Jumat, 01 Juli 2005

Steve Jobs

Stay hungry, stay foolish! Slogan ini jadi ngetop lagi gara-gara Steve Jobs ngasih pidato kelulusan di Stanford Univ. Padahal, Steve Jobs juga ngutip dari "bible"-nya generasi bunga, The Whole Earth Catalog. However, ternyata slogan itu masih sesuai dipakai sama generasi sekarang.

Well, buat banyak orang, lapar dan bodoh adalah monster seram yang harus dijauhkan. Tapi, buat orang-orang yang kreatif dan kritis, lapar dan bodoh bisa jadi bahan bakar menakjubkan lho. Gara-gara lapar, mereka makin terpacu memutar otak agar mengatasi lapar. Karena merasakan tidak enaknya lapar, mereka ingin semua juga tidak lapar.

Iya, bener lho. Gue lagi serius nih. Karena kelaparan itulah, Steve Jobs akhirnya bikin Apple. Bermodal dua dolar, dia bikin usaha komputer bareng Woz. Usianya baru 20 tahun ketika itu, baru drop out dari universitas. Dia bukannya gak bisa minta makan ke ortu --secara dia anak tunggal gitu loh, apa sih yang enggak dikasih. Sebaliknya, dia DO karena malu minta ke ortu, dia lapar karena malu sama ortu. Dia malu, mungkin cenderung kasihan, sama ortu yang banting tulang siang-malam cuma untuk dirinya.

Ada lagi Stewart Brand, pencipta The Whole Earth. Walaupun dia bilang "tetep laper dan tetep bodo", bukan maksud orang harus busung laper gitu bo. Dia malah gak tega ada ketimpangan sosial dalam masyarakat. Njomplang antara yang kaya sama yang miskin. Dia yakin betul kalo obat dari segala kemiskinan (ergo: kelaparan) dan kejahatan adalah pendidikan. Makanya, dia putar otak supaya semua bisa punya akses ke pendidikan n teknologi. "Access to tools" akhirnya jadi mission statements dari tabloid miliknya.

Banyak lagi sih yang gue tahu, punya pikiran begitu. Gue, sebetulnya, juga pengen banget jadi Steve Jobs, Stewart Brand, atawa Michael Hart. Semua jadi tokoh karena mikirin orang banyak sih. (Eh, untuk Steve Jobs harus diselidiki lebih dalam kali, secara bule teman gue yang 20 tahun di IBM dan pernah kerja bareng Jobs di Amrik sana sebel banget kalo gue bilang Jobs amazing.) Tapi tetep aja, gue pengen jadi pandan (ini filsafat gue sekarang, pandanus kritikus, keren kan ^--^).

Yen tak pikir-pikir, itu kali alasannya kita disuruh puasa ya?

Tidak ada komentar:

Pengikut