Suatu malam di bulan Desember, udara amat gerah. Langit tengah memerah air dari tubuh-tubuh makhluk di bawah naungannya. Esok atau lusa, baru ia akan mengembalikan air yang dipinjamnya itu. Entah dengan bunga atau tidak.
Malam telah larut. Penyiar radio mengucap salam perpisahan. Rama masih berkutat di depan komputer. Setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan. Butir-butir keringat di dahinya riuh berlomba cepat-cepat meluncur turun ke pelipis, pipi, dagu, dan tess… membasahi kausnya. Rama terpaksa membuka kaus yang telah kuyup. Persis di saat Sinta, istrinya, masuk ke kamar mereka itu. “Sedang apa?” tanya Sinta, biasa.
“Kamu tidak bisa melihat?” Rama menjawab ketus.
“Aku ingin tidur,” kata Sinta. Itu artinya, Rama harus berhenti bekerja dan segera mematikan lampu kamar. Sinta memang terbiasa tidur dengan lampu padam.
“Pekerjaanku menumpuk,” jawab Rama.
Diam.
Sunyi.
Rama menghela napas. Tumpukan kertas di hadapannya segera dibereskan. Ia bersiap mematikan laptop dan lampu. Tangannya terulur. Lalu terhenti karena suara Sinta, “Lampunya berdengung.”
“Apa?”
“Lampu kamar kita, berdengung,” Sinta mengulang ucapannya. Sinta berbaring telentang dan matanya mengamati lampu neon yang menempel di langut-langit kamar.
“Tidak. Lampunya tidak berdengung,” kata Rama, ikut mengamati lampu.
“Kamu pikir saya mengada-ada?” Sinta menatap suaminya dengan tajam.
“Maksud saya,” Rama berhenti sejenak untuk menghela napas, “lampu itu memang berdengung. Tapi dengungan biasa.”
“Justru karena dengungan itu tidak biasa, makanya saya heran,” kata Sinta. Kali ini ia bangkit dari tiduran dan duduk di tepi ranjang. Sekarang, kuping kanannya yang diarahkan ke lampu. Setelah beberapa saat, “Betul, lampunya berdengung lebih keras dari biasa.”
Rama meluruhkan tubuhnya. Tak tahu harus berbuat apa. Ia berjalan mondar-mandir di kamar berukuran empat kali enam meter persegi itu. Laptop masih menyala. Tumpukan kertas masih di tempatnya. Rama tak berkata-kata. Tiba-tiba, Sinta beranjak dari ranjangnya. Tangannya meraih sakelar, lalu pet, lampu dimatikan. “Tenang kan, sekarang?” Sinta meminta afirmasi.
“Terus terang, saya tidak merasakan bedanya,” Rama menjawab ragu-ragu.
“Tidak ada bedanya?” suara Sinta mulai meninggi. “Apa maksudmu tidak ada bedanya? Coba perhatikan baik-baik.” Sinta lalu kembali menyalakan lampu. Mendiamkannya sebentar, lalu mematikannya lagi. Mendiamkan sebentar, lalu menyalakannya lagi. Sinta berdiri tepat di hadapan suaminya. Menatap lurus matanya. “Bagaimana?”
Rama menggelengkan kepala, “Saya tidak mengerti maksudmu.”
“Jadi kamu betul-betul tidak bisa mendengar suara apa pun?” Sinta mengerutkan dahi. “Masak tidak bisa membedakan suara lampu nyala dan lampu mati?”
“Sebetulnya kamu ingin saya bagaimana?” Rama bertanya hampir putus asa.
“Saya ingin kamu bicara yang sebenarnya!” Sinta menjawab putus asa.
Rama menutup wajah dengan kedua tangannya. Terdengar suara embusan napasnya.
“Kenapa sih, kamu tidak pernah percaya yang saya katakan?” Sinta bertanya dengan suara pelan. Ada nuansa kesedihan dalam suaranya.
“Saya bukan tak percaya, hanya saja suara tadi tidak terlalu istimewa,” jawab Rama.
“Oh, sekarang aku mengada-ada,” Sinta mengernyitkan dahi.
“Bukan mengada-ada, cuma…”
“Berlebihan, maksudmu?”
“Saya tidak pernah paham, mengapa kamu selalu memuntir perkataanku,” sergah Rama.
“Selalu? SELALU???” suara Sinta meninggi.
“YA!” suara Rama tak kalah tinggi.
“Kamu SELALU tidak mau tahu perasaanku. SELALU tidak percaya kata-kataku,” Sinta mulai sengit.
“Kamu SELALU mendikte orang lain. Apa yang harus dikatakan, yang harus dirasakan, yang harus didengarkan. Semua!”
“Karena kamu memang sering tidak tahu apa yang harus dikatakan, dirasakan, atau didengarkan!”
“Tidak masuk akal!” Rama mengibaskan tangannya.
“Buat kamu semua yang saya katakan memang tidak pernah masuk akal,” kata Sinta.
“Bukan itu maksudku.”
“Aku memang tidak pernah paham maksudmu. Tak pernah bisa,” kata Sinta.
“Bukan tak bisa, kamu memang tak mau,” kata Rama.
Sinta tak menjawab.
Rama mematikan komputer. Sinta mematikan lampu.
Keduanya tidur di ranjang, saling memunggungi. Tak ada yang bicara. Mereka memejamkan mata, tapi tidak tidur. Sayup-sayup mulai terdengar suara azan. Tak terdengar dengungan. Lampu padam.
*) 10 Januari 2006,
Untuk pernikahan Beng-Lulu. Selamat!