TEEN LIT BUKAN (HANYA) BUAT CEWEK
MASIH ingat nggak sama film Eiffel I’m in Love? Jangan-jangan, kamu satu di antara yang kepincut sama Samuel Rizal dan Shandy Aulia karena film itu. Film itu memang seru banget. Tahu nggak, film itu diangkat dari novel karya Rachmania Arunita yang berjudul sama. Novel yang terbit pertama kali tahun 2002 ini, sekarang, sudah dicetak sampai lima kali! Laris banget kan?
Larisnya buku ini bikin banyak orang senang. Itu berarti, anak-anak sekarang mulai rajin baca. Maklum, selama ini minat baca remaja Indonesia dinilai rendah. Padahal, kita mungkin bukannya malas membaca buku. Cuma, bacaan yang ada nggak terlalu menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Ingin juga dong, membaca cerita-cerita yang mirip dengan pengalaman kita sendiri. Bacaan yang bikin kita bilang, “Wah, gue banget!”
Nah, keinginan ini mulai didengar tuh sama banyak penerbit buku. Mereka mulai sadar bahwa kita-kita butuh bacaan yang sesuai. Penerbit Gramedia, misalnya. Sejak awal 2004 ini menerbitkan lini baru, Teenlit namanya. Buku-buku yang masuk kategori ini antara lain: The Sisterhood of the Traveling Pants, What My Mom Doesn’t Know, atau karya anak bangsa; Dealova. Pokoknya, di sampul-sampul buku itu tertera stempel berbunyi : “Teenlit, speaks your world!”
Buku-buku jenis ini dicirikan pula oleh desain cover warna-warni. Kalau kamu di toko buku, pasti bisa langsung menemukan buku jenis ini. Soalnya, warna covernya ngejreng banget. Selain cover, ciri lain buku jenis ini adalah tokoh utamanya gadis seusia kita. Cerita yang ditampilkan juga tidak terlalu njelimet. Yah, tentang teman di sekolah yang menyebalkan, cowok imut yang sedang kita taksir, atau tentang beda pendapat dengan orangtua.
Tampaknya, justru tema-tema keseharian itulah yang membuat buku jenis ini laris. Kita jadi tahu bahwa persoalan yang sering kita hadapi dialami juga oleh sebaya. Istilah keren para ahli sih, “Bisa mengidentifikasi diri.” Cara ini bisa membuat kita belajar dari pengalaman.
Sebetulnya, trend teen lit ini terjadi bukan baru belakangan ini saja. Sebelumnya sudah ada serial Princess Diaries karya Meg Cabot. Serial yang pertama kali terbit akhir 2000 ini, sekarang sudah mencapai sepuluh judul. Karena selama beberapa minggu serial ini nongkrong di urutan satu best seller, maka serial ini pun lalu difilmkan.
Jauh sebelumnya, di tahun 80-an, kita juga mengenal serial Gadis Badung atau Malory Towers. Kedua karya Enid Blyton ini, sebetulnya, punya tema serupa dengan teen lit yang sekarang sedang in. Keduanya mengisahkan tokoh-tokoh berusia 15-18 tahun. Problemnya juga sama; sekolah, persahabatan, dan cinta. Hanya saja saat itu belum ada istilah teen lit.
Istilah teen lit memang agak rancu dengan young adult. By definition, keduanya serupa. Ditujukan untuk pembaca usia 14-18 tahun, laki-laki atau perempuan. Baru belakangan istilah teen lit menyempit jadi (sepertinya) khusus untuk gadis. Ini berkat jasa novel Bridget Jones (Helen Fielding) yang spektakuler pada tahun 1996. Novel-novel jenis ini kemudian disebut “chick lit”, ditujukan buat pembaca perempuan usia 20-30 an. Nah, untuk “adik”-nya disebutlah istilah teen lit. Diambil dari kata “teenager”.
Di Barat sendiri, istilah teen lit masih sering disamakan dengan young adult. Tergantung istilah penerbit. Soalnya mereka percaya, pembaca remaja mereka cukup terbuka dalam hal bacaan. Artinya, nggak salah kok kalau cowok ikutan baca Princess Diaries. Sebaliknya, cewek kan banyak juga yang suka sama Harry Potter atau serial The Unfortunate Events.
Memang, pengotak-ngotakkan bacaan cewek dan cowok malah sering menyempitkan pilihan. Masak hanya karena ada stempel teenlit di sampul, cowok-cowok ogah baca. Padahal kan, membaca itu juga sebentuk hiburan di samping mencari ilmu. Siapa tahu, dengan membaca buku ini cowok jadi bisa lebih memahami cewek sebayanya. Atau sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar