Jumat, 17 Februari 2006

Jakarta, oh, Jakarta Kita

"Tidak semua yang dilakukan oleh kota lain itu bisa dilakukan di Jakarta. Ada bagian tertentu yang bisa diterapkan ada pula yang tidak. Seperti untuk masalah transportasi saya mengadopsi konsepnya dari Bogota, Kolombia. Kondisinya sangat mirip dengan Jakarta. Sedang untuk masalah sampah, saya belajar dari Berlin (Jerman), Busan (Korea Selatan), Shanghai (Cina), Vancouver (Kanada), dan banyak kota lainnya. Dari proses belajar itu ternyata sampah itu kalau dibuang sembarangan menjadi penyakit, tapi kalau dikelola menjadi duit. Kenapa aku tidak ikut itu?" (Sutiyoso, dalam wawancara Majalah Gatra)

Pak e, pak e, kok kita bisanya niru mulu yah. Emang sih, there's nothing new under the sun. Tapi, mbok ya o. Mosok, kita selalu kebagian yang paling belakangan? Kan, dulu-dulu banyakan orang lain yang niru kita. Terus, soal studi banding. Kayaknya, nih, kayaknya, belajar soal transportasi, banjir, sampah tuh dah dari duuuuullllllluuuuuuuuuuu banget. kok gak ada prakteknya yah? Lagian, kalo soal banjir kan jakarta emang udah dari zaman belanda getu lo. Kok kita gak mau niru belanda sih? payah. Udah dulu deh sekarang, ntar gue lanjutin di postingan berikut. Dag!

Tidak ada komentar:

Pengikut