Kamis, 29 September 2005

Di bawah ini ada tulisan gue tentang komik yang sekarang lagi best-seller di Jakarta. Sebetulnya ini tulisan pesanan, eh yang pesan malah gak hubung-hubungin lagi. Gimana sih. Udah mintanya buru-buru, eh gak taunya disimpen doang.

===================

MOOI INDIE ALA TINTIN

=================
Judul : Rampokan Jawa
Halaman : 74 halaman + ii
Penerbit : Kerja sama antara Pustaka Primatama dan Komunitas Komik Alternatif.
==================

BERSIAP-tijd atawa “Masa Bersiap” adalah periode yang tak pernah dikenal oleh bangsa Indonesia. Tapi bagi Belanda, periode tersebut memiliki nilai sejarah yang cukup penting. Periode ini, yang dimulai saat Jepang menyerah kepada Sekutu dan berakhir pada 1949, melahirkan keperihan bagi sebagian orang Belanda. Khususnya mereka yang berdarah Indo-Belanda.

Seperti telah kita ketahui, Jepang datang ke Indonesia pada waktu itu bermisi “memerdekakan” Indonesia. Mereka memosisikan diri sebagai “saudara tua” bangsa Indonesia. Wujud bantuannya, penangkapan orang-orang Eropa, khususnya Belanda, dan mengirim mereka ke kamp-kamp. Perlakuan Jepang ini membuat warga Belanda tertekan. Beban ini masih ditambah pula oleh hilangnya Indonesia dari tangan Belanda.

Beban tak tertanggungkan itu mengejawantah, antara lain, dalam karya sastra mereka. Meski penuh perdebatan, banyak kritikus sastra Belanda mengategorikan karya pada sekitar periode ini dalam satu genre tersendiri; indische literatuur atau sastra indis. Banyak sastrawan berdarah Indo-Belanda masa itu menuliskan yang penuh nostalgia sekaligus rasa kehilangan; hilang identitas maupun hilang tanah kelahiran. Misalnya dalam karya-karya Tjalie Robinson alias Vincent Mahieu (Tjis dan Tjuk), atau Hella S. Haase (Oeroeg).

Kenangan Belanda terhadap “Mooi Indie” tidak berhenti di generasi itu saja. Tema hampir serupa dituliskan pula oleh generasi sesudahnya. Bedanya, generasi kedua ini cenderung menitikberatkan pada akibat mental yang diemban para korban Bersiap-tijd dan keluarga. Ini, misalnya, tercermin dalam karya-karya Marion Bloem atau Adriaan van Dis.

Berbeda dengan karya prosa dan puisi Belanda, karya komik tak banyak yang membicarakan periode ini. Mungkin baru Peter van Dongen yang “berani” mengambil masa ini sebagai setting dalam komiknya: Rampokan. Bagaimana tidak, membaca soal masa bersiap saja, bagi sebagian orang Belanda, sudah menyakitkan. Apalagi harus memelototi gambar-gambar Peter yang realistis. Membaca komik ini seperti membuka album foto yang berisi kenangan pahit, tapi enggan kita lupakan.

Entah sengaja atau tidak, di Indonesia, Rampokan bagian pertama alias Rampokan Jawa diluncurkan 6 September lalu, tak lama setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Padahal di negeri asalnya komik ini beredar sejak 1998. Bagian kedua cerita ini pun, Rampokan Celebes, telah terbit pada November 2004 lalu.

Di luar dugaan, komik yang diterjemahkan oleh Rani Ambyo ini mendapat sambutan cukup baik. Acara peluncurannya, yang digabung dengan pembukaan pameran karya Peter van Dongen cs di Erasmus Huis, dipandang sukses oleh pihak Erasmus. Lebih dari 100 pengunjung hadir, peristiwa yang terbilang langka bagi Erasmus Huis. Lebih seratus eksemplar yang terjual malam itu.

Dari segi cerita, Rampokan memang karya menarik. Cerita diawali dengan kedatangan sang tokoh utama, Johan Knevel, ke Hindia pada Oktober 1946. Mungkin “kedatangan” bukan kata yang tepat. Sebab sebetulnya Johan Knevel adalah pemuda Belanda kelahiran Makassar. Johan sendiri menganggap dia tengah “pulang kampung”, kembali ke tanah kelahirannya.

Johan bergabung menjadi tentara sukarelawan Belanda untuk “mengembalikan ketentraman dan ketertiban di Hindia”(hal. 5). Tapi, dia juga punya misi pribadi: mencari Ninih,“babu”-nya semasa kecil. “Babu”, semacam inang pengasuh atau nanny, memang punya posisi penting bagi orang-orang Belanda atau Indo di masa itu. Posisi istimewa “babu” pernah dengan baik dilukiskan oleh sejarawan Han Resink dalam puisinya, Baboe Han.

Pencarian Johan tentu saja tidak semulus yang ia bayangkan. Kenangan indahnya tentang Hindia bertabrakan dengan kenyataan bahwa saat itu adalah perang. Johan yang di Belanda merasa sebagai orang Hindia, ternyata tak diterima di Hindia. Johan berada di wilayah limbo; bukan ini dan bukan itu.

Perasaan Johan ternyata cermin perasaan Peter van Dongen sendiri. Komikus berdarah Makassar ini bercerita bahwa semasa kecil ia diejek teman-temannya yang Belanda totok. Baru saat itulah ia menyadari dirinya berbeda. Tapi ia tak ingin menyalahkan siapa pun. “Tak ada tangan yang tidak berlumuran darah pada masa itu,” tulis komikus usia 39 tahun ini. Sikapnya jelas terlukis dalam Rampokan yang menempatkan semua di wilayah abu-abu. Belanda tak lebih benar dari Indonesia dan sebaliknya. Tokoh utamanya berkarakter simpatik, tapi sanggup melakukan pembunuhan.

Rampokan memang karya penuh simbol. Rampokan sendiri adalah “pelesetan” dari rampogan, upacara tarung macan di Blitar yang dahulu dilakukan sebagai simbol menentang penjajah kulit putih. Nama si tokoh utama, Johan Knevel, mirip dengan kata “knevelen” yang berarti “menindas”. Bahkan pilihan dua macam warna duotone pada karya ini merupakan simbol tersendiri. Yang simbolik dan realis hadir berkelindan sepanjang cerita.

Peter piawai pula merekam realitas. dalam rangkaian gambar-gambar mendetail dan akurat dengan gaya garis yang bersih dan tegas. Tak aneh bila orang teringat pada komik Tintin. “Komik Lotus Biru memang paling memengaruhi saya,” kata Peter saat peluncuran.

Dua kekuatan itu menjadikan Rampokan Jawa (juga lanjutannya, Celebes) sebagai karya unik dan mencuri hati. Beberapa penerbit bahkan meminta Peter mengomikkan prosa Indis yang telah lebih dulu masyhur, semisal Max Havelaar (Multatuli) dan De Stille Kracht atau Guna-guna (Louis Couperus). Mari kita lihat, dapatkah dua kekuatan Peter ini melahirkan langgam Indis dalam ranah komik Belanda?***

~created 12 September 2005~

Tidak ada komentar:

Pengikut