The Weeping Wedding (again *0*??!)
Waarom klink ik zo pathetisch? Het klinkt dat ik tegen
huwelijk ben. Het is natuurlijk niet zo. Het was,
misschien, de meeste huwelijken ik heb bezocht waren geen
"cinderella-kind-of wedding".
Weddings are supposed to be fun. Says who? My wedding wasn't fun. It was flood. Yeah yeah, it's my problem, anyway. Nope, it wasn't the same. So, here begins the story.
Last Sunday, June 27, was supposed to be a wonderful day for my best friend, Rini. Finally, her journey with her beloved one ended in a "one-fine-day". At least, that's what she believes so. But frankly speaking, I don't!
It's not that I don't believe in marriage. I do. I just don't believe that marriage is a slam-dunk-solution. It's not the end of your problems. It can even be your beginning to more problems.
Marriage forces you to do something you might don't want to do, because it's all about compromising. It's about fair trade; I give you all I have for I'll get all you have. In Indonesia, it's even more complicated. It's not only you and him/her. It's your family against his/hers.
When it comes to family, things won't get easier. Your father wants this but his mother doesn't. Your mother loves this, but her father hates it. Daarom heb je een wedding planner nodig. So you won't miss anything on the day.
A wedding planner, that was what lacked on my best friend's wedding. So, on the d-day, everything got jumbled. She definitely took a nonchalant step. Their family get confused and disappointed --so was I, a bit. They thought that the bride/groom hasn't take the wedding --ergo: marriage-- seriously.
I didn't know whom to blame on and I don't think it's important. I just have some suspicion that neither the bride nor the groom wanted the wedding anyway. They just did it, because they thought that's what people had wanted them to do. They were trying to make people happy, at the expense of themselves.
Why bother? Dunno, maybe cause that was social life is all about. It just, I just, I just don't like the idea... I dunno. I just wanted to see my best friend happy on her wedding day. That's all.
Rabu, 30 Juni 2004
Kamis, 17 Juni 2004
Link
Naaah, kalo yang ini soal teori "six degrees of separation"-nya Milgram.
DUNIA (tidak) SELEBAR DAUN KELOR?
SETIAP ada berita tentang Friendster, dan situs online-network lainnya, kita hampir selalu membaca soal teori “six degrees of separation”. Teori ini selalu disebut-sebut sebagai dasar pembuatan situs berbasis jaringan. Jadi, situs tersebut berkembang oleh jaringan yang dibangun para anggotanya. Tapi, apa sih sebetulnya maksud teori ini?
Teori ini meyakini bahwa setiap orang di dunia terhubung satu sama lain. Paling jauh, cuma enam orang yang memisahkan kita dengan teman kita lainnya. Bahkan, kalo kita mau betulan cari, jangan-jangan cuma enam orang antara kita dan George Bush. Itu menurut kesimpulan seorang sosiolog Amrik bernama Stanley Milgram, lho!
Pada 1967, professor lulusan Harvard University, Amerika, ini bikin percobaan lewat surat. Dia meminta 300 relawan dari Omaha dan Nebraska untuk mengirimkan surat kepada alamat target di Boston. Dan mulailah relawan mencari koneksi untuk mencapai target yang diberikan peneliti kelahiran New York tahun 1933 itu.
Dari enam puluh rantai surat yang sampai, Milgram menyimpulkan bahwa rata-rata jumlah perantara di masing-masing rantai adalah enam orang. Karena itulah, hasil kesimpulan penelitian itu disebut “six degrees of separation”. Teori ini mengundang banyak reaksi, baik yang mendukung atau menolak. Sayang, Milgram meninggal pada 1984 tanpa pernah betul-betul membuktikan bahwa dunia itu memang kecil.
Pada 2002, peneliti dari Columbia University mencoba mengulang penelitian Milgram. Penelitian ini disebut sebagai Small World Research Project. Pemimpin penelitian ini, Dr. Duncan J. Watts, ingin menyempurnakan teori Milgram. “Yang kurang dari teorinya adalah jumlah partisipan yang tidak memuaskan secara statistik,” begitu kata Duncan kepada Wired.
Tim dari Columbia ini menggunakan internet untuk menjaring relawan. Lewat situsnya, eksperimen ini berhasil mengumpulkan lebih dari 60.000 orang dari 166 negara! Para peneliti lalu meminta responden mengirimkan e-mail kepada delapan belas orang target yang dipilih acak. Hasilnya? “Kebanyakan butuh lima hingga tujuh e-mail untuk sampai pada alamat target,” kata Duncan, pada Agustus 2003.
Selain Columbia University, ada pula penelitian oleh Ohio State University. Penelitian yang didanai oleh National Science Foundation ini disebut Electronic Small World Project. Menurut James Woody, sosiolog yang memimpin penelitian ini, proyeknya bertujuan mengidentifikasi peta sosial pada internet.
Pertanyaannya kemudian, apa sih manfaat hasil penelitian ini? Duncan berharap, proyeknya ini bisa membantu orang memahami taktik penyebaran virus lewat internet. Sedangkan Moody ingin membuktikan kalo hubungan lewat internet nggak memandang ras, kelamin, atau kelas ekonomi. “Bagi sebagian orang, e-mail membuat dunia jadi lebih sempit,” kata Moody. Kayaknya, Friendster juga punya efek yang sama deh!
Naaah, kalo yang ini soal teori "six degrees of separation"-nya Milgram.
DUNIA (tidak) SELEBAR DAUN KELOR?
SETIAP ada berita tentang Friendster, dan situs online-network lainnya, kita hampir selalu membaca soal teori “six degrees of separation”. Teori ini selalu disebut-sebut sebagai dasar pembuatan situs berbasis jaringan. Jadi, situs tersebut berkembang oleh jaringan yang dibangun para anggotanya. Tapi, apa sih sebetulnya maksud teori ini?
Teori ini meyakini bahwa setiap orang di dunia terhubung satu sama lain. Paling jauh, cuma enam orang yang memisahkan kita dengan teman kita lainnya. Bahkan, kalo kita mau betulan cari, jangan-jangan cuma enam orang antara kita dan George Bush. Itu menurut kesimpulan seorang sosiolog Amrik bernama Stanley Milgram, lho!
Pada 1967, professor lulusan Harvard University, Amerika, ini bikin percobaan lewat surat. Dia meminta 300 relawan dari Omaha dan Nebraska untuk mengirimkan surat kepada alamat target di Boston. Dan mulailah relawan mencari koneksi untuk mencapai target yang diberikan peneliti kelahiran New York tahun 1933 itu.
Dari enam puluh rantai surat yang sampai, Milgram menyimpulkan bahwa rata-rata jumlah perantara di masing-masing rantai adalah enam orang. Karena itulah, hasil kesimpulan penelitian itu disebut “six degrees of separation”. Teori ini mengundang banyak reaksi, baik yang mendukung atau menolak. Sayang, Milgram meninggal pada 1984 tanpa pernah betul-betul membuktikan bahwa dunia itu memang kecil.
Pada 2002, peneliti dari Columbia University mencoba mengulang penelitian Milgram. Penelitian ini disebut sebagai Small World Research Project. Pemimpin penelitian ini, Dr. Duncan J. Watts, ingin menyempurnakan teori Milgram. “Yang kurang dari teorinya adalah jumlah partisipan yang tidak memuaskan secara statistik,” begitu kata Duncan kepada Wired.
Tim dari Columbia ini menggunakan internet untuk menjaring relawan. Lewat situsnya, eksperimen ini berhasil mengumpulkan lebih dari 60.000 orang dari 166 negara! Para peneliti lalu meminta responden mengirimkan e-mail kepada delapan belas orang target yang dipilih acak. Hasilnya? “Kebanyakan butuh lima hingga tujuh e-mail untuk sampai pada alamat target,” kata Duncan, pada Agustus 2003.
Selain Columbia University, ada pula penelitian oleh Ohio State University. Penelitian yang didanai oleh National Science Foundation ini disebut Electronic Small World Project. Menurut James Woody, sosiolog yang memimpin penelitian ini, proyeknya bertujuan mengidentifikasi peta sosial pada internet.
Pertanyaannya kemudian, apa sih manfaat hasil penelitian ini? Duncan berharap, proyeknya ini bisa membantu orang memahami taktik penyebaran virus lewat internet. Sedangkan Moody ingin membuktikan kalo hubungan lewat internet nggak memandang ras, kelamin, atau kelas ekonomi. “Bagi sebagian orang, e-mail membuat dunia jadi lebih sempit,” kata Moody. Kayaknya, Friendster juga punya efek yang sama deh!
Link
Tau Friendster, kan? Di bawah ini tulisan saya soal situs yang lagi ngetren itu.
FRIENDSTER: Multilevel Friendmaking
Mau kenalan tapi malu. Pengin ketemu nggak punya waktu. Dengan Friendster, Dian Sastro pun jadi temanmu.
JANGAN ngaku gaul deh kalo nggak tahu Friendster. Waduh! Friendster itu sama sekali nggak ada hubungannya sama lobster. Friendster itu nama situs komunitas gratisan yang sekarang lagi ngetren banget di Jakarta. Saking ngetrennya, ada lho bar yang khusus bikin acara untuk anggota situs itu.
Sebetulnya, demam Friendster di Jakarta ini termasuk terlambat. Sebab, teman-teman kita di Amrik udah keranjingan situs ini sejak pertengahan tahun lalu. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah diluncurkan, situs untuk pertemanan online ini berhasil menggaet 300.000 pengguna. Setiap minggu, pengguna situs ini terus bertambah 20%.
Jonathan Abrams, Chief Executive Officer situs ini, melemparkan friendster.com ke publik pada Maret 2002. Ia sendiri tak mengira sambutan publik bakal segila itu. Soalnya, komunitas online yang menghubungkan orang-orang lewat jaringan bukan barang baru. Sebelumnya sudah ada sixdegrees.com, ryze.org, LinkedIn.com, atau ecademy.com. Lalu apa yang membuat Friendster berbeda?
Menurut seorang pengamat software sosial, Ross Mayfield, kelebihan Friendster adalah prinsip Friend of a Friend-nya. Friendster bisa menghubungkan orang hanya dengan mengklik gambar teman dari teman kita. Semakin banyak kita punya teman di lapis pertama, maka semakin banyak pula jaringan teman kita di lapis kedua. Lagi pula, menjadi anggota Friendster tidak rumit. Cukup berbekal alamat e-mail dan kata kunci, kamu berhak bikin profil di situ.
Kelebihan lainnya, kita bisa langsung lihat profil anggotanya. “Daripada e-mail, Friendster lebih enak karena ada gambarnya,” kata Anisah Ayuda Putri kepada Auliana dari KORANKU. Puput, demikian siswi kelas 2 SMUN 46 Jakarta ini biasa dipanggil, ikutan Friendster sejak Januari 2004. Pertama kali gabung, dia hanya punya dua teman. Sekarang, “Yah, udah dapat 18 teman baru deh,” ia menjawab.
MENGGAET TEMAN BARU
Menambah teman memang alasan utama orang gabung ke situs ini. Itu juga yang jadi cita-cita pencipta situs yang sekarang beranggotakan lebih dari sejuta orang. Makanya, di situs itu ada menu “gallery”. Di galeri, kita bisa lihat profil temannya teman kita. Kalau cocok, kita bisa langsung “add as a friend”. Memang, situs ini bekerja atas dasar teori “six degrees of separation” (lihat: Dunia (tidak) Selebar Daun Kelor?). Jadi, kita menambah teman lewat jaringan teman.
Kamu juga bisa cari teman berdasarkan lokasi. Dengan begitu, kamu bias dapat teman dari berbagai negara. Contohnya teman kita Farah ….. dari SMU 55, Jakarta. Siswi kelas 3 ini pertama kali kenal Friendster pada November 2003, dari saudara di Singapura. Sekarang, di friends list-nya ada 115 teman dari berbagai negara.
Misalnya kamu baru punya empat teman tapi teman-teman mereka nggak ada yang asik, jangan menyerah. Kamu bisa cari teman lewat menu “user search”. Di sini, kamu bisa cari teman TK yang pernah kamu taksir, mantan gebetan waktu SMP, atau sesama penggemar manga. Pokoknya, tinggal ketik kata kuncinya dan Friendster akan mencari profilnya.
Masalahnya, belum tentu teman asik itu ada di jaringan kamu. Kamu kan hanya bisa menambah teman dari jaringan yang sama. Eits, tetap bisa dong. Kirim aja pesan pengin kenalan lewat menu “Send a message”. Tulis aja kamu mau kenalan sama orang itu, trus kasih alamat e-mail kamu biar mereka bisa meng-add kamu as their friend. Gampang!
TESTIMONIAL, BENER NGGAK YA?
Satu hal yang menarik dari Friendster adalah menu “testimonial”. Apa lagi tuh? Ini adalah kesaksian kamu tentang sohibmu, atau sebaliknya. Kalo kamu punya teman yang unik, jangan ragu kasih pendapat kamu tentang dia. Pendapat kamu ini bisa jadi rekomendasi buat orang-orang yang membaca profil temanmu.
Sebaliknya, kamu jangan ragu minta testimonial yang jujur dari temanmu. Kalo pendapat temanmu bagus dan bisa “menjual”, kamu tinggal “approve”. Maka, pendapat temanmu itu bakal terpampang di profilmu. Kalo kesaksian dari temanmu cenderung negatif, jangan marah. Kamu simpan sendiri aja pendapat itu buat bahan introspeksi.
Memang nggak semua orang senang dengan menu testimonial ini. Banyak yang bilang menu ini rada corny, alias dibuat-buat. Douglas Wolk, misalnya. Pengamat gaya hidup dan penulis buku James Brown live at Apollo ini bilang, “Testimonial cuma sarana melambungkan ego penggunanya.” Nah lho.
FRIENDSTER VS “FAKESTER:
Nggak jarang, profil yang ada di Friendster itu palsu. Nggak percaya? Coba aja cari aja profil Dian Sastro. Kamu bisa menemukan empat profil Dian Sastro di situs ini. Semuanya memuat gambar artis yang sama, hanya posenya yang beda. Ada lagi profil yang bernama lembaga, misalnya nama sekolah, restoran, atau nama jalan. Yang lebih gila, ada lho yang bikin profil “God” atau “Almighty God”. Profil macam begini, oleh Jon Abrams, dijuluki “fakester” alias pemalsu.
Jon sebel banget sama profil-profil fakester ini. Soalnya itu merusak bayangan awal Jon tentang Friendster, yaitu tempat berkenalan dengan orang lain lewat teman sendiri seperti di kehidupan nyata. Lagi pula, menurut dia, pemasangan foto orang lain tanpa izin bisa dikategorikan pembajakan hak cipta. Akhirnya, September tahun lalu sang CEO mengancam: profil-profil fakester ini bakal dihapus tanpa pemberitahuan lebih dulu.
Mungkin kita bisa mengambil satu pelajaran penting dari sini: jangan terlalu percaya pada profil di internet. Sebaliknya, kita juga nggak perlu ngasih info terlalu mendetail tentang diri kita, seperti nomor telpon dan alamat. Kalo menurut Ibu Tuti Indrawati, psikolog dari……, “Dampak positif-negatif sesuatu tergantung dari kematangan orangnya. Hidup kan harus bisa membedakan mana yang serius, mana yang tidak.” Makanya, pilih-pilih dong.
Tau Friendster, kan? Di bawah ini tulisan saya soal situs yang lagi ngetren itu.
FRIENDSTER: Multilevel Friendmaking
Mau kenalan tapi malu. Pengin ketemu nggak punya waktu. Dengan Friendster, Dian Sastro pun jadi temanmu.
JANGAN ngaku gaul deh kalo nggak tahu Friendster. Waduh! Friendster itu sama sekali nggak ada hubungannya sama lobster. Friendster itu nama situs komunitas gratisan yang sekarang lagi ngetren banget di Jakarta. Saking ngetrennya, ada lho bar yang khusus bikin acara untuk anggota situs itu.
Sebetulnya, demam Friendster di Jakarta ini termasuk terlambat. Sebab, teman-teman kita di Amrik udah keranjingan situs ini sejak pertengahan tahun lalu. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah diluncurkan, situs untuk pertemanan online ini berhasil menggaet 300.000 pengguna. Setiap minggu, pengguna situs ini terus bertambah 20%.
Jonathan Abrams, Chief Executive Officer situs ini, melemparkan friendster.com ke publik pada Maret 2002. Ia sendiri tak mengira sambutan publik bakal segila itu. Soalnya, komunitas online yang menghubungkan orang-orang lewat jaringan bukan barang baru. Sebelumnya sudah ada sixdegrees.com, ryze.org, LinkedIn.com, atau ecademy.com. Lalu apa yang membuat Friendster berbeda?
Menurut seorang pengamat software sosial, Ross Mayfield, kelebihan Friendster adalah prinsip Friend of a Friend-nya. Friendster bisa menghubungkan orang hanya dengan mengklik gambar teman dari teman kita. Semakin banyak kita punya teman di lapis pertama, maka semakin banyak pula jaringan teman kita di lapis kedua. Lagi pula, menjadi anggota Friendster tidak rumit. Cukup berbekal alamat e-mail dan kata kunci, kamu berhak bikin profil di situ.
Kelebihan lainnya, kita bisa langsung lihat profil anggotanya. “Daripada e-mail, Friendster lebih enak karena ada gambarnya,” kata Anisah Ayuda Putri kepada Auliana dari KORANKU. Puput, demikian siswi kelas 2 SMUN 46 Jakarta ini biasa dipanggil, ikutan Friendster sejak Januari 2004. Pertama kali gabung, dia hanya punya dua teman. Sekarang, “Yah, udah dapat 18 teman baru deh,” ia menjawab.
MENGGAET TEMAN BARU
Menambah teman memang alasan utama orang gabung ke situs ini. Itu juga yang jadi cita-cita pencipta situs yang sekarang beranggotakan lebih dari sejuta orang. Makanya, di situs itu ada menu “gallery”. Di galeri, kita bisa lihat profil temannya teman kita. Kalau cocok, kita bisa langsung “add as a friend”. Memang, situs ini bekerja atas dasar teori “six degrees of separation” (lihat: Dunia (tidak) Selebar Daun Kelor?). Jadi, kita menambah teman lewat jaringan teman.
Kamu juga bisa cari teman berdasarkan lokasi. Dengan begitu, kamu bias dapat teman dari berbagai negara. Contohnya teman kita Farah ….. dari SMU 55, Jakarta. Siswi kelas 3 ini pertama kali kenal Friendster pada November 2003, dari saudara di Singapura. Sekarang, di friends list-nya ada 115 teman dari berbagai negara.
Misalnya kamu baru punya empat teman tapi teman-teman mereka nggak ada yang asik, jangan menyerah. Kamu bisa cari teman lewat menu “user search”. Di sini, kamu bisa cari teman TK yang pernah kamu taksir, mantan gebetan waktu SMP, atau sesama penggemar manga. Pokoknya, tinggal ketik kata kuncinya dan Friendster akan mencari profilnya.
Masalahnya, belum tentu teman asik itu ada di jaringan kamu. Kamu kan hanya bisa menambah teman dari jaringan yang sama. Eits, tetap bisa dong. Kirim aja pesan pengin kenalan lewat menu “Send a message”. Tulis aja kamu mau kenalan sama orang itu, trus kasih alamat e-mail kamu biar mereka bisa meng-add kamu as their friend. Gampang!
TESTIMONIAL, BENER NGGAK YA?
Satu hal yang menarik dari Friendster adalah menu “testimonial”. Apa lagi tuh? Ini adalah kesaksian kamu tentang sohibmu, atau sebaliknya. Kalo kamu punya teman yang unik, jangan ragu kasih pendapat kamu tentang dia. Pendapat kamu ini bisa jadi rekomendasi buat orang-orang yang membaca profil temanmu.
Sebaliknya, kamu jangan ragu minta testimonial yang jujur dari temanmu. Kalo pendapat temanmu bagus dan bisa “menjual”, kamu tinggal “approve”. Maka, pendapat temanmu itu bakal terpampang di profilmu. Kalo kesaksian dari temanmu cenderung negatif, jangan marah. Kamu simpan sendiri aja pendapat itu buat bahan introspeksi.
Memang nggak semua orang senang dengan menu testimonial ini. Banyak yang bilang menu ini rada corny, alias dibuat-buat. Douglas Wolk, misalnya. Pengamat gaya hidup dan penulis buku James Brown live at Apollo ini bilang, “Testimonial cuma sarana melambungkan ego penggunanya.” Nah lho.
FRIENDSTER VS “FAKESTER:
Nggak jarang, profil yang ada di Friendster itu palsu. Nggak percaya? Coba aja cari aja profil Dian Sastro. Kamu bisa menemukan empat profil Dian Sastro di situs ini. Semuanya memuat gambar artis yang sama, hanya posenya yang beda. Ada lagi profil yang bernama lembaga, misalnya nama sekolah, restoran, atau nama jalan. Yang lebih gila, ada lho yang bikin profil “God” atau “Almighty God”. Profil macam begini, oleh Jon Abrams, dijuluki “fakester” alias pemalsu.
Jon sebel banget sama profil-profil fakester ini. Soalnya itu merusak bayangan awal Jon tentang Friendster, yaitu tempat berkenalan dengan orang lain lewat teman sendiri seperti di kehidupan nyata. Lagi pula, menurut dia, pemasangan foto orang lain tanpa izin bisa dikategorikan pembajakan hak cipta. Akhirnya, September tahun lalu sang CEO mengancam: profil-profil fakester ini bakal dihapus tanpa pemberitahuan lebih dulu.
Mungkin kita bisa mengambil satu pelajaran penting dari sini: jangan terlalu percaya pada profil di internet. Sebaliknya, kita juga nggak perlu ngasih info terlalu mendetail tentang diri kita, seperti nomor telpon dan alamat. Kalo menurut Ibu Tuti Indrawati, psikolog dari……, “Dampak positif-negatif sesuatu tergantung dari kematangan orangnya. Hidup kan harus bisa membedakan mana yang serius, mana yang tidak.” Makanya, pilih-pilih dong.
Boks 1:
MENCIPTA SI GILA BUKU
TION dan Abdul Hakim sedari awal memang penggila buku. Dan dengan ‘gila’, mereka ingin menularkan kegilaan itu. Bengkel Buku Gerak-Gerik lahir dengan konsep unik. Terletak di Ciputat, bertetangga dengan kampus IAIN Syarif Hidayatullah, mereka menerapkan sistem membership. Sebetulnya, jadi member di situ nggak susah. “...(B)ayar Rp. 5000, udah,” kata Tion. “Mau dia itu PKI, mau dia apa, kek, nggak ‘ngaruh....Cukup Rp. 5000, buat seumur hidup.”
Gaya Tion memang begitu, slenge’an. Cocok dengan tugasnya yang lebih banyak membuka pasar. Nama Gerak-Gerik sendiri sesuai dengan konsep yang ada di kepala Tion: gerakan buku. Jualan buku hanyalah sarana, untuk memperluas akses buku bagi sebanyak mungkin orang.
Gerakan itu bergulir dari toko buku yang alit banget jika dibanding toko buku Gramedia: hanya rumah bekas cafe bangkrut, yang dikontrak dengan ngos-ngosan oleh Tion dan Abdul Hakim. Wartawan Koranku diterima di ruangan 4X3 meter, di tengah 7 susunan rak buku yang mencakup buku-buku bestsellers, psikologi, filsafat, agama, sastra, plus majalah dan buku-buku bekas (yang bisa seharga Rp. 500-an).
Co-founder Gerak-Gerik, Abdul Hakim, beda tampilan dengan Tion. Abdul Hakim rapi, dan gayanya lebih nge-dosen. Tugasnya lebih banyak merancang program acara untuk meramaikan Gerak-Gerik. Toko buku alternatif ini pernah mendatangkan Pramudya Ananta Toer—satu-satunya pengarang kita yang dicalonkan dapat Nobel, dan kenyang dipenjara sejak jaman Belanda sampai jaman Soeharto.
Tion berteori bahwa bisnis beginian harus melalui tiga tahap. Pertama, tahap merintis—yakni dengan militan membangun jaringan. Tahap kedua, mempertahan jaringan itu dan menjaga amanah. Tahap ketiga, barulah ambil keuntungan. Menurutnya, sekarang Gerak-Gerik baru di tahap merintis. Keuntungannya sekarang bukan duit, tapi banyaknya pelanggan. Lagian, kata Tion, “gue kan mencipta orang-orang yang gila buku aja.”
Niat itu digenjot lagi dengan gebrakan bikin newsletter Skriptura, terbit bulanan. Isinya resensi berbagai buku yang terbit. Yang mengisi, para member Gerak-Gerik sendiri. Jadi, kata Abdul Hakim, sekalian melatih menulis juga. Banyak, memang, fasilitas yang ditawarkan bagi member di sini. Korting yang dinikmati member, misalnya, bisa sampai 30%.
Tiap hari toko ini buka. Karena pasarnya pelajar dan mahasiswa, jika liburan sering seret juga. Tapi pilihan buku dan suasana cinta buku rupanya memuaskan pengunjung. Toni, anak FISIP Universitas Nasional, datang ke sini karena pilihan buku yang jarang ada di toko buku. Bahkan nggak ada juga di pasar loak buku Senen. Juga karena lebih murah dari toko buku. Siti Muniroh, lulusan IAIN Jakarta, merasa pilihan buku yang ada di sini “satu selera” dan pas.
Mungkin, bagi kita-kita yang belum kuliah, sekilas kagok juga mampir ke sini. Tapi lama-lama sih enak, kok.*** (written by Hikmat Darmawan)
MENCIPTA SI GILA BUKU
TION dan Abdul Hakim sedari awal memang penggila buku. Dan dengan ‘gila’, mereka ingin menularkan kegilaan itu. Bengkel Buku Gerak-Gerik lahir dengan konsep unik. Terletak di Ciputat, bertetangga dengan kampus IAIN Syarif Hidayatullah, mereka menerapkan sistem membership. Sebetulnya, jadi member di situ nggak susah. “...(B)ayar Rp. 5000, udah,” kata Tion. “Mau dia itu PKI, mau dia apa, kek, nggak ‘ngaruh....Cukup Rp. 5000, buat seumur hidup.”
Gaya Tion memang begitu, slenge’an. Cocok dengan tugasnya yang lebih banyak membuka pasar. Nama Gerak-Gerik sendiri sesuai dengan konsep yang ada di kepala Tion: gerakan buku. Jualan buku hanyalah sarana, untuk memperluas akses buku bagi sebanyak mungkin orang.
Gerakan itu bergulir dari toko buku yang alit banget jika dibanding toko buku Gramedia: hanya rumah bekas cafe bangkrut, yang dikontrak dengan ngos-ngosan oleh Tion dan Abdul Hakim. Wartawan Koranku diterima di ruangan 4X3 meter, di tengah 7 susunan rak buku yang mencakup buku-buku bestsellers, psikologi, filsafat, agama, sastra, plus majalah dan buku-buku bekas (yang bisa seharga Rp. 500-an).
Co-founder Gerak-Gerik, Abdul Hakim, beda tampilan dengan Tion. Abdul Hakim rapi, dan gayanya lebih nge-dosen. Tugasnya lebih banyak merancang program acara untuk meramaikan Gerak-Gerik. Toko buku alternatif ini pernah mendatangkan Pramudya Ananta Toer—satu-satunya pengarang kita yang dicalonkan dapat Nobel, dan kenyang dipenjara sejak jaman Belanda sampai jaman Soeharto.
Tion berteori bahwa bisnis beginian harus melalui tiga tahap. Pertama, tahap merintis—yakni dengan militan membangun jaringan. Tahap kedua, mempertahan jaringan itu dan menjaga amanah. Tahap ketiga, barulah ambil keuntungan. Menurutnya, sekarang Gerak-Gerik baru di tahap merintis. Keuntungannya sekarang bukan duit, tapi banyaknya pelanggan. Lagian, kata Tion, “gue kan mencipta orang-orang yang gila buku aja.”
Niat itu digenjot lagi dengan gebrakan bikin newsletter Skriptura, terbit bulanan. Isinya resensi berbagai buku yang terbit. Yang mengisi, para member Gerak-Gerik sendiri. Jadi, kata Abdul Hakim, sekalian melatih menulis juga. Banyak, memang, fasilitas yang ditawarkan bagi member di sini. Korting yang dinikmati member, misalnya, bisa sampai 30%.
Tiap hari toko ini buka. Karena pasarnya pelajar dan mahasiswa, jika liburan sering seret juga. Tapi pilihan buku dan suasana cinta buku rupanya memuaskan pengunjung. Toni, anak FISIP Universitas Nasional, datang ke sini karena pilihan buku yang jarang ada di toko buku. Bahkan nggak ada juga di pasar loak buku Senen. Juga karena lebih murah dari toko buku. Siti Muniroh, lulusan IAIN Jakarta, merasa pilihan buku yang ada di sini “satu selera” dan pas.
Mungkin, bagi kita-kita yang belum kuliah, sekilas kagok juga mampir ke sini. Tapi lama-lama sih enak, kok.*** (written by Hikmat Darmawan)
Komunitas-komunitas buku alternatif:
PARA PENCINTA KERAS KEPALA
Komunitas-komunitas buku sedang menjamur.Berjuang di tengah dunia buku yang berantakan.
NAMA akrabnya Tion —bunyinya mirip dengan nama dalam sebuah cerpen dari Jose Luis Borges, sastrawan Argentina, berjudul Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Walau sedang teler alias nggak enak badan, ia berapi-api menceritakan toko bukunya, Bengkel Buku Gerak-Gerik. “Karena gue sadar ... gak punya duit, maka gue harus militan ...” Tion, kependekan dari Ikhwan Nasution, membeber gimana dia harus aktif membangun pasar dan jualan buku ke mana-mana. Kalau perlu, sampai ngelapak-lapak segala: menggelar alas terpal dan buku-buku, berjualan di manapun ia bisa.
Tadinya, Tion memang mengawali ‘karir’ sebagai pedagang buku keliling. Utamanya sih, keliling di acara-acara para aktivis kayak diskusi, seminar, pertemuan LSM, dan sebagainya. Tahun ..., Tion ketemu Abdul Hakim yang aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Mereka ngobrol: Tion punya ide bikin toko buku, Abdul Hakim punya bahan intelektual dan modal duit. Jadilah, dengan modal cekak, mereka nekad membuka toko buku alternatif Gerak-Gerik di sebelah IAIN Ciputat. Gimana nggak nekad: sewa tempat saja, aslinya Rp. 6 juta, mesti mereka cicil karena mereka cuma sanggup bayar Rp. 2 juta!
Yang “alternatif” dari Gerak-Gerik adalah pilihan bukunya dan juga cara jualannya (Lihat: Mencipta Si Gila Buku). Dari segi pilihan buku, mereka menjual banyak judul yang nggak gampang kita temuin di toko buku gede kayak Gramedia atau Gunung Agung. Soalnya, mereka dapat asupan buku dari penerbit-penerbit kecil. Para penerbit kecil itu memang sering nggak sanggup masukin buku ke toko-toko buku besar. Padahal seringkali judul-judul buku mereka sangat menarik. Khususnya buku-buku filsafat dan sastra, yang entah kenapa sejak era Reformasi semakin mencuat.
Dari segi cara jualan, Gerak-Gerik juga unik. Mereka menerapkan sistem diskon yang lumayan gede (10-40% untuk buku-buku baru). Lebih unik lagi, mereka menerapkan sistem member. Di samping secara militan aktif menyerbu pasar, dengan ngelapak-lapak seperti kata Tion tadi. Jadi, cara kerja mereka sih udah kayak sistem Books Club di Amrik atau Eropa Barat.
Kalau di Amrik dan Eropa Barat, jaringan klub buku jadi salah satu alternatif pemasaran yang kuat juga. Mereka memberi diskon besar untuk buku-buku laris. Mereka juga biasa jadi salah satu sumber paling kuat untuk menyumbang angka dalam daftar bestsellers buku di sana. Jadi, kalau misalnya kita baca “Harry Potter and The Order of Phoenix” duduk di tangga pertama best sellers, maka sumbangan jalur distribusi jaringan klub buku di sana penting juga.
Beda dengan di sini. Salah satu jalur klub buku yang lumayan kuat adalah yang dibikin oleh grup penerbitan paling raksasa di negeri ini: kelompok penerbit Gramedia. Sifatnya eksklusif untuk buku-buku terbitan grup ini saja, dan berfungsi kayak direct selling dengan korting nggak seberapa. Sementara yang di jalur alternatif macam Gerak-Gerik, kondisinya lumayan ‘compang-camping’. Kondisinya masih coba-coba, dan betul-betul bersifat membangun “komunitas buku”.
Dalam sebuah komunitas buku, suasana yang tergalang masih berupa semangat kebersamaan: sama-sama senang buku, sama-sama membangkitkan cinta pada buku, sama-sama untung kecil. Tapi rupanya model komunitas ini menarik juga. Soalnya, sekarang komunitas-komunitas buku tumbuh di mana-mana. Ada Rumah Dunia (?) di Tangerang, yang dibuat oleh Gola Gong dan kawan-kawan. Ada Rumah Buku (?) dan Toko Buku Kecil (Tobucil) di Bandung. Juga Komunitas Pasar Buku Indonesia di Kebon Jeruk, yang juga menghimpun aktivis gerakan Indonesia Membaca dan gerakan 1001 Buku. Dan banyak lagi.
Sebagian sekaligus jadi toko buku alternatif, kayak Gerak-Gerik dan Tobucil. Sebagian besar lainnya lebih suka jadi semacam taman bacaan, atau sekadar tempat ‘kumpul bocah’. Yang sama adalah suasana cinta buku yang ditumbuhkan di tempat-tempat alternatif itu. Yang terasa banget di komunitas-komunitas itu adalah semangat cinta buku mereka. Pokoknya, “perjuangan” banget deh. Asyik rasanya ngumpul di tempat ngumpulnya para—meminjam istilah Goenawan Mohamad, penyair senior kita—“pencinta keras kepala” itu. Cinta kayak ginian kan asyiknya, dan harusnya, bisa ditularkan dan dinikmati sama-sama.
Soal semangat, gimana nggak harus “berjuang” atau “militan”—situasi buku kita kan amburadul banget? Nggak usahlah kita bandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, atau Jepang yang nggak pernah heran kalau ada buku yang terjual sampai sejuta kopi (kayak kaset lagu pop). Coba bandingin kondisi buku Indonesia sama tetangga kita, Malaysia.
Untuk tahun 2000, untuk penduduk Indonesia yang 203 juta orang, buku yang keluar per tahun hanyalah 2000 judul. Sedang di Malaysia, dengan penduduk cuma 21 juta jiwa, produksi bukunya mencapai 15.000 judul per tahun. Mestinya sih, kita malu, ya?
Lebih malu lagi kalau ada yang ogah senang buku karena beralasan, “habis buku mahal sih!” Taruhlah buku mahal kayak Harry Potter atau Musashi—harganya Rp. 100-150 ribu. Tapi bisa di-‘makan’ seumur hidup. Dibanding, misalnya, makan di MacDonald (yang nggak pernah sepi) yang bisa habis Rp. 20-50 ribu setiap minggu, misalnya, tapi cuma habis dimakan sekali dan sesudah beberapa jam keluar lagi.
Jika bangsa kita belum mencintai buku, banyak sebab yang bisa dituding: mahalnya harga buku, mahalnya distribusi, mahalnya pajak buku, pendidikan, de-es-be. Tapi kalau melihat tumbuhnya komunitas-komunitas buku yang militan sekarang ini, rasanya bisa deh kita optimis.***
(written by Hikmat Darmawan
PARA PENCINTA KERAS KEPALA
Komunitas-komunitas buku sedang menjamur.Berjuang di tengah dunia buku yang berantakan.
NAMA akrabnya Tion —bunyinya mirip dengan nama dalam sebuah cerpen dari Jose Luis Borges, sastrawan Argentina, berjudul Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Walau sedang teler alias nggak enak badan, ia berapi-api menceritakan toko bukunya, Bengkel Buku Gerak-Gerik. “Karena gue sadar ... gak punya duit, maka gue harus militan ...” Tion, kependekan dari Ikhwan Nasution, membeber gimana dia harus aktif membangun pasar dan jualan buku ke mana-mana. Kalau perlu, sampai ngelapak-lapak segala: menggelar alas terpal dan buku-buku, berjualan di manapun ia bisa.
Tadinya, Tion memang mengawali ‘karir’ sebagai pedagang buku keliling. Utamanya sih, keliling di acara-acara para aktivis kayak diskusi, seminar, pertemuan LSM, dan sebagainya. Tahun ..., Tion ketemu Abdul Hakim yang aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Mereka ngobrol: Tion punya ide bikin toko buku, Abdul Hakim punya bahan intelektual dan modal duit. Jadilah, dengan modal cekak, mereka nekad membuka toko buku alternatif Gerak-Gerik di sebelah IAIN Ciputat. Gimana nggak nekad: sewa tempat saja, aslinya Rp. 6 juta, mesti mereka cicil karena mereka cuma sanggup bayar Rp. 2 juta!
Yang “alternatif” dari Gerak-Gerik adalah pilihan bukunya dan juga cara jualannya (Lihat: Mencipta Si Gila Buku). Dari segi pilihan buku, mereka menjual banyak judul yang nggak gampang kita temuin di toko buku gede kayak Gramedia atau Gunung Agung. Soalnya, mereka dapat asupan buku dari penerbit-penerbit kecil. Para penerbit kecil itu memang sering nggak sanggup masukin buku ke toko-toko buku besar. Padahal seringkali judul-judul buku mereka sangat menarik. Khususnya buku-buku filsafat dan sastra, yang entah kenapa sejak era Reformasi semakin mencuat.
Dari segi cara jualan, Gerak-Gerik juga unik. Mereka menerapkan sistem diskon yang lumayan gede (10-40% untuk buku-buku baru). Lebih unik lagi, mereka menerapkan sistem member. Di samping secara militan aktif menyerbu pasar, dengan ngelapak-lapak seperti kata Tion tadi. Jadi, cara kerja mereka sih udah kayak sistem Books Club di Amrik atau Eropa Barat.
Kalau di Amrik dan Eropa Barat, jaringan klub buku jadi salah satu alternatif pemasaran yang kuat juga. Mereka memberi diskon besar untuk buku-buku laris. Mereka juga biasa jadi salah satu sumber paling kuat untuk menyumbang angka dalam daftar bestsellers buku di sana. Jadi, kalau misalnya kita baca “Harry Potter and The Order of Phoenix” duduk di tangga pertama best sellers, maka sumbangan jalur distribusi jaringan klub buku di sana penting juga.
Beda dengan di sini. Salah satu jalur klub buku yang lumayan kuat adalah yang dibikin oleh grup penerbitan paling raksasa di negeri ini: kelompok penerbit Gramedia. Sifatnya eksklusif untuk buku-buku terbitan grup ini saja, dan berfungsi kayak direct selling dengan korting nggak seberapa. Sementara yang di jalur alternatif macam Gerak-Gerik, kondisinya lumayan ‘compang-camping’. Kondisinya masih coba-coba, dan betul-betul bersifat membangun “komunitas buku”.
Dalam sebuah komunitas buku, suasana yang tergalang masih berupa semangat kebersamaan: sama-sama senang buku, sama-sama membangkitkan cinta pada buku, sama-sama untung kecil. Tapi rupanya model komunitas ini menarik juga. Soalnya, sekarang komunitas-komunitas buku tumbuh di mana-mana. Ada Rumah Dunia (?) di Tangerang, yang dibuat oleh Gola Gong dan kawan-kawan. Ada Rumah Buku (?) dan Toko Buku Kecil (Tobucil) di Bandung. Juga Komunitas Pasar Buku Indonesia di Kebon Jeruk, yang juga menghimpun aktivis gerakan Indonesia Membaca dan gerakan 1001 Buku. Dan banyak lagi.
Sebagian sekaligus jadi toko buku alternatif, kayak Gerak-Gerik dan Tobucil. Sebagian besar lainnya lebih suka jadi semacam taman bacaan, atau sekadar tempat ‘kumpul bocah’. Yang sama adalah suasana cinta buku yang ditumbuhkan di tempat-tempat alternatif itu. Yang terasa banget di komunitas-komunitas itu adalah semangat cinta buku mereka. Pokoknya, “perjuangan” banget deh. Asyik rasanya ngumpul di tempat ngumpulnya para—meminjam istilah Goenawan Mohamad, penyair senior kita—“pencinta keras kepala” itu. Cinta kayak ginian kan asyiknya, dan harusnya, bisa ditularkan dan dinikmati sama-sama.
Soal semangat, gimana nggak harus “berjuang” atau “militan”—situasi buku kita kan amburadul banget? Nggak usahlah kita bandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, atau Jepang yang nggak pernah heran kalau ada buku yang terjual sampai sejuta kopi (kayak kaset lagu pop). Coba bandingin kondisi buku Indonesia sama tetangga kita, Malaysia.
Untuk tahun 2000, untuk penduduk Indonesia yang 203 juta orang, buku yang keluar per tahun hanyalah 2000 judul. Sedang di Malaysia, dengan penduduk cuma 21 juta jiwa, produksi bukunya mencapai 15.000 judul per tahun. Mestinya sih, kita malu, ya?
Lebih malu lagi kalau ada yang ogah senang buku karena beralasan, “habis buku mahal sih!” Taruhlah buku mahal kayak Harry Potter atau Musashi—harganya Rp. 100-150 ribu. Tapi bisa di-‘makan’ seumur hidup. Dibanding, misalnya, makan di MacDonald (yang nggak pernah sepi) yang bisa habis Rp. 20-50 ribu setiap minggu, misalnya, tapi cuma habis dimakan sekali dan sesudah beberapa jam keluar lagi.
Jika bangsa kita belum mencintai buku, banyak sebab yang bisa dituding: mahalnya harga buku, mahalnya distribusi, mahalnya pajak buku, pendidikan, de-es-be. Tapi kalau melihat tumbuhnya komunitas-komunitas buku yang militan sekarang ini, rasanya bisa deh kita optimis.***
(written by Hikmat Darmawan
Langganan:
Postingan (Atom)