Eh, gue berubah pikiran. Review buku-buku n film-film yang sedianya mo gue tulis di sini gue tunda. Gue bakal tulis juga siy, janji. Tapi nggak sekarang ya. Abis, lagi banyak kerjaan n mesti bergadang dua hari dua malem. Mana sempat lah awak menulis serius. Tapi gue usahakan deh secepatnya.
Sekarang gue cuma mo ngasih omelan umum (berhubung gak sanggup ngasih kuliah umum :P). Ih sedih, inget masa lalu. Yah, omelannya gak jauh-jauh amat lah ma janji gue kemarin. Soal buku juga. Ya, buku-buku yang gue baca itu. Itung-itung pemanasan, ngelemesin jari yang kaku-kaku kebanyakan bedrest.
Anyway, as I said yesterday, gue kan lagi rajin baca-baca chick-lit Indonesia. Abis gue lihat chick-lit lokal lagi menjamur amat. Hah? jamuran? Maksud gue, banyak banget gitu, tolol! Gue sebenarnya udah lama meramalkan tren ini. Sejak saat gue jadi pengangguran in-between yang suka nebeng baca di toko buku. Gue mikir, kalo Bridget Jones, seri Shopaholic, n other chicklit or ladlit diterjemah ke Indonesia pasti bakal laku banget. Eh, bener!
It went even better. Penerbit mikir juga untuk nerbitin "chick lit" lokal. Ya udah, gue coba baca. Berdasarkan rekomen yang gue baca, gue belilah itu Cintapuccino karya Nisha Rahmanti. Di sampul bukunya distempel "Best Seller" pula! Tentu aja gue berharap banyak dari itu buku. Ternyata, gue kecewa (untuk detailnya, baca aja postingan nanti). Menurut gue, Cintapuccino nggak chick-lit.
Gue tuh penggemar chick lit. Gue juga gampang ketawa (klo gak percaya, lihat aja testi di friendster gue). Intinya, gue itu easy to please. Biasanya, kalo gue baca chicklit --ya itu, Bridget Jones, Shopaholic, Can You Keep a Secret, dll.-- gue bisa ketawa guling-gulingan. Tapi, baca Cintapuccino kok nggak ya. Ada sih bagian yang lucu. Tapi nggak banyak dan gak lucu-lucu amat. Malah, kadang cenderung maksa.
Terus, masalahnya cinta thok. Padahal, di pengantarnya Nisha sendiri menjanjikan tidak hanya bercerita soal cinta tapi juga keberanian, dll. Itu gak gue lihat, kok? Gak ada kisah soal "berdamai dengan diri" seperti Candice Saphiro di Good in Bed atau Rebbeca Blomwood di Shopaholic. Terus, ya nggak lucu-lucu amat.
Nah, belakangan ada teman yang rekomen Jomblo-nya Adhitya Mulya. Kata dia, mungkin gue akan cocok dengan kelucuan ala Adhitya ini. Trus, dia pinjamin deh. Eh, kecewa lagi gue. Aduh, lucunya maksa. Terus, salah satu tokohnya, Agus (yang kayaknya rada identifikasi diri si penulis deh), yang selingkuh, malah akhirnya dibikin kayak jadi pahlawan. Bahwa keputusan Agus memilih pacarnya adalah keputusan heroik demi jadi dewasa.
Gak ada komedinya banget nih novel! Gak ada komedi dalam arti lucu --well, oke ada sih... tapi sedikit-- atau komedi yang Alighierian gitu. Jadi maunya apa? Gue sempet buka blog penulisnya. Di situ dia "berapologi" dengan menulis bahwa tidak fair membandingkan dunia menulis di Indonesia dengan Inggris. Sebab, sejarah tulisan di Inggris sudah mencapai puncak pada abad 17-an. Gak setuju banget.
Iyalah Inggris punya sejarah menulis yang lama banget. Tapi Indonesia bukannya gak bisa mengejar. Kita punya Budi Darma, Danarto, Umar Kayam, Emha, bahkan Gus Dur. Mereka ini sering nulis lucu-lucu lho. Dan mereka juga mulai nulis dari muda, kan? Pikiran mereka sering iseng, dan ditulis. Bedanya, pada zaman mereka kayaknya emang ada standar.
Tapi okelah, gak mau dibandingkan sama penulis luar ya? Dan penulis lokal yang gue tulis di atas terlalu berat? Gimana dengan Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya? Gue penggemar berat Lupus lho. Gue akuin, tu buku lucu banget. Terus, dulu ada Bubin Lantang, itu lucu juga. Komedinya cukup "Alighierian" gitu. Jomblo ini, mmm... too bad, not even close. Jadi judulnya, yah kecewaaaaaaaaaa...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar