Kamis, 01 Februari 2007

Solitaire

Kau pernah bermain solitaire? Itu lho, permainan kartu standar yang ada di komputer-komputer berprogram Windows. Sesuai namanya, permainan ini memang untuk dimainkan sendiri. Untuk iseng, mengusir sepi. Jauh sama sekali dari permainan kartu ala capsa, cetiauw, whatever, yang mensyaratkan banyak pemain, mengundang kemeriahan.

Saya amat sering bermain solitaire. Saat di kantor, di sela-sela pekerjaan membuat laporan yang membosankan. Di rumah, saat iseng menyusun lagu untuk di-burn ke dalam CD. Di jalan, dengan laptop di pangkuan. Betul, saya amat kesepian.

Satu hal yang saya pelajari dari solitaire, seringkali kau dipaksa mundur untuk menang. Tujuan permainan ini adalah menyusun kartu sedemikian rupa, sehingga masing-masing jenis tertumpuk dari yang kecil hingga yang besar. Sering terjadi, di tengah perjalanan kau mendapat kartu yang tidak bisa diletakkan di mana saja. Macet, tak bisa apa-apa. Kau tidak bisa jalan lebih jauh. Mati.

Pada situasi seperti itu, biasanya hal yang menolong adalah menarik ulang semua kartu yang telah kausebar. Sampai pada suatu titik, ketika kau bisa menjalankan kembali kartu matimu itu. Ini yang sering aku lakukan.

Nah, dalam hidup pun ternyata begitu juga. Seringkali kau menemui situasi yang membuatmu jadi kartu mati. Tak bisa apa-apa, tak bisa ke mana-mana. Mau apa lagi? Semua terasa serba salah, terasa sesak tak bisa bergerak.

Dan benarlah. Ketika semua mengimpit, kau akan menyerahkan semua yang kaupunya. Kau menarik diri dari semua. Mundur. Berlindung di bawah ketiadaan.

Ajaibnya, ketika kau menyadari bahwa kau sudah tidak punya apa-apa lagi, kau malah merasa tenang. Kau tahu, dengan begitu, tak akan ada siapa pun mengambil apa pun darimu. Kau akan sadar bahwa, setelah ini, kau tidak akan lagi merasakan kehilangan yang pahit itu. Dan kau, tentu saja, merasa lega.

Persis di saat kau merasa lega, kau lalu menemukan jalan baru. Tiba-tiba tanpa kau sadari kau sudah menyusuri jalan yang, sebelumnya, tak pernah kaulihat. Jalan yang akan membawamu ke tempat yang sama sekali baru, namun tidak asing. Jalan yang sepi, namun tak membuatmu merasa sendiri.

Lucu sekali bukan, betapa ketiadaan justru memberi harapan? Betapa perasaan kesepian justru mengingatkanmu bahwa kau masih punya teman. Tapi begitulah adanya hidup. Life is what happens to you while you’re busy making other plans.

Tidak ada komentar:

Pengikut