Sindroma ini diperkenalkan oleh seorang ahli pengajar binatang-binatang. Ternyata unik sekali cara mengajar binatang agar mereka dapat menjadi bintang sirkus. Lebih unik lagi, metode ini cocok juga diterapkan pada... laki-laki!
Konon di New York, seorang penulis pernah mengunjungi tempat pelatihan binatang. Di sana ia melihat betapa sabarnya si pelatih binatang itu. Setiap binatang itu melakukan yang diperintahkan, pelatih akan memberikan "siswanya" hadiah. Kalau binatang itu melakukan kesalahan si pelatih tidak marah, ia diam saja.
Si pelatih menjelaskan, bahwa sikapnya itu bukan karena keluasan hati atau semacamnya. Itu memang bagian dari metode yang ia namakan least reinforcing syndrome (LRS). Dalam metode ini, hanya dikenal reward tak ada punishment. Setiap kesalahan tak mendapat ganjaran, sebaliknya setiap "kebenaran" langsung mendapat hadiah.
Alasannya, ternyata, binatang adalah makhluk coba-coba. Hukuman atau sabetan setiap ada kesalahan tidak membuat kapok. Tetapi malah memancing mereka coba-coba lagi. Bukan kesalahan mereka yang akan mereka ingat, melainkan bahwa bila mereka melakukan a mereka akan mendapat b.
Nah, ini terjadi juga pada manusia. Bila setiap hal negatif yang mereka lakukan mendapat ganjaran, seringkali hal negatif ini malah berulang. Nah, lebih baik positive thinking. Beri saja ganjaran untuk hal-hal positif. Mungkin memang manusia dan binatang hanya sedikit bedanya.
Selasa, 27 Juni 2006
Kamis, 15 Juni 2006
Kucing Belang Tiga
Belakangan ini gue lagi bersentuhan dengan hal-hal berbau kucing. Mulai dari anak kucing sampai tai kucing (ai icung, kalo kata ponakan gue).
Jadi, suatu malam, sepulang kantor and everywhere, kami mendapati sesosok makhluk baru di rumah. Makhluk itu adalah seekor kucing berperut gendut. Kucing warna putih berbelang hitam itu ternyata tengah hamil tua. Sedikit lagi mak mbrojol.
Kami tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. As usual, lampu-lampu di rumah kami pada jam segitu sudah padam. Maka, saat masuk gue langsung menyalakan lampu ruangan. Saat lampu menyala, betapa kagetnya gue melihat seekor kucing di atas meja sedang asyik menikmati sisa makanan. Remah-remah makanan berhamburan di meja dan di lantai sekeliling meja makan kami. Kotor sekali.
Si kucing tak kalah kaget. Dengan sigap dia langsung melompat turun dari meja. Tapi dia tidak lari. Wajahnya malah mendongak memerhatikan kami yang baru datang. Dengan wajah seperti itu, ia malah cenderung terlihat menantang ketimbang kaget. Menyebalkan.
Tak pelak, kemarahan gue terpancing. Langung gue copot sepatu kets yang terpasang di kaki lalu gue lemparkan ke kucing jahanam itu. Ngeeoook.... si kucing mendengking. Tapi dia tidak berlari, instead dia cuma cuma berjalan pelan pergi.
Nafsu sekali gue, malam-malam, capek karena seharian kerja, eh pas pulang kok ada kucing mberantakin meja. Bikin kerjaan nih.
Sehabis bersihin sisa-sisa kucing, kebayang dong capeknya kami. Akhirnya, kami langsung ke kamar untuk beristirahat. Lampu kami nyalakan. Segala tas dan jinjingan kami letakkan. Kasur kami ber.... APPPAAA???? Whaddefuck....
Melotot kami hingga biji mata melompat ke luar demi melihat seonggok benda warna putih coklat agak lembek, dan berbau tajam di atas kasur kami. Yup... seonggok tai kucing berbaring bahagia di atas kasur kami yang biru cemerlang. Keluarlah kosamakian dari mulut kami. Segala isi Ragunan kami absen, plus derivasinya.
Jam satu malem, Tuhan, jam satu!!! Tadi gue berangkat kerja jam tujuh pagi, baru selesai urusan jam sebelas malem, dan besok gue harus berangkat jam tujuh lagi. Sedangkan sekarang udah jam satu, JAM SATU... dan gue masih harus berurusan dengan TAI KUCING???... Baru sekarang gue memahami arti kata "absurd". Dan sejak saat itu kami mengancangkan dendam kesumat pada kucing!
Esoknya, kami berniat membuang kucing yang kami lihat malamnya. Dengan berapi-api kami ceritakan pengalaman semalam kepada penghuni rumah lainnya. Lalu kami utarakan niat untuk membuang jauh-jauh kucing kami itu. Te-Ta-Pi...
Ternyata, kucing itu sore tadi sudah melahirkan. Tentu saja penghuni rumah kami lainnya tak tega membuang kucing itu. Mereka bilang, biarkanlah si kucing beristirahat paling tidak tiga hari. Toh, ibu-ibu melahirkan saja juga butuh waktu untuk istirahat. Lagi pula, ternyata si kucing itu melahirkan anak kucing jantan berbelang tiga. Ayah kami langsung berfatwa, selamatkan anak yang berbelang tiga itu. Itu kucing langka. Konon, yang memiliki kucing jenis itu akan beruntung.
Selang beberapa hari, di suatu hari minggu, keluarga besar sedang pergi semua. Tinggallah gue dan adik gue di rumah. Kami banyak kerjaan. Kami menghabiskan hari di kamar tertutup sambil mengetik di depan komputer dari jam 10 pagi.
Kesibukan gue di kamar baru berhenti ketika mendengar jeritan minta tolong dari adik bungsu gue. Langsung gue keluar kamar dengan panik. Di luar, di ruang tengah, adik gue berteriak dengan menutup muka sambil duduk dengan kaki naik di bangku. Dia menunjuk-nunjuk pintu kamar setrika. Dengan panik, gue buka kamar itu. Tahu apa yang gue lihat? Hiiiii.... bergidik gue kalo inget. Di kamar itu, ada kucing jantan kekar warna kuning sedang menyantap si anak kucing belang tiga!!! hiiiii....
Anak kucing itu tergeletak sudah tak bernyawa dengan leher bermandikan darah. Hoeeekk... Si jantan enak aja melenggang pergi dengan tenang. Sebaliknya si induk mengeong-ngeong melolong, mondar-mandir kamar dan dapur. Seolah-olah dia sedang berteriak minta tolong. Wajahnya terlihat sedih, berdiri di samping bangkai anaknya tertegun sambil mengeong-ngeong. Kasihaaaaaan sekali.
Gue dan adik gue panik. Pengin buang bangkainya, tapi jijik. Akhirnya, kami punya akal bulus. hihihi... kami panggil anak tetangga yang sangat sayaang sama kucing. Kami minta dia yang membuangkan mayatnya. hihihi. Eh, ternyata dia juga jijik. Tapi dia memberi solusi dengan memanggil ayahnya. Hah, ayahnya langsung masuk dan membuang bangkai itu. Lega deh... Si ayah berkomentar, kucing jantan berbelang tiga memang pendek umur katanya.
Yah, dengan kejadian ini, gue harus bersabar dong membuang kucing itu. Meski mereka sudah sangat merepotkan --karena meja sering berantakan, kamar jadi bau, dan tai kucingnya itu lhoo, kami harus memberi waktu berkabung kepada mereka. Ya sudah.
Beberapa hari kemudian, hari Jumat kalo ndak salah, si induk berulah lagi. Suatu malam, sepulang kantor, gue membaca koran di ruang tengah. Saat membaca itu, gue mencium bau-bau aneh yang menyengat. Antara pesing bau kencing dan bau sampah organik membusuk. Susah lah dideskripsikan. Setelah gue susuri, ternyata bau itu berasal dari tumpukan koran. Benar, ada noda kuning besar di tumpukan. HAH... tumpukan koran gue dikencingin makhluk keparat itu. BEDEBAH!
Akhirnya gue berketetapan hati membuang kucing beserta keluarganya. Ketika hari Sabtu tiba, gue siapkan kardus dan tali rafia untuk membuang kucing itu. Kardus gue bolong-bolongi supaya ada udara masuk. Gue isi pula dengan beberapa potong ikan, to keep them busy. Akhirnya, gue masukkan lah dua anak kucing terlebih dahulu. Baru kemudian si induk.
HOAAA... susah bener, pemberontakan kucing itu luar biasa. Meski kami sudah berhasil menutup kardus dan mengikatnya dengan tali, tangan si induk berhasil mencakar-cakar dan menjulur-julur ke luar. Dahsyat sekali semangat survivalnya. Suara meongannya terdengar panik dan marah. Dia bahkan bisa merobek lubang ventilasi menjadi lebih lebar hingga kepalanya bisa menjulur keluar. Terpaksa, lubang itu kami tambal dengan setumpuk koran. Berhasil. Kotak itu kami angkut dengan bantuan ojek.
Sesampainya di sebuah lapangan di Kuningan, kotak dibuka. Si induk terdiam di dalam, enggan keluar. Badannya bergetar, entah karena takut atau karena marah. Setelah agak tenang, akhirnya di mencoba keluar. Pelan-pelan. Lapangan begitu luas, tapi lengang. Kami tinggalkan si kucing. Sebetulnya sih kasihan. Tapi, mengingat kerusakan yang pernah ia sebabkan, kami tak punya pilihan. Yah, gimana lagi ya, Cing. Dunia begitu luas, kejarlah cita-citamu... if you have one.
Jadi, suatu malam, sepulang kantor and everywhere, kami mendapati sesosok makhluk baru di rumah. Makhluk itu adalah seekor kucing berperut gendut. Kucing warna putih berbelang hitam itu ternyata tengah hamil tua. Sedikit lagi mak mbrojol.
Kami tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. As usual, lampu-lampu di rumah kami pada jam segitu sudah padam. Maka, saat masuk gue langsung menyalakan lampu ruangan. Saat lampu menyala, betapa kagetnya gue melihat seekor kucing di atas meja sedang asyik menikmati sisa makanan. Remah-remah makanan berhamburan di meja dan di lantai sekeliling meja makan kami. Kotor sekali.
Si kucing tak kalah kaget. Dengan sigap dia langsung melompat turun dari meja. Tapi dia tidak lari. Wajahnya malah mendongak memerhatikan kami yang baru datang. Dengan wajah seperti itu, ia malah cenderung terlihat menantang ketimbang kaget. Menyebalkan.
Tak pelak, kemarahan gue terpancing. Langung gue copot sepatu kets yang terpasang di kaki lalu gue lemparkan ke kucing jahanam itu. Ngeeoook.... si kucing mendengking. Tapi dia tidak berlari, instead dia cuma cuma berjalan pelan pergi.
Nafsu sekali gue, malam-malam, capek karena seharian kerja, eh pas pulang kok ada kucing mberantakin meja. Bikin kerjaan nih.
Sehabis bersihin sisa-sisa kucing, kebayang dong capeknya kami. Akhirnya, kami langsung ke kamar untuk beristirahat. Lampu kami nyalakan. Segala tas dan jinjingan kami letakkan. Kasur kami ber.... APPPAAA???? Whaddefuck....
Melotot kami hingga biji mata melompat ke luar demi melihat seonggok benda warna putih coklat agak lembek, dan berbau tajam di atas kasur kami. Yup... seonggok tai kucing berbaring bahagia di atas kasur kami yang biru cemerlang. Keluarlah kosamakian dari mulut kami. Segala isi Ragunan kami absen, plus derivasinya.
Jam satu malem, Tuhan, jam satu!!! Tadi gue berangkat kerja jam tujuh pagi, baru selesai urusan jam sebelas malem, dan besok gue harus berangkat jam tujuh lagi. Sedangkan sekarang udah jam satu, JAM SATU... dan gue masih harus berurusan dengan TAI KUCING???... Baru sekarang gue memahami arti kata "absurd". Dan sejak saat itu kami mengancangkan dendam kesumat pada kucing!
Esoknya, kami berniat membuang kucing yang kami lihat malamnya. Dengan berapi-api kami ceritakan pengalaman semalam kepada penghuni rumah lainnya. Lalu kami utarakan niat untuk membuang jauh-jauh kucing kami itu. Te-Ta-Pi...
Ternyata, kucing itu sore tadi sudah melahirkan. Tentu saja penghuni rumah kami lainnya tak tega membuang kucing itu. Mereka bilang, biarkanlah si kucing beristirahat paling tidak tiga hari. Toh, ibu-ibu melahirkan saja juga butuh waktu untuk istirahat. Lagi pula, ternyata si kucing itu melahirkan anak kucing jantan berbelang tiga. Ayah kami langsung berfatwa, selamatkan anak yang berbelang tiga itu. Itu kucing langka. Konon, yang memiliki kucing jenis itu akan beruntung.
Selang beberapa hari, di suatu hari minggu, keluarga besar sedang pergi semua. Tinggallah gue dan adik gue di rumah. Kami banyak kerjaan. Kami menghabiskan hari di kamar tertutup sambil mengetik di depan komputer dari jam 10 pagi.
Kesibukan gue di kamar baru berhenti ketika mendengar jeritan minta tolong dari adik bungsu gue. Langsung gue keluar kamar dengan panik. Di luar, di ruang tengah, adik gue berteriak dengan menutup muka sambil duduk dengan kaki naik di bangku. Dia menunjuk-nunjuk pintu kamar setrika. Dengan panik, gue buka kamar itu. Tahu apa yang gue lihat? Hiiiii.... bergidik gue kalo inget. Di kamar itu, ada kucing jantan kekar warna kuning sedang menyantap si anak kucing belang tiga!!! hiiiii....
Anak kucing itu tergeletak sudah tak bernyawa dengan leher bermandikan darah. Hoeeekk... Si jantan enak aja melenggang pergi dengan tenang. Sebaliknya si induk mengeong-ngeong melolong, mondar-mandir kamar dan dapur. Seolah-olah dia sedang berteriak minta tolong. Wajahnya terlihat sedih, berdiri di samping bangkai anaknya tertegun sambil mengeong-ngeong. Kasihaaaaaan sekali.
Gue dan adik gue panik. Pengin buang bangkainya, tapi jijik. Akhirnya, kami punya akal bulus. hihihi... kami panggil anak tetangga yang sangat sayaang sama kucing. Kami minta dia yang membuangkan mayatnya. hihihi. Eh, ternyata dia juga jijik. Tapi dia memberi solusi dengan memanggil ayahnya. Hah, ayahnya langsung masuk dan membuang bangkai itu. Lega deh... Si ayah berkomentar, kucing jantan berbelang tiga memang pendek umur katanya.
Yah, dengan kejadian ini, gue harus bersabar dong membuang kucing itu. Meski mereka sudah sangat merepotkan --karena meja sering berantakan, kamar jadi bau, dan tai kucingnya itu lhoo, kami harus memberi waktu berkabung kepada mereka. Ya sudah.
Beberapa hari kemudian, hari Jumat kalo ndak salah, si induk berulah lagi. Suatu malam, sepulang kantor, gue membaca koran di ruang tengah. Saat membaca itu, gue mencium bau-bau aneh yang menyengat. Antara pesing bau kencing dan bau sampah organik membusuk. Susah lah dideskripsikan. Setelah gue susuri, ternyata bau itu berasal dari tumpukan koran. Benar, ada noda kuning besar di tumpukan. HAH... tumpukan koran gue dikencingin makhluk keparat itu. BEDEBAH!
Akhirnya gue berketetapan hati membuang kucing beserta keluarganya. Ketika hari Sabtu tiba, gue siapkan kardus dan tali rafia untuk membuang kucing itu. Kardus gue bolong-bolongi supaya ada udara masuk. Gue isi pula dengan beberapa potong ikan, to keep them busy. Akhirnya, gue masukkan lah dua anak kucing terlebih dahulu. Baru kemudian si induk.
HOAAA... susah bener, pemberontakan kucing itu luar biasa. Meski kami sudah berhasil menutup kardus dan mengikatnya dengan tali, tangan si induk berhasil mencakar-cakar dan menjulur-julur ke luar. Dahsyat sekali semangat survivalnya. Suara meongannya terdengar panik dan marah. Dia bahkan bisa merobek lubang ventilasi menjadi lebih lebar hingga kepalanya bisa menjulur keluar. Terpaksa, lubang itu kami tambal dengan setumpuk koran. Berhasil. Kotak itu kami angkut dengan bantuan ojek.
Sesampainya di sebuah lapangan di Kuningan, kotak dibuka. Si induk terdiam di dalam, enggan keluar. Badannya bergetar, entah karena takut atau karena marah. Setelah agak tenang, akhirnya di mencoba keluar. Pelan-pelan. Lapangan begitu luas, tapi lengang. Kami tinggalkan si kucing. Sebetulnya sih kasihan. Tapi, mengingat kerusakan yang pernah ia sebabkan, kami tak punya pilihan. Yah, gimana lagi ya, Cing. Dunia begitu luas, kejarlah cita-citamu... if you have one.
Langganan:
Postingan (Atom)