Rabu, 20 September 2006

The Saddest Song(s) in the world

I wrote this not because I wanted to compete with Guy Maddin and his "The saddest music in the world". I just wrote the title and it reminded me of that movie. Well, people are sometimes brokenhearted and sad. It happens to me too. So, I collected some songs that, to me, suits for the break-up situation. They are:

The Way We Were
Barbra Streisand
_____

Memories light the corner of my mind.
Misty water color memories
Of the way we were.

Scattered pictures of the smiles we left behind,
Smiles we gave to one another
For the way we were.


Can it be that it was all so simple then,
Or has time rewritten every line?
If we had the chance to do it all again,
Tell me? would we? could we?

Memories may be beautiful and yet,
What's too painful to remember
We simply choose to forget.
So it's the laughter
We will remember,
Whenever we remember
The way we were;
The way we were.


Rainy Days and Mondays
Carpenters
________

Talking to myself and feeling old
Sometimes I'd like to quit
Nothing ever seems to fit
Hangin' around, nothing to do but frown
Rainy days and Mondays always get me down

What I've got they used to call the blues
Nothing is really wrong
Feeling like I don't belong
Walking around some kind of lonely clown
Rainy days and Mondays always get me down

Funny but it seems I always wind up here with you
It's nice to know somebody loves me
Funny but it seems that it's the only thing to do
To run and find the one who loves me

What I feel is come and gone before
No need to talk it out
We know what it's all about
Hanging around, nothing to do but frown
Rainy days and Mondays always get me down

Funny but it seems that it's the only thing to do
Run and find the one who loves me

Repeat

Hangin around, nothing do to but frown
Rainy days and Mondays always get me down

Minggu, 17 September 2006

Ezra Pound for President!

Sudah saatnya pemimpin negara-negara di dunia berasal dari kalangan sastrawan. Terlalu lama umat manusia diperbudak oleh nafsu kekuasaan. Semata-mata karena pemimpin kita selama ini berasal dari kalangan militer atau bisnis.

Kalangan militer hanya memahami bahasa kekuasaan. Semua diatur dengan tangan besi. Semua harus sama. Semua diarahkan untuk mencapai satu tujuan: keseragaman. Ini tentu menyalahi kodrat manusia yang diciptakan memang berbeda-beda. Untuk apa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, kalau manusianya justru berusaha menciptakan kesamaan pemikiran, keseragaman?

Pemimpin dari kalangan bisnis tak lebih baik. Semua diatur oleh uang. Uang adalah kekuasaan, uang adalah Tuhan. Manusia diarahkan untuk mencapai satu tujuan: uang. Tujuan yang absurd sebetulnya. Mengapa harus berperang demi mengumpulkan kekayaan? Toh, manusia tidak akan hidup selamanya. Uang yang dikumpulkan toh hanya akan ditinggalkan, dan jadi sumber perang generasi sesudahnya.

Sekarang saatnya sastrawan memimpin. Sastrawan lebih memikirkan kemanusiaan. Kekuasaan digunakan demi meraih satu tujuan: menghidupkan kemanusiaan. Kemanusiaan adalah hal paling asasi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Untuk itu, mari kita dukung gerakan Ezra Pound for President!

Demikian pidato yang saya sampaikan tadi malam di hadapan ribuan anggota parlemen seluruh dunia saat kami semua mengikuti kongres perdamaian di Amerika Serikat. Ribuan anggota parlemen dan penggiat LSM berkumpul sejak sore hari di depan gedung putih demi mendengar pidato dari saya.

Pidato saya tutup dengan acungan kepalan tangan yang disambut meriah oleh audiens. Usai berpidato, saya digiring ke ruang oval untuk menikmati jamuan teh bersama beberapa kepala negara lainnya. Tiba-tiba, seorang setengah baya berjas kelabu, sewarna dengan rambutnya, menghampiri dan menyalami saya. "Pidato yang bagus dan membanggakan," katanya. Saya tersenyum dan sedikit gede-rasa. Orang itu ternyata Vaclav Havel.

Tapi, kalian jangan percaya begitu saja ya. Itu cuma mimpi di tengah malam buta. hahahaha...

Kamis, 14 September 2006

Tragedy of Indonesia

Gosh, save me from mediocracy!
"The tragedy of Indonesia, is the tragedy of mediocrity!" (Douglas Ramage, Jakarta's Representative of Asia Foundation)
Gila, di usia RI yang ke-61 ini, di era so-called reformasi, masih ada aja yang pemuda indonesia yang berpikiran cupu!. Si pemuda ini menulis dalam blog-nya bahwa dia benci sekali kalo ada orang Indonesia yang selalu mengeluh tentang Indonesia dan membanding-bandingkannya dengan negara lain. Dia bilang, itu pekerjaan sia-sia. HAH?!!! Does he ever once in his life heard of "BENCHMARKING"?????
Aduuuuhhhh... gue pengen ngomel panjang, tapi sayang sih, di sini gue gak bisa buka blogger. Huh. Nah, kantor gue ini contoh lain dari mediokrasi di Indonesia. Cupuuuu.

day five

You Don't Bring Me Flowers
Barbra Streisand and Neil Diamond
_____

You don't bring me flowers
You don't sing me love songs
You hardly talk to me anymore
When you come through the door
At the end of the day

I remember when
You couldn't wait to love me
Used to hate to leave me
Now after lovin' me late at night
When it's good for you
And you're feeling all right
Well you just roll over
And you turn out the light
And you don't bring me flowers anymore

It used to be so natural
To talk about forever
But 'used to be's' don't count anymore
They just lay on the floor
'Til we sweep them away

And baby, I remember
All the things you taught me
I learned how to laugh
And I learned how to cry
Well I learned how to love
Even learned how to lie
You'd think I could learn
How to tell you good-bye
'Cause you don't bring me flowers anymore

Sabtu, 09 September 2006

Carolyn Kepcher, sidekicknya Donald Trump dari show "The Apprentice", dipecat oleh Trump dari posisinya sebagai Chief Operating Officer di Trump Organization.

Jumat, 08 September 2006

Workmate

My office is often regarded as one of the biggest company in this country. The employees are known as best paid. But does it have to do with capability? I doubt it!

Most of them are below the average. So if one day they get kicked out of office, I wonder where they'll end up.

There are many people who believes in god, but their act don't represent what they believe. They pray a lot but at the same time they do bad things too.

A friend of mine, TPM, is one of them. He looks like a saint, but he regularly reads porn magz, porn sites, porn movies!!! And the last news I heard is he preaches people to go to tarot reader! Isn't it awesome?

And then, he offered me to go to some "orang pienter" to meet my ancestors. I smiled reluctantly, and answered, "What for?"

Minggu, 03 September 2006

Tugu Pratama V: Very Stupid Mulyadi

Sudah dua minggu terakhir, kantor gue menerapkan kebijakan aneh. Surfing di internet maksimal hanya 30 menit! Buka amazon.com, barnesandnoble.com, blogger.com, bahkan yahoogroups malah dilarang sama sekali. Aneh bukan?

Ini memang bukan kebijakan resmi, alias memang gak ada SK-nya. Itu sih "pinter-pinternya" si Mulyadi IT itu. Gimana enggak, ada blog favorit gue yang diblok. Kalo enggak ngintip komputer gue mana bisa dia nutup satu blog itu. Wong ada jutaan blog kok di dunia maya ini. Masa' sih bisa kebetulan that particular blog yang ditutup.

Anyway, gue prihatin juga sama Tugu Pratama. Perusahan yang tahun ini revenue-nya sekitar 16 trilyun ini, gak mampu untuk nambah bandwith! Terus, bullshit tuh jargon "penerapan teknologi demi pelayanan". Mana ada penerapan teknologi di sini? Lo lihat aja website. Yang update di situ cuma berita tentang tugu-nya. Hihi.

Baru-baru ini Tugu mengadakan riset soal kepuasan pelanggan dan persepsi terhadap citra. Yah, udah kebayang kan hasilnya apa. AROGAN. Tentu saja.

Dalam survey itu terbuka bahwa banyak pelanggan yang merasa tugu tidak memiliki personel yang capable. Personel juga tidak menguasai masalah dengan baik. Pengetahuan asuransi kurang. Pokoke, banyakan kurangnya deh. Dan itu, menurut pengalaman gue sendiri, pendapat yang sangat tepat!

Pengikut