Rabu, 31 Agustus 2005

Di Bawah Naungan Langit

Karena kita tak pernah tahu kapan kita mati, maka kita menyangka hidup itu abadi. (Paul Bowles)

Ah, tak pernah ada yang tahu kapan kita mati. Bahkan bagi yang menderita sakit parah sekalipun! Maka, di saat bahagia, keseluruhan hidup menjadi tertanggungkan. Sebaliknya, saat menderita, seluruh hidup seolah terasa pahit. Padahal keduanya, sedih dan senang, selalu datang bergantian.

Port Moresby (John Malkovich) dan Kit Moresby (Debra Winger) telah sepuluh tahun menikah. Namun, betapapun mereka berdua saling mencinta, kisah mereka tak melulu berisi romansa. Sebaliknya, gairah dua seniman ini tengah mereda. Pergilah mereka ke Afrika Utara demi mencari cinta.

Bersama mereka, ikut pula George Tunner (Campbell Scott), seorang teman lama yang usahawan. Meski pergi bersama, tujuan ketiganya berbeda-beda. George, menurut definisi Port, adalah seorang turis. Sementara Port mendefinisikan dirinya pengelana. "Apa bedanya?" tanya Tunner. "Turis...," Port menjawab, "selalu berpikir untuk pulang persis di saat mereka tiba."

Sheltering Sky, seperti film-film karya Bertolucci lainnya, penuh dengan gambar-gambar indah. Dalam film berseting Afrika setelah Perang Dunia II ini, Bernardo Bertolucci --sang sutradra-- menyajikan keeksotikan Timur. Film dibuka dengan pemandangan Gurun Sahara dan diiringi suara merdu pembacaan Surah Al-Baqarah, yang seolah menjadi soundtrack.

Bersama Vittorio Storaro, Bertolucci berhasil menghadirkan gambar dengan paduan warna yang sedap di mata. Langit biru dan tanah merah yang memenuhi layar, seolah menyimpan rahasia yang ingin diungkap. Persis seperti karakter Kit yang menganggap semua yang ada di dunia ini adalah simbol. Sebaliknya, bagi Port, dunia telah kehilangan makna.

Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Paul Bowles yang terbit pertama kali pada 1949. Dalam novelnya, karakter Kit dan Port yang bertolak belakang menjadi benang merah pengikat cerita. Misalnya betapa Kit selalu mengatur hidupnya berdasarkan interpretasinya terhadap simbol-simbol. Sementara Port selalu beranggapan, "Tak ada apa-apa di balik langit. Hanya kegelapan."

Dalam novel, perbedaan karakter keduanya digambarkan secara subtil dan penuh filosofi. Mungkin itu yang membuat Bertolucci cukup kesulitan mengungkapkannya dalam film. Gambar memang bisa mengungkap seribu kata, tapi tak terlalu membantu dalam mengungkap makna.

Rabu, 03 Agustus 2005

Images of Love 2


HONEYMOON SONG

I never knew that a day
like today lay before us.
I've got the sun in my heart
and my heart's in the sun.
Skies are as bright
as your eyes,
the horizon is open.
Love is the ceiling,
feelings are reelings
free as the air.
Forever on and forever,
forever on side by side.
who ever knew that we two
could be free as we'd fancy,
fancy is free
but are we bound
to each other by love,
to each other by love?
Who ever knew that we two
could be free as we'd fancy,
fancy is free
but are we bound
to each other by love,
to each other by love,
to each other by love,
to each other by love?

Senin, 01 Agustus 2005

Images of Love1.

To lead a better life, I need my love to be here.
Here, making each day of the year,
Changing my life with a wave of her hand.
Nobody can deny that there’s something there.
There, running my hands through her hair,
Both of us thinking how good it can be.
Someone in speaking but she doesn’t know he’s there.
I want her ev’rywhere, and if she’s beside me I know I need never care,
But to love her is to meet her ev’rywhere,
Knowing that my love is to share,
Each one believing that love never dies,
Watching her eyes and hoping I’m always there.
To be there and ev’rywhere,
Here, there and ev’rywhere.

Pengikut