itu, pada 1981 dia ditawari mengajar bahasa Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Sejak saat itu, Sitor melanglang buana (lagi) ke berbagai tempat di Bariba -"bumi di balik sana" dalam bahasa Batak.
Sebelum pulang ke Indonesia, dia mukim di Paris, yang sering dianggap sebagai jantung peradaban Eropa. Pada pertengahan 2001, Sitor kembali tinggal di Indonesia. Sama seperti dulu, untuk urusan menulis, gairahnya tetap menyala-nyala. "Di mana pun, saya akan tetap menulis," kata Sitor, sambil menyebutkan bahwa masih ada empat naskahnya yang siap cetak.
mariana ariestyawati (Gatra)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar