Sindroma ini diperkenalkan oleh seorang ahli pengajar binatang-binatang. Ternyata unik sekali cara mengajar binatang agar mereka dapat menjadi bintang sirkus. Lebih unik lagi, metode ini cocok juga diterapkan pada... laki-laki!
Konon di New York, seorang penulis pernah mengunjungi tempat pelatihan binatang. Di sana ia melihat betapa sabarnya si pelatih binatang itu. Setiap binatang itu melakukan yang diperintahkan, pelatih akan memberikan "siswanya" hadiah. Kalau binatang itu melakukan kesalahan si pelatih tidak marah, ia diam saja.
Si pelatih menjelaskan, bahwa sikapnya itu bukan karena keluasan hati atau semacamnya. Itu memang bagian dari metode yang ia namakan least reinforcing syndrome (LRS). Dalam metode ini, hanya dikenal reward tak ada punishment. Setiap kesalahan tak mendapat ganjaran, sebaliknya setiap "kebenaran" langsung mendapat hadiah.
Alasannya, ternyata, binatang adalah makhluk coba-coba. Hukuman atau sabetan setiap ada kesalahan tidak membuat kapok. Tetapi malah memancing mereka coba-coba lagi. Bukan kesalahan mereka yang akan mereka ingat, melainkan bahwa bila mereka melakukan a mereka akan mendapat b.
Nah, ini terjadi juga pada manusia. Bila setiap hal negatif yang mereka lakukan mendapat ganjaran, seringkali hal negatif ini malah berulang. Nah, lebih baik positive thinking. Beri saja ganjaran untuk hal-hal positif. Mungkin memang manusia dan binatang hanya sedikit bedanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar