Jumat, 15 Desember 2006

If You Forget Me

I want you to know
one thing.

You know how this is:
if I look
at the crystal moon, at the red branch
of the slow autumn at my window,
if I touch
near the fire
the impalpable ash
or the wrinkled body of the log,
everything carries me to you,
as if everything that exists,
aromas, light, metals,
were little boats
that sail
toward those isles of yours that wait for me.

Well, now,
if little by little you stop loving me
I shall stop loving you little by little.

If suddenly
you forget me
do not look for me,
for I shall already have forgotten you.

If you think it long and mad,
the wind of banners
that passes through my life,
and you decide
to leave me at the shore
of the heart where I have roots,
remember
that on that day,
at that hour,
I shall lift my arms
and my roots will set off
to seek another land.

But
if each day,
each hour,
you feel that you are destined for me
with implacable sweetness,
if each day a flower
climbs up to your lips to seek me,
ah my love, ah my own,
in me all that fire is repeated,
in me nothing is extinguished or forgotten,
my love feeds on your love, beloved,
and as long as you live it will be in your arms
without leaving mine.

Pablo Neruda


Love After Love

The time will come
when, with elation
you will greet yourself arriving
at your own door, in your own mirror
and each will smile at the other's welcome,

and say, sit here. Eat.
You will love again the stranger who was your self.
Give wine. Give bread. Give back your heart
to itself, to the stranger who has loved you

all your life, whom you ignored
for another, who knows you by heart.
Take down the love letters from the bookshelf,

the photographs, the desperate notes,
peel your own image from the mirror.
Sit. Feast on your life.


by: Derek Walcott

Kamis, 14 Desember 2006

Baby It ain't Over 'til It's Over

Written by: Lenny Kravitz

Here we are still together
We are one
So much time wasted
Playing games with love

So many tears I've cried
So much pain inside
But baby it ain't over 'til it's over
So many gears we've tried
To keep our love alive
But baby it ain't over 'til it's over

How many times
Did we give up
But we always worked things out
And all my doubts and fears
Kept me wondering
If I'd always be in love

So many tears I've cried
So much pain inside
But baby it ain't over 'til it's over

So many gears we've tried
And kept our love alive
'Cause baby it ain't over 'til it's over

So many tears I've cried
So much pain inside
Baby it ain't over 'til it's over

So many gears we've tried
And kept our love alive
'Cause baby it ain't over 'til it's over

So many tears I've cried
So much pain inside
Baby it ain't over 'til it's over

So many gears we've tried
And kept our love alive
'Cause baby it ain't over 'til it's over (over, over)

So many tears I've cried
So much pain inside
Baby it ain't over 'til it's over

So many gears we've tried
And kept our love alive
'Cause baby it ain't over 'til it's over (over, over, over)

So many tears I've cried
So much pain inside
Baby it ain't over 'til it's over (over...fade out)

Rabu, 06 Desember 2006

Hackers' Ethics

What is hacker?

Hackers' ethics are used to

In Praise of Adjectives

This title refers to Carl Honore's book In Praise of Slow (in US, this book called In Praise of Slowness).

Quiet is the new loud, slow is the new speed.

I write about this on my blog because I just don't like the way people play with words. They're twisting words for the sake of the rhyme, not the meaning.
I mean, what's all about these adjectives? just because

Senin, 04 Desember 2006

GUGUR

Dan jemari bougenvil itu
erat bergenggaman
sepanjang sisi tiang kanopi.
Lalu waktu
membuatnya lapuk
diganggu guyuran hujan,
dan angin berhasil
menggugurkan dedaunan
yang ingin menari di awan.
Mereka jatuh terdiam, kecoklatan,
beribu jumlahnya, berbaring tanpa sapa
seakan lupa
mereka pernah bersama.

by: mariana ariestyawati a.k.a mariana hasbie

Rabu, 15 November 2006

Lemper dan krisis energi

Indonesia ini, konon, memiliki sumber energi yang besar. Indonesia, dulu, sempat menjadi salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Tetapi, posisi ini sekarang berbalik. Dari pengekspor minyak terbesar, menjadi pengimpor terbesar. Belakangan, Indonesia malah mengalami krisis energi.

Sebagian orang menganggap, penyebab krisis energi adalah kurangnya kegiatan eksplorasi di Indonesia. Tapi, menurut saya, ada hal lain yang jadi penyebab kebutuhan energi di Indonesia begitu besar sehingga menyebabkan krisis. Menurut saya, slow food adalah penyebabnya.

Indonesia, dan banyak negara asia lainnya, terkenal dengan gaya slow food. Makanan yang mengalami pengolahan berkali-kali dan makan waktu lama. Ambil contoh lemper, misalnya. Perhatikan cara buat lemper: pertama ketan ditanak hingga matang. Lalu bahan isi, ayam , harus diolah terlebih dahulu, dimasak dengan berbagai bumbu. Kemudian, bahan isi diisikan ke dalam ketan lalu dibungkus daun pisang. Barulah akhirnya lemper dibakar di atas arang.

Sekarang, orang Indonesia tidak hanya makan lemper. Tapi juga makan lontong, perkedel, dan pepes ikan. Cara buat lontong, ya, sama seperti lemper. Bagaimana dengan perkedel kentang/daging? Pertama, Anda harus menggoreng kentang/daging. Setelah daging/kentang setengah matang, Anda harus mencampurnya dengan bumbu. Setelah itu Anda bentuk adonan itu menjadi bulatan-bulatan. Terakhir, barulah adonan digoreng. Dan itulah yang Anda sebut sebagai perkedel.

Sekarang pepes. Ini malah lebih rumit lagi. Pokoke ketik CspasiD alias Capeee deee.... hehehe Nah, dengan khazanah makanan slow food seperti ini, ya, pantes aja toh Indonesia mengalami kebangkrutan energi???

Jumat, 10 November 2006

BUAT OTSU

Otsu, Otsu

Pernahkah terbayang olehmu

bahwa Musashi bukanlah kasihmu?

Akankah kau juga begitu

bila bukan Musashi kekasihmu?

Akankah kau tetap setia

bila kasihmu hanyalah paria?

Akankah kau tetap menanti

Saat ia pergi hanya ‘tuk bertani?

Otsu, Otsu

Ceritakan padaku

bagaimana menahan rindu pada zamanmu

tiada telepon apalagi e-mail versi terbaru yahoo!

Otsu, Otsu

Sadarkah dirimu, hanya Musashilah yang membuatmu begitu

Kau seperti itu, karena Musashilah kekasihmu!


* 8 Oktober 2006 *

LINDU

betapa rapuh,

lantai kayu yang kaujejak,

menggoyang tiang-tiang yang kaupacak,

atap bersiap luruh menimpamu


by mariana ariestyawati aka mariana hasbie

  • 8 Oktober 2006*

MENANTIMU

setiap denting

membuatku termangu

mencari dirimu di ambang pintu

*7 Oktober 2006*

by mariana ariestyawati aka mariana hasbie

Selasa, 07 November 2006

sedih deh

sedih nih, gak tau mau ngapain or gimana. In fact, I didn't even know how I feel. Everything is floating

Rabu, 20 September 2006

The Saddest Song(s) in the world

I wrote this not because I wanted to compete with Guy Maddin and his "The saddest music in the world". I just wrote the title and it reminded me of that movie. Well, people are sometimes brokenhearted and sad. It happens to me too. So, I collected some songs that, to me, suits for the break-up situation. They are:

The Way We Were
Barbra Streisand
_____

Memories light the corner of my mind.
Misty water color memories
Of the way we were.

Scattered pictures of the smiles we left behind,
Smiles we gave to one another
For the way we were.


Can it be that it was all so simple then,
Or has time rewritten every line?
If we had the chance to do it all again,
Tell me? would we? could we?

Memories may be beautiful and yet,
What's too painful to remember
We simply choose to forget.
So it's the laughter
We will remember,
Whenever we remember
The way we were;
The way we were.


Rainy Days and Mondays
Carpenters
________

Talking to myself and feeling old
Sometimes I'd like to quit
Nothing ever seems to fit
Hangin' around, nothing to do but frown
Rainy days and Mondays always get me down

What I've got they used to call the blues
Nothing is really wrong
Feeling like I don't belong
Walking around some kind of lonely clown
Rainy days and Mondays always get me down

Funny but it seems I always wind up here with you
It's nice to know somebody loves me
Funny but it seems that it's the only thing to do
To run and find the one who loves me

What I feel is come and gone before
No need to talk it out
We know what it's all about
Hanging around, nothing to do but frown
Rainy days and Mondays always get me down

Funny but it seems that it's the only thing to do
Run and find the one who loves me

Repeat

Hangin around, nothing do to but frown
Rainy days and Mondays always get me down

Minggu, 17 September 2006

Ezra Pound for President!

Sudah saatnya pemimpin negara-negara di dunia berasal dari kalangan sastrawan. Terlalu lama umat manusia diperbudak oleh nafsu kekuasaan. Semata-mata karena pemimpin kita selama ini berasal dari kalangan militer atau bisnis.

Kalangan militer hanya memahami bahasa kekuasaan. Semua diatur dengan tangan besi. Semua harus sama. Semua diarahkan untuk mencapai satu tujuan: keseragaman. Ini tentu menyalahi kodrat manusia yang diciptakan memang berbeda-beda. Untuk apa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, kalau manusianya justru berusaha menciptakan kesamaan pemikiran, keseragaman?

Pemimpin dari kalangan bisnis tak lebih baik. Semua diatur oleh uang. Uang adalah kekuasaan, uang adalah Tuhan. Manusia diarahkan untuk mencapai satu tujuan: uang. Tujuan yang absurd sebetulnya. Mengapa harus berperang demi mengumpulkan kekayaan? Toh, manusia tidak akan hidup selamanya. Uang yang dikumpulkan toh hanya akan ditinggalkan, dan jadi sumber perang generasi sesudahnya.

Sekarang saatnya sastrawan memimpin. Sastrawan lebih memikirkan kemanusiaan. Kekuasaan digunakan demi meraih satu tujuan: menghidupkan kemanusiaan. Kemanusiaan adalah hal paling asasi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Untuk itu, mari kita dukung gerakan Ezra Pound for President!

Demikian pidato yang saya sampaikan tadi malam di hadapan ribuan anggota parlemen seluruh dunia saat kami semua mengikuti kongres perdamaian di Amerika Serikat. Ribuan anggota parlemen dan penggiat LSM berkumpul sejak sore hari di depan gedung putih demi mendengar pidato dari saya.

Pidato saya tutup dengan acungan kepalan tangan yang disambut meriah oleh audiens. Usai berpidato, saya digiring ke ruang oval untuk menikmati jamuan teh bersama beberapa kepala negara lainnya. Tiba-tiba, seorang setengah baya berjas kelabu, sewarna dengan rambutnya, menghampiri dan menyalami saya. "Pidato yang bagus dan membanggakan," katanya. Saya tersenyum dan sedikit gede-rasa. Orang itu ternyata Vaclav Havel.

Tapi, kalian jangan percaya begitu saja ya. Itu cuma mimpi di tengah malam buta. hahahaha...

Kamis, 14 September 2006

Tragedy of Indonesia

Gosh, save me from mediocracy!
"The tragedy of Indonesia, is the tragedy of mediocrity!" (Douglas Ramage, Jakarta's Representative of Asia Foundation)
Gila, di usia RI yang ke-61 ini, di era so-called reformasi, masih ada aja yang pemuda indonesia yang berpikiran cupu!. Si pemuda ini menulis dalam blog-nya bahwa dia benci sekali kalo ada orang Indonesia yang selalu mengeluh tentang Indonesia dan membanding-bandingkannya dengan negara lain. Dia bilang, itu pekerjaan sia-sia. HAH?!!! Does he ever once in his life heard of "BENCHMARKING"?????
Aduuuuhhhh... gue pengen ngomel panjang, tapi sayang sih, di sini gue gak bisa buka blogger. Huh. Nah, kantor gue ini contoh lain dari mediokrasi di Indonesia. Cupuuuu.

day five

You Don't Bring Me Flowers
Barbra Streisand and Neil Diamond
_____

You don't bring me flowers
You don't sing me love songs
You hardly talk to me anymore
When you come through the door
At the end of the day

I remember when
You couldn't wait to love me
Used to hate to leave me
Now after lovin' me late at night
When it's good for you
And you're feeling all right
Well you just roll over
And you turn out the light
And you don't bring me flowers anymore

It used to be so natural
To talk about forever
But 'used to be's' don't count anymore
They just lay on the floor
'Til we sweep them away

And baby, I remember
All the things you taught me
I learned how to laugh
And I learned how to cry
Well I learned how to love
Even learned how to lie
You'd think I could learn
How to tell you good-bye
'Cause you don't bring me flowers anymore

Sabtu, 09 September 2006

Carolyn Kepcher, sidekicknya Donald Trump dari show "The Apprentice", dipecat oleh Trump dari posisinya sebagai Chief Operating Officer di Trump Organization.

Jumat, 08 September 2006

Workmate

My office is often regarded as one of the biggest company in this country. The employees are known as best paid. But does it have to do with capability? I doubt it!

Most of them are below the average. So if one day they get kicked out of office, I wonder where they'll end up.

There are many people who believes in god, but their act don't represent what they believe. They pray a lot but at the same time they do bad things too.

A friend of mine, TPM, is one of them. He looks like a saint, but he regularly reads porn magz, porn sites, porn movies!!! And the last news I heard is he preaches people to go to tarot reader! Isn't it awesome?

And then, he offered me to go to some "orang pienter" to meet my ancestors. I smiled reluctantly, and answered, "What for?"

Minggu, 03 September 2006

Tugu Pratama V: Very Stupid Mulyadi

Sudah dua minggu terakhir, kantor gue menerapkan kebijakan aneh. Surfing di internet maksimal hanya 30 menit! Buka amazon.com, barnesandnoble.com, blogger.com, bahkan yahoogroups malah dilarang sama sekali. Aneh bukan?

Ini memang bukan kebijakan resmi, alias memang gak ada SK-nya. Itu sih "pinter-pinternya" si Mulyadi IT itu. Gimana enggak, ada blog favorit gue yang diblok. Kalo enggak ngintip komputer gue mana bisa dia nutup satu blog itu. Wong ada jutaan blog kok di dunia maya ini. Masa' sih bisa kebetulan that particular blog yang ditutup.

Anyway, gue prihatin juga sama Tugu Pratama. Perusahan yang tahun ini revenue-nya sekitar 16 trilyun ini, gak mampu untuk nambah bandwith! Terus, bullshit tuh jargon "penerapan teknologi demi pelayanan". Mana ada penerapan teknologi di sini? Lo lihat aja website. Yang update di situ cuma berita tentang tugu-nya. Hihi.

Baru-baru ini Tugu mengadakan riset soal kepuasan pelanggan dan persepsi terhadap citra. Yah, udah kebayang kan hasilnya apa. AROGAN. Tentu saja.

Dalam survey itu terbuka bahwa banyak pelanggan yang merasa tugu tidak memiliki personel yang capable. Personel juga tidak menguasai masalah dengan baik. Pengetahuan asuransi kurang. Pokoke, banyakan kurangnya deh. Dan itu, menurut pengalaman gue sendiri, pendapat yang sangat tepat!

Jumat, 25 Agustus 2006

Am I A Liar?

According to recent survey to 1.750 journalist in USA, PR is on the 4th list of unbelievable source. The most unbelievable sources are: 1. politician, 2. sales, 3. insurance agents, and 4. public relations.

Haha... I'm a PR for an insurance company. So I guess that makes me the most unbelievable person. I'm a liar squared. So ironic...

jangan minta

Jangan minta mangga kepada pohon rambutan, tapi mintalah sebaliknya... hahahaha

Selasa, 22 Agustus 2006

One day at work

It was Wednesday, early in the morning, at the office.

Me : Can I borrow a car for tonight. I have to accompany our PD for an interview.
Tohari : Just fill in this form and write the time you'll depart and whether you need a driver or not.
Me : OK. (I filled the form with a red-inked pen)
Tohari : stared at the form and mumbled.

Later that day, wednesday lunch time.

ARD : Why did you do that to Tohari?
Me : What did I do?
ARD : Tohari told me that you filled in the form with red ink.
Me : Ya, I did. What's wrong with that?
ARD : You mustn't do that again next time. Don't you know, writing with red-ink is impolite?
It's a sign of mocking. Mr. Tohari didn't like you writing with red ink. He said, next time
you do it again, he'll just ignore you.
Me : I never knew that writing with red-ink such a big problem. Never heard of it. I didn't
mean to be impolite or to mock anyone. I used to write with red ink to my boss, as I give
him some notes on his letters or proposals. He takes it easy. Never complain.
ARD : Then, he doesn't know that red ink is impolite. For you, don't you ever do that again.
Me : chuckled in disgust and rolled my eyes.

Rabu, 16 Agustus 2006

Dibayar untuk...

Kemarin gue ngaji, di kantor. Tema awal sih tentang hadiah atau hibah, tapi lalu melebar ke mana-mana, termasuk poligami. Iiiihh...

Gue sih gak mau terjebak soal pro-kontra poligami. Jelas, di alquran poligami, eh poligini, dibolehkan. Tapi, gue menyesali, kenapa hukum yang tadinya hanya boleh alias "mubah" terus seakan jadi "sunnah". Belakangan, terbit tabloid Poligami yang berpendapat lebih ekstrem lagi. Poligini seakan jadi wajib, karena menjadi syarat lelaki beriman dan unggul. Walah...

Kebetulan, gue satu-satunya perempuan di majlis itu. Delapan lainnya laki-laki. (hehehe sebetulnya poliandri lebih cucok dong. Besides, poliandri kan bagian dari poligami juga?) Menarik sekali melihat mereka berusaha mengajukan pembenaran poligami kepada gue. Maksud gue, hihihi... mereka ngomong-ngomong poligami segitu gigihnya, tapi paling-paling cuma masih sebatas wacana aja!

Anyway, gue sebel karena gara-gara ngaji itu messenger gue dihapus. Dasar, IT gue emang tukang ngintip komputer orang. Alasannya konyol, "Elo kan dibayar untuk kerja, bukan buat chatting." That's very very stupid, Man! Dasar cupu, picik, te-o-el-o-el!!! Ah, emang susah lo di-up grade! May Allah bless you and give you His hidayah!

Suebbheel

I hate my current office. It doesn't give anyone anything side benefit whatsoever, in terms of personal investment. I can't, or rather mustn't, have speakers on my PC. My meebo was banned, no messengers allowed. Can't install my microsoft reader. I think, working here is a reaaallly, reeeaaallyy bad investment! Hate it! No wonder this country -eh, city, as Nadine said ;-)-- has gone downward. I hate you Cendana! Hate you New Orde! Hate you Money Orde!!! It's such a stupid stupid stupendously stupid!

Kamis, 10 Agustus 2006

Some dork

Gue kerja di sebuah perusahaan asuransi umum di gedung berbentuk piramida warna biru di bilangan Kuningan. hehehe... lo cari ndiri deh tu gedung. Gue baru sih di sini. Tapi, ya, gue gak butuh waktu lama deh untuk memahami situasi kantor ini. It doesn't take a genius to read between the lines. Besides, no genius works here.

Well now I'm mad at one of its employee. It's the system administrator here whose name is Mulyadi. He's so stupid and nosy. He dares even to peep at my computer. I think he has some kind of disorder. Voyeurism, maytbe? The worst thing is that he dares to ban and blokade some of my favorite websites.

Mulyadi is a very stupid person and sok penting and narrow-minded, jealous, and all. Due to his lack of capabilities, I'm inspired to... well mengabadikan (what's that in English?) his name. I change my password to mulyadimonyet...

Got that, Mul? I hate you.
Pasar modal, demokrasi pada jejak kolonial

sumber: Bisnis Indonesia 10 Agustus 2006

JAKARTA: Pada saat merayakan ulang tahun, penelusuran jejak sejarah adalah sebuah kebajikan. Karena pada momentum seperti itu, seseorang harus mundur sejenak untuk refleksi dan introspeksi, sekaligus bisa mengatur langkah untuk menatap masa depan yang lebih cerah.
Begitu pula yang mesti terjadi saat kita merayakan HUT Pasar Modal yang ke-29 kali ini. Kita pantas mengenang peristiwa 29 tahun yang lalu ketika Presiden Soeharto yang pada 10 Agustus 1977 meresmikan pasar modal.

Mari kita camkan sekali lagi peran utama pasar modal seperti yang diharapkan pemerintah saat peresmian itu. Pemimpin Orde Baru itu dengan tegas mengatakan pasar modal adalah agen pemerataan ekonomi. "....perusahaan-perusahaan diberi kesempatan untuk menjual sahamnya kepada masyarakat, dan masyarakat diberi kesempatan untuk membeli saham-saham tersebut." Pasar modal diharapkan menjadi salah satu alat pencapaian demokrasi ekonomi.
Setelah 29 tahun berjalan, layak kita mengajukan pertanyaan bagaimana realisasi peran pasar modal tersebut? Jawabannya adalah masih jauh panggang dari api. Bahkan, masih ada yang bertanya, masihkah peran itu relevan dibicarakan?

Bayangkan bahwa sejak 1977, pasar modal Indonesia berkembang sangat lamban, sekurang-kurangnya dibandingkan dengan bursa di negara tetangga. Hal itu bisa dilihat baik dari sisi supply maupun demand.

Menurut catatan otoritas pasar modal, hingga saat ini baru tercatat 438 emiten yang go public dan 350 di antaranya tercatat di BEJ maupun BES. Bandingkan di Bombay Stock Exchange terdapat 4.756 perusahaan, Tokyo 2.331, Malaysia 1.018 dan Singapura 682 perusahaan.

Tidak demokratis
Padahal potensi pasar modal domestik luar biasa. Mari kita lihat jumlah perusahaan di Indonesia saat ini. Berdasarkan data Departemen Perindustrian terdapat 150.000 perusahaan di mana 36.000 di antaranya masuk dalam ketegori industri besar. Itu berarti dari jumlah tersebut, jumlah yang sudah masuk bursa baru mencapai 1,2%.

Begitu juga dari sisi permintaan. Seperti diakui oleh Dirut BEJ Erry Firmansyah, jumlah pemodal lokal di Tanah Air berkisar antara 300.000 hingga 500. 000. Jumlah itu tentu sangat kecil dibandingkan dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta orang. Perhatikan Malaysia yang pemodalnya sudah mencapai 3 juta orang.

Dengan jumlah pemodal lokal seperti itu, maka tak mengherankan kalau wajah pasar modal kita masih elitis dan tidak menjangkau orang banyak. Pasar modal Indonesia masih teralu sentralistis dan tentu saja tidak demokratis.

Kalau hanya seperti-seperti ini, wajah pasar modal Indonesia sekarang tidak lebih baik dari pasar modal di zaman VOC. Memang bursa Batavia resmi berdiri 14 Desember 1912. Tetapi, menurut catatan resmi, jual beli efek telah berlangsung di wilayah ini sejak 1880.

Perusahaan perkebunan yang diketahui mengeluarkan prospektus pertama di Indonesia adalah Cultuurmaatschppij yangmenjual 400 saham dengan harga 500 gulden per saham. Demikian juga ada perusahaan surat kabar yang diterbitkan di Yogyakarta, Het Centrum juga melakukan emisi untuk mendapatkan modal sebesar 105 ribu gulden dengan harga 100 gulden per saham.
Bahkan, jauh lebih maju dari pasar modal sekarang, karena ternyata bukan hanya perusahaan Belanda yang mencatatkan sahamnya di sini. Sejumlah multinasional dari AS seperti AFC Industry, American Motors, Anaconda Copper dan Betlehem Steel juga pernah tercatat di sini. Saham yang disebut terakhir misalnya merupakan blue chip di bursa New York yang pernah masuk dalam perhitungan rata-rata saham untuk indeks Dow Jones sejak 1928

Rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB di Asia akhir 2005 (%)

Singapura 220
Taiwan 140
Malaysia 138
Korea 90
Thailand 71
Filipina 39
Indonesia 29
Sumber:Bapepam

Jadi sebenarnya jejak pasar modal bisa ditelusuri jauh sebelum Soeharto meresmikan pembukaan kembali pasar modal 29 tahun lalu. Kalau dibanding-bandingkan dengan bursa tetangga, Bursa Batavia misalnya termasuk bursa tertua ketiga setelah Bombay (1930), Hong Kong (1871), dan Tokyo (1878).

Bahkan, jejak pasar modal di Indonesia bisa ditelusuri lebih ke belakang lagi. Bursa tertua di dunia, Amsterdam (Amsterdamse Effektenbeurs) yang berdiri di Dam Square tahun 1611 sudah bersentuhan dengan Indonesia karena wilayah ini merupakan target utamanya. Sebagian besar saham dan obligasi yang tercatat di situ terkait dengan pengumpulan dana untuk ekspedisi dan kegiatan kolonialisme di Indonesia.

Kalau semua sudah pernah ada sebelumnya, apa yang masih dibanggakan dari pasar modal saat ini?
Yang paling sering dibangga-banggakan saat ini adalah soal indeks BEJ yang konon bertumbuh paling pesat di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan catatan, pada periode 2000 hingga Juli 2006 , indeks BEJ mengalami pertumbuhan 215%. Bandingkan pertumbuhan indeks di Thailand (155,7%), Malaysia (36%), Singapura (23%) dan Hong Kong (9%).
Walaupun, dalam urusan membaca indeks, kita mesti tetap waspada karena hanya sedikit keterkaitannya dengan fundamen perekonomian. Bandingkan kekeliruan Irving Fisher yang salah membaca indeks di AS. Pada 15 Oktober 1912 dia begitu terpukau oleh pertumbuhan indeks yang luar biasa hebat.

Tapi sayangnya, dua minggu kemudian terjadi peritiwa Black Monday (28 Oktober) yang sangat menggemparkan ketika Dow Jones mengalami terjun bebas. Bahkan, peristiwa itulah yang kemudian dikenal sebagai awal kejatuhan ekonomi internasional pada dasawarsa 1930-an.

Sering terpeleset
Para pemimpin dan ekonom di Tanah Air pun sering terpeleset ketika terlalu gampang mengaitkan kinerja pembangunan dengan indeks BEJ. Karena kalau disimak, indikator perdagangan BEJ yang terjadi sekarang juga tidak sepenuhnya mengindikasikan sebuah wajah perekomian sehari-hari.

Harga saham, volume perdagangan dan indeksnya kelihatan tinggi, tetapi sebenarnya nilai riil belum tentu lebih baik dari tahun-tahun sebelum krisis. Kalau dulu indeksnya masih di level 500, tetapi saat itu rupiah masih sekitar Rp2.000 untuk satu dolar AS. Sekarang indeks benar di atas seribu, tapi jangan lupa nilai rupiah terhadap dolar sudah melorot hingga Rp9.000 sampai Rp10.000. Jadi apa yang mau dikatakan dengan indikator perdagangan di pasar modal yang hingga kemarin mencapai posisi 1.413,10?

Seperti tak peduli dengan substansi pasar modal, kita memang cukup sering mengaitkan kinerja BEJ dengan kinerja para presidennya. Pada era Habibie dan Gus Dur, para lawan politiknya sering mengait-ngaitkan kinerja mereka yang jelek dengan fluktuasi indeks di bursa.
Pada jaman pemerintahan Megawati dan juga pemerintahan sekarang ini bahkan lebih sensitif lagi dengan turun naiknya indeks. Saking sensitif, beberapa kali mereka perlu menyempatkan diri datang membesuk lantai bursa. Siapa tahu kehadiran mereka bisa menyeret suasana psikologis para pelakunya.

Kendati sering meraup keuntungan politis dari lantai bursa, pemerintah sebenarnya kurang memberi perhatian yang serius soal pasar modal. Pemerintah tidak pernah serius mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dan memanfaatkan pasar modal. Padahal sebagian dari mereka adalah pengusung paham ekonomi neoliberal yang sangat memberi prioritas pada ekonomi finansial yang virtual itu daripada ekonomi riil.

Ada pemikiran yang berkembang di kalangan neoliberal bahwa berkembangnya pasar modal dan finansial-yang didukung oleh revolusi teknologi informasi-pada gilirannya akan memberi manfaat langsung pada sektor riil. Perputaran uang pada transaksi-transaksi derivatif dipikirkan akan menopang kegiatan di sektor riil seperti membangun pabrik dan pendistribusian hasil-hasilnya.

Mudah-mudahan saja demikian. Tapi, mari kita menunggu realisasinya dengan sebuah rasa curiga. Karena ternyata hubungannya tidak persis demikian. Hasil penelitian dua ekonom Prancis, Gerald Dumenil dan Dominique dalam Capital Resurgent,Roots of the Neoliberal Revelolution (2004) memperlihatkan hasil yang mencemaskan. Karena ternyata manfaat perputaran uang di tingkat virtual sangat mimim bagi perkembangan di sektor riil. Keuangan seakan mendanai diri sendiri, tapi tak pernah mendanai investasi.

Makanya tak perlu diherankan kalau kendati indeks di pasar modal kelihatan tumbuh gagah perkasa, tapi sektor riil tetap merayap penuh susah payah. (abraham.runga@bisnis.co.id)

Selasa, 27 Juni 2006

Least Reinforcing Syndrome (LRS)

Sindroma ini diperkenalkan oleh seorang ahli pengajar binatang-binatang. Ternyata unik sekali cara mengajar binatang agar mereka dapat menjadi bintang sirkus. Lebih unik lagi, metode ini cocok juga diterapkan pada... laki-laki!

Konon di New York, seorang penulis pernah mengunjungi tempat pelatihan binatang. Di sana ia melihat betapa sabarnya si pelatih binatang itu. Setiap binatang itu melakukan yang diperintahkan, pelatih akan memberikan "siswanya" hadiah. Kalau binatang itu melakukan kesalahan si pelatih tidak marah, ia diam saja.

Si pelatih menjelaskan, bahwa sikapnya itu bukan karena keluasan hati atau semacamnya. Itu memang bagian dari metode yang ia namakan least reinforcing syndrome (LRS). Dalam metode ini, hanya dikenal reward tak ada punishment. Setiap kesalahan tak mendapat ganjaran, sebaliknya setiap "kebenaran" langsung mendapat hadiah.

Alasannya, ternyata, binatang adalah makhluk coba-coba. Hukuman atau sabetan setiap ada kesalahan tidak membuat kapok. Tetapi malah memancing mereka coba-coba lagi. Bukan kesalahan mereka yang akan mereka ingat, melainkan bahwa bila mereka melakukan a mereka akan mendapat b.

Nah, ini terjadi juga pada manusia. Bila setiap hal negatif yang mereka lakukan mendapat ganjaran, seringkali hal negatif ini malah berulang. Nah, lebih baik positive thinking. Beri saja ganjaran untuk hal-hal positif. Mungkin memang manusia dan binatang hanya sedikit bedanya.

Kamis, 15 Juni 2006

Kucing Belang Tiga

Belakangan ini gue lagi bersentuhan dengan hal-hal berbau kucing. Mulai dari anak kucing sampai tai kucing (ai icung, kalo kata ponakan gue).

Jadi, suatu malam, sepulang kantor and everywhere, kami mendapati sesosok makhluk baru di rumah. Makhluk itu adalah seekor kucing berperut gendut. Kucing warna putih berbelang hitam itu ternyata tengah hamil tua. Sedikit lagi mak mbrojol.

Kami tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. As usual, lampu-lampu di rumah kami pada jam segitu sudah padam. Maka, saat masuk gue langsung menyalakan lampu ruangan. Saat lampu menyala, betapa kagetnya gue melihat seekor kucing di atas meja sedang asyik menikmati sisa makanan. Remah-remah makanan berhamburan di meja dan di lantai sekeliling meja makan kami. Kotor sekali.

Si kucing tak kalah kaget. Dengan sigap dia langsung melompat turun dari meja. Tapi dia tidak lari. Wajahnya malah mendongak memerhatikan kami yang baru datang. Dengan wajah seperti itu, ia malah cenderung terlihat menantang ketimbang kaget. Menyebalkan.

Tak pelak, kemarahan gue terpancing. Langung gue copot sepatu kets yang terpasang di kaki lalu gue lemparkan ke kucing jahanam itu. Ngeeoook.... si kucing mendengking. Tapi dia tidak berlari, instead dia cuma cuma berjalan pelan pergi.

Nafsu sekali gue, malam-malam, capek karena seharian kerja, eh pas pulang kok ada kucing mberantakin meja. Bikin kerjaan nih.

Sehabis bersihin sisa-sisa kucing, kebayang dong capeknya kami. Akhirnya, kami langsung ke kamar untuk beristirahat. Lampu kami nyalakan. Segala tas dan jinjingan kami letakkan. Kasur kami ber.... APPPAAA???? Whaddefuck....

Melotot kami hingga biji mata melompat ke luar demi melihat seonggok benda warna putih coklat agak lembek, dan berbau tajam di atas kasur kami. Yup... seonggok tai kucing berbaring bahagia di atas kasur kami yang biru cemerlang. Keluarlah kosamakian dari mulut kami. Segala isi Ragunan kami absen, plus derivasinya.

Jam satu malem, Tuhan, jam satu!!! Tadi gue berangkat kerja jam tujuh pagi, baru selesai urusan jam sebelas malem, dan besok gue harus berangkat jam tujuh lagi. Sedangkan sekarang udah jam satu, JAM SATU... dan gue masih harus berurusan dengan TAI KUCING???... Baru sekarang gue memahami arti kata "absurd". Dan sejak saat itu kami mengancangkan dendam kesumat pada kucing!

Esoknya, kami berniat membuang kucing yang kami lihat malamnya. Dengan berapi-api kami ceritakan pengalaman semalam kepada penghuni rumah lainnya. Lalu kami utarakan niat untuk membuang jauh-jauh kucing kami itu. Te-Ta-Pi...

Ternyata, kucing itu sore tadi sudah melahirkan. Tentu saja penghuni rumah kami lainnya tak tega membuang kucing itu. Mereka bilang, biarkanlah si kucing beristirahat paling tidak tiga hari. Toh, ibu-ibu melahirkan saja juga butuh waktu untuk istirahat. Lagi pula, ternyata si kucing itu melahirkan anak kucing jantan berbelang tiga. Ayah kami langsung berfatwa, selamatkan anak yang berbelang tiga itu. Itu kucing langka. Konon, yang memiliki kucing jenis itu akan beruntung.

Selang beberapa hari, di suatu hari minggu, keluarga besar sedang pergi semua. Tinggallah gue dan adik gue di rumah. Kami banyak kerjaan. Kami menghabiskan hari di kamar tertutup sambil mengetik di depan komputer dari jam 10 pagi.

Kesibukan gue di kamar baru berhenti ketika mendengar jeritan minta tolong dari adik bungsu gue. Langsung gue keluar kamar dengan panik. Di luar, di ruang tengah, adik gue berteriak dengan menutup muka sambil duduk dengan kaki naik di bangku. Dia menunjuk-nunjuk pintu kamar setrika. Dengan panik, gue buka kamar itu. Tahu apa yang gue lihat? Hiiiii.... bergidik gue kalo inget. Di kamar itu, ada kucing jantan kekar warna kuning sedang menyantap si anak kucing belang tiga!!! hiiiii....

Anak kucing itu tergeletak sudah tak bernyawa dengan leher bermandikan darah. Hoeeekk... Si jantan enak aja melenggang pergi dengan tenang. Sebaliknya si induk mengeong-ngeong melolong, mondar-mandir kamar dan dapur. Seolah-olah dia sedang berteriak minta tolong. Wajahnya terlihat sedih, berdiri di samping bangkai anaknya tertegun sambil mengeong-ngeong. Kasihaaaaaan sekali.

Gue dan adik gue panik. Pengin buang bangkainya, tapi jijik. Akhirnya, kami punya akal bulus. hihihi... kami panggil anak tetangga yang sangat sayaang sama kucing. Kami minta dia yang membuangkan mayatnya. hihihi. Eh, ternyata dia juga jijik. Tapi dia memberi solusi dengan memanggil ayahnya. Hah, ayahnya langsung masuk dan membuang bangkai itu. Lega deh... Si ayah berkomentar, kucing jantan berbelang tiga memang pendek umur katanya.

Yah, dengan kejadian ini, gue harus bersabar dong membuang kucing itu. Meski mereka sudah sangat merepotkan --karena meja sering berantakan, kamar jadi bau, dan tai kucingnya itu lhoo, kami harus memberi waktu berkabung kepada mereka. Ya sudah.

Beberapa hari kemudian, hari Jumat kalo ndak salah, si induk berulah lagi. Suatu malam, sepulang kantor, gue membaca koran di ruang tengah. Saat membaca itu, gue mencium bau-bau aneh yang menyengat. Antara pesing bau kencing dan bau sampah organik membusuk. Susah lah dideskripsikan. Setelah gue susuri, ternyata bau itu berasal dari tumpukan koran. Benar, ada noda kuning besar di tumpukan. HAH... tumpukan koran gue dikencingin makhluk keparat itu. BEDEBAH!

Akhirnya gue berketetapan hati membuang kucing beserta keluarganya. Ketika hari Sabtu tiba, gue siapkan kardus dan tali rafia untuk membuang kucing itu. Kardus gue bolong-bolongi supaya ada udara masuk. Gue isi pula dengan beberapa potong ikan, to keep them busy. Akhirnya, gue masukkan lah dua anak kucing terlebih dahulu. Baru kemudian si induk.

HOAAA... susah bener, pemberontakan kucing itu luar biasa. Meski kami sudah berhasil menutup kardus dan mengikatnya dengan tali, tangan si induk berhasil mencakar-cakar dan menjulur-julur ke luar. Dahsyat sekali semangat survivalnya. Suara meongannya terdengar panik dan marah. Dia bahkan bisa merobek lubang ventilasi menjadi lebih lebar hingga kepalanya bisa menjulur keluar. Terpaksa, lubang itu kami tambal dengan setumpuk koran. Berhasil. Kotak itu kami angkut dengan bantuan ojek.

Sesampainya di sebuah lapangan di Kuningan, kotak dibuka. Si induk terdiam di dalam, enggan keluar. Badannya bergetar, entah karena takut atau karena marah. Setelah agak tenang, akhirnya di mencoba keluar. Pelan-pelan. Lapangan begitu luas, tapi lengang. Kami tinggalkan si kucing. Sebetulnya sih kasihan. Tapi, mengingat kerusakan yang pernah ia sebabkan, kami tak punya pilihan. Yah, gimana lagi ya, Cing. Dunia begitu luas, kejarlah cita-citamu... if you have one.

Kamis, 20 April 2006

Cerita Soal Sapi Perah

Last March, at 30th for exact, I went with a group of friends to Bukit Baros. We visited a cheese factory. We were allowed to observe the process of making cheese, from scratch to ... scratches :-P Naaay, from milk to packed cheese.

There was a picture of a healthy fat cow, hanging on the wall in the reception room in the factory. The cow was so fat and shiny, that the first time we saw it we just knew how delicious she is, hehehe... Well yes, she is healthy and fat.

Mr. Jusuf Ishak, the "kaas ingeniur", to see how I wondered the cow, approached me. He asked, "Do you know how much it produces milk everyday?" He pointed at the picture and explained that the cow can at least produce 40 litre of milk everyday. "That's the different between hollandse koe and indonesian cows," he said. He explained further that indonesian cows can only produce at most 10 litre milk per day. It means four times less than their abroad colleagues.

This difference happens, according to Mr. Jusuf, due to the treatment each cow accepts. In Netherlands, the farmers treats their vee very well. They even tend to spoil them. The cows won't be allowed to work hard. It'll make their meat hard too.

But in Indonesia, people treat cow recklessly. As a result, the cow get depressed and stressful. Depression and stress in animal is just the same as in human. It makes us unproductive. So as to cow, they can't produce milk in optimal quantity. And qua quality, the milk they produce is not as good as imported goods.

So... learned something from the story, readers? Pliiiz, if you want to get the best, give also your best. Not other way.

Kamis, 16 Maret 2006

IT AIN'T OVER 'TIL IT'S OVER

Being a loser is unbearable. You tell me, and I'll tell you all about it. It's a sort been-there-done-that situation for me. It's not that I'm not a loser anymore, I still am (not that I'm proud of it!). But now am a loser with faith. (Besides, I've put unbearable things here in this blog hehe...)

When I was a kid, I always got what I wanted. I am everything but lose. I was always the youngest yet the wisest (:-P), smallest yet the strongest, naughtiest but the smartest. Up to senior high, luck seemed to dominate me. I can be as "slordig" as I could, but winning was always my middle name.

Failure after failure seemed to catch me. I felt disappointed, sad, useless, all negative things. Everytime I got sad, or had negative feelings, I always thougt that my life is about to be over. I thougt, I can't crawl back to where I began. But life is nothing but a fight. It ain't over 'til it's over.

One day, someone told me that for those who are standing at the lowest point of their life there's no way out but up. This advice made me think the other way round. If I'm at the lowest point of my life, there's only one way out: that is, up.

So now, everytime I feel that I'm at the lowest point of my life I can be optimistic. Coz I know, for those at the lowest point, there's only one way out: up.

Jumat, 17 Februari 2006

Sutiyoso-Jakarta

"Keberhasilan pembangunan di Jakarta ini makin menjadikan ibu kota kita ini bagai magnet bagi orang untuk datang. Ibarat peribahasa “ada gula, ada semut”. Nah, gulanya itu berada di Monas. Ya semutnya datang semua." (Sutiyoso, masih dalam wawancara yang sama)

Well, I guess it's not the success of Jakarta that invites the urbans. On the contrary, it's the government's failure to develop other regions which makes people desperately seeking jobs. JANGAN GE-ER

Jakarta, oh, Jakarta Kita

"Tidak semua yang dilakukan oleh kota lain itu bisa dilakukan di Jakarta. Ada bagian tertentu yang bisa diterapkan ada pula yang tidak. Seperti untuk masalah transportasi saya mengadopsi konsepnya dari Bogota, Kolombia. Kondisinya sangat mirip dengan Jakarta. Sedang untuk masalah sampah, saya belajar dari Berlin (Jerman), Busan (Korea Selatan), Shanghai (Cina), Vancouver (Kanada), dan banyak kota lainnya. Dari proses belajar itu ternyata sampah itu kalau dibuang sembarangan menjadi penyakit, tapi kalau dikelola menjadi duit. Kenapa aku tidak ikut itu?" (Sutiyoso, dalam wawancara Majalah Gatra)

Pak e, pak e, kok kita bisanya niru mulu yah. Emang sih, there's nothing new under the sun. Tapi, mbok ya o. Mosok, kita selalu kebagian yang paling belakangan? Kan, dulu-dulu banyakan orang lain yang niru kita. Terus, soal studi banding. Kayaknya, nih, kayaknya, belajar soal transportasi, banjir, sampah tuh dah dari duuuuullllllluuuuuuuuuuu banget. kok gak ada prakteknya yah? Lagian, kalo soal banjir kan jakarta emang udah dari zaman belanda getu lo. Kok kita gak mau niru belanda sih? payah. Udah dulu deh sekarang, ntar gue lanjutin di postingan berikut. Dag!

Sabtu, 04 Februari 2006

Saijah Awaits...



REMEMBER Saijah from Multatuli's Max Havelaar? On the buffallo he waited for his beloved Adinda. But the war destroyed everything, even their pure love. Saijah and Adinda now remain a tale of love from kampong. Listen now to Saijah, as he lamented all through the town, in searching for Adinda:

"Ik weet niet waar ik sterven zal.
Ik heb de grote zee gezien aan de Zuidkust, toen ik daar was met mijn vader om zout te maken.
Als ik sterf op de zee, en men werpt mijn lichaam in het diepe water, zullen er haaien komen. Ze zullen rondzwemmen om mijn lijk, en vragen: "wie van ons zal het lichaam verslinden dat daar daalt in het water?"
Ik zal 't niet hooren.

Ik weet niet waar ik sterven zal.
Ik heb het huis zien branden van Pa-ansoe, dat hijzelf had aangestoken omdat hij mata-glap was
Als ik sterf in een brandend huis, zullen er gloeiende stukken hout neervallen op myn lijk. En buiten het huis zal een groot geroep zyn van menschen die water werpen om het vuur te dooden.
Ik zal 't niet hooren.


Ik weet niet waar ik sterven zal.
Ik heb den kleinen Si-oenah zien vallen uit den klappa-boom, toen hij een klappa plukte voor zijne moeder.
Als ik val uit een klappa-boom, zal ik dood nederliggen aan den voet, in de struiken, als Si-oenah. Dan zal mijn moeder niet schreien, want zij is dood. Maar anderen zullen roepen: "zie, daar ligt Saidjah! met harde stem.
Ik zal 't niet hooren.

Ik weet niet waar ik sterven zal.
Ik heb het lijk gezien van Pa-Lisoe, die gestorven was van hoogen ouderdom, want zijn haren waren wit. Als ik sterf van ouderdom, met witte haren, zullen de klaagvrouwen om mijn lijk staan. En zij zullen misbaar maken als de klaagvrouwen bij Pa-lisoe's lijk. En ook de kleinkinderen zullen schreien, zeer luid.
Ik zal 't niet hooren.


Ik weet niet waar ik sterven zal. Ik heb velen gezien te Badoer, die gestorven waren. Men kleedde hen in een wit kleed, en begroef hen in den grond. Als ik sterf te Badoer, en men begraaft my buiten de dessah, oostwaarts tegen den heuvel, waar 't gras hoog is, Dan zal Adinda daar voorbijgaan, en de rand van haar sarong zal zachtkens voortschuiven langs het gras...
Ik zal het hooren."


..................luister maar, luister eens met aandacht. zijn we de Saijah of Adinda?

Jumat, 03 Februari 2006

The Green Green Grass of Home


THE picture above was taken (by me of course, note that!) at Serang, 16 Jan 2006. I went there to make a documentary about polio. Yeah, sad isn't it?

Jumat, 13 Januari 2006

LAMPU*

Suatu malam di bulan Desember, udara amat gerah. Langit tengah memerah air dari tubuh-tubuh makhluk di bawah naungannya. Esok atau lusa, baru ia akan mengembalikan air yang dipinjamnya itu. Entah dengan bunga atau tidak.

Malam telah larut. Penyiar radio mengucap salam perpisahan. Rama masih berkutat di depan komputer. Setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan. Butir-butir keringat di dahinya riuh berlomba cepat-cepat meluncur turun ke pelipis, pipi, dagu, dan tess… membasahi kausnya. Rama terpaksa membuka kaus yang telah kuyup. Persis di saat Sinta, istrinya, masuk ke kamar mereka itu. “Sedang apa?” tanya Sinta, biasa.
“Kamu tidak bisa melihat?” Rama menjawab ketus.
“Aku ingin tidur,” kata Sinta. Itu artinya, Rama harus berhenti bekerja dan segera mematikan lampu kamar. Sinta memang terbiasa tidur dengan lampu padam.
“Pekerjaanku menumpuk,” jawab Rama.
Diam.
Sunyi.
Rama menghela napas. Tumpukan kertas di hadapannya segera dibereskan. Ia bersiap mematikan laptop dan lampu. Tangannya terulur. Lalu terhenti karena suara Sinta, “Lampunya berdengung.”
“Apa?”
“Lampu kamar kita, berdengung,” Sinta mengulang ucapannya. Sinta berbaring telentang dan matanya mengamati lampu neon yang menempel di langut-langit kamar.
“Tidak. Lampunya tidak berdengung,” kata Rama, ikut mengamati lampu.
“Kamu pikir saya mengada-ada?” Sinta menatap suaminya dengan tajam.
“Maksud saya,” Rama berhenti sejenak untuk menghela napas, “lampu itu memang berdengung. Tapi dengungan biasa.”
“Justru karena dengungan itu tidak biasa, makanya saya heran,” kata Sinta. Kali ini ia bangkit dari tiduran dan duduk di tepi ranjang. Sekarang, kuping kanannya yang diarahkan ke lampu. Setelah beberapa saat, “Betul, lampunya berdengung lebih keras dari biasa.”

Rama meluruhkan tubuhnya. Tak tahu harus berbuat apa. Ia berjalan mondar-mandir di kamar berukuran empat kali enam meter persegi itu. Laptop masih menyala. Tumpukan kertas masih di tempatnya. Rama tak berkata-kata. Tiba-tiba, Sinta beranjak dari ranjangnya. Tangannya meraih sakelar, lalu pet, lampu dimatikan. “Tenang kan, sekarang?” Sinta meminta afirmasi.
“Terus terang, saya tidak merasakan bedanya,” Rama menjawab ragu-ragu.

“Tidak ada bedanya?” suara Sinta mulai meninggi. “Apa maksudmu tidak ada bedanya? Coba perhatikan baik-baik.” Sinta lalu kembali menyalakan lampu. Mendiamkannya sebentar, lalu mematikannya lagi. Mendiamkan sebentar, lalu menyalakannya lagi. Sinta berdiri tepat di hadapan suaminya. Menatap lurus matanya. “Bagaimana?”

Rama menggelengkan kepala, “Saya tidak mengerti maksudmu.”
“Jadi kamu betul-betul tidak bisa mendengar suara apa pun?” Sinta mengerutkan dahi. “Masak tidak bisa membedakan suara lampu nyala dan lampu mati?”
“Sebetulnya kamu ingin saya bagaimana?” Rama bertanya hampir putus asa.
“Saya ingin kamu bicara yang sebenarnya!” Sinta menjawab putus asa.
Rama menutup wajah dengan kedua tangannya. Terdengar suara embusan napasnya.
“Kenapa sih, kamu tidak pernah percaya yang saya katakan?” Sinta bertanya dengan suara pelan. Ada nuansa kesedihan dalam suaranya.
“Saya bukan tak percaya, hanya saja suara tadi tidak terlalu istimewa,” jawab Rama.
“Oh, sekarang aku mengada-ada,” Sinta mengernyitkan dahi.
“Bukan mengada-ada, cuma…”
“Berlebihan, maksudmu?”
“Saya tidak pernah paham, mengapa kamu selalu memuntir perkataanku,” sergah Rama.
“Selalu? SELALU???” suara Sinta meninggi.
“YA!” suara Rama tak kalah tinggi.
“Kamu SELALU tidak mau tahu perasaanku. SELALU tidak percaya kata-kataku,” Sinta mulai sengit.
“Kamu SELALU mendikte orang lain. Apa yang harus dikatakan, yang harus dirasakan, yang harus didengarkan. Semua!”
“Karena kamu memang sering tidak tahu apa yang harus dikatakan, dirasakan, atau didengarkan!”
“Tidak masuk akal!” Rama mengibaskan tangannya.
“Buat kamu semua yang saya katakan memang tidak pernah masuk akal,” kata Sinta.
“Bukan itu maksudku.”
“Aku memang tidak pernah paham maksudmu. Tak pernah bisa,” kata Sinta.
“Bukan tak bisa, kamu memang tak mau,” kata Rama.

Sinta tak menjawab.

Rama mematikan komputer. Sinta mematikan lampu.

Keduanya tidur di ranjang, saling memunggungi. Tak ada yang bicara. Mereka memejamkan mata, tapi tidak tidur. Sayup-sayup mulai terdengar suara azan. Tak terdengar dengungan. Lampu padam.


*) 10 Januari 2006,
Untuk pernikahan Beng-Lulu. Selamat!

Pengikut