Minggu, 29 Agustus 2010

And by that you mean...?

This morning I went to a nearby ATM.  I took my baby boy along. So I held him while I was standing in line. In the queue, I overheard two girls behind me were having conversation.” You know what, if a baby is cute usually he will grow up not so cute. And vice versa, if the baby is not so cute as a baby, you don’t have to worry, he will become a good looking grown-up,” said the first girl to the other. The other girl only nodded slightly.
I did not remember what brought them into this topic. What I knew was that I held my son facing about the girls. I then wondered what  would I say if one of the girls had come to me and said, “Hey, your baby is cute!” As that would mean that she’d said, “Your son is going to be ugly soon.” Or, if she said that my son will be a handsome boy later.  That would mean, “Hey, your baby is ugly!” Isn't it?

Jumat, 13 Agustus 2010

Stay around Mr. Williams and Ms Fygi

What am I doing at this hour?
I don't know why really. I just woke up coz I needed a cup of hot tea. But now I can't go back to sleep.

Well, I do have some homework for a meeting tomorrow. When I opened my laptop, my plan was to finish the homework. But then I open Facebook, and comments on people's walls. Then I browse people's links.Yadda yada yada... and I arrive at my own blog, hehehe...

To avoid loneliness in the middle of the night, I call Mr. Robbie Williams and Ms Laura Fygi to sing for me. To hear them swingin, I feel the urge to write. Again, I dont know what to write. So I write these strange feelings on my blog.

So, what exactly am I doing at this hour?

Rabu, 21 Juli 2010

Let’s go retro!

“Kau ternyata hanya bayangan saja,
Dari kenyataan
Aku tak ragu, meninggalkanmu
Lebih baik kusendiri”
(Bayangan Semu, sung by Margie Segers)
Ah, this climate change has provoked my sentimentality. This rainy year (we have continuous rain for almost eight month now!) brought my childhood memory back to life. The memory of quiet Jakarta with trees stood alongside of the river on the back of my house. No, no, don’t imagine Dawson Creek. My house was located in densely populated central Jakarta. But then the nighbourhood was still nice. We said hello to each other and visit each other once in a while.

My life as a kid was no extraordinary. Went to school, played with my friends. And I lived with my extended family: with aunties from my mother side and uncles from my father side. One aunty of mine liked Ebiet G. Ade so much that she never forgot to add “G. Ade” as her surname. The uncles loved Iwan Fals, of course, and God Bless. But they listened to songs from other singers as well. Two of the singers they liked to listen to was Rien Djamain and Margie Segers (I don’t know the relation of Rien and Margie Segers yet. Will find out soon, stay tune!)

Just a few days ago, I came across the songs from Rien Djamain in my collection. I was looking for songs that suit best the cloudy weather. Only cloudy, not gloomy.  The songs somewhat brought the breeze into myself. To some extent, their voice sounds a tad like Maria Bethania’s of Bahia. The sound is thick, but a bit husky, and never failed a note! They seemed to sing with full control but easy going.  Well, I’m not a music critic, only an admirer. I can’t describe it well. You better listen to them yourself and tell me what you think.

Oh, and I think, the songs are best listened to over a cup of coffee and chewy chocolate chips cookies. Believe me!

1. Rien Djamain dan Jack Lesmana - Hapuslah Air Matamu
2. Rien Djamain - Pergi Untuk Kembali
3. Margie Segers - Enggo Lari
4. Margie Segers - Bayangan Semu

Enjoy!

Mariana Hasbie

Minggu, 27 Juni 2010

Wisata di Bengkulu

Bengkulu adalah sebuah provinsi kecil yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat di sebelah utara, Provinsi Lampung di bagian selatan, dan Provinsi Sumatera Selatan di bagian timur. Awalnya, wilayah seluas 19.789 kilometer persegi ini hanyalah bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Daerah ini resmi berdiri sendiri dan menjadi provinsi ke-26 Indonesia pada 16 November 1968.


Meskipun kecil, wilayah ini menyimpan beragam potensi wisata. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, maupun wisata sejarah. Hingga saat ini, Dinas Pariwisata Bengkulu mencatat ada 80 obyek wisata di wilayah itu. Bayangkan, wisata alamnya saja meliputi 14 pantai, delapan wisata air, dan 36 wisata alam lainnya.


Ya, Bengkulu cukup beruntung dianugerahi topografi alam yang unik. Bagian timurnya merupakan dataran tinggi dan pegunungan. Di bagian ini banyak terdapat obyek wisata yang berkaitan dengan pegunungan. Anda bisa menikmati nikmatnya mandi di sumber mata air panas, berenang di air terjun, atau sekadar menikmati keindahan alam di Telaga Tujuh Warna. Di bagian timur ini pulalah terdapat pusat sayuran dan buah-buahan.


Sementara, bagian barat Bengkulu adalah dataran rendah dan pantai berpasir putih. Tak mengherankan bila pantai menjadi obyek wisata andalan Provinsi Bengkulu. Salah satu pantai yang terkenal di Bengkulu adalah Pantai Lais. Pantai ini sering dikunjungi wisatawan karena aksesnya mudah dan tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jarak dari Bandara Fatmawati ke Pantai ini hanya 60 km.


Pantai Lais ini masih asli, pantainya berpasir hitam dan lautnya masih biru. Di sepanjang pantai tumbuh deretan pohon-pohon palem yang menyejukkan. Warna biru cerah dan pasir hitam, dibumbui dengan hijaunya pohon palem sungguh menyejukkan mata. Tambah segar lagi karena di sela-sela deretan pohon palem itu terdapat titik-titik oranye. Ternyata warna oranye itu berasal dari kotak pendingin khas Sosro. Ah memang segar menikmati Teh Botol Sosro di bawah panasnya matahari pantai.


Meski berpasir hitam, pantai ini jauh dari kesan jorok. Lihat saja para wisatawan mancanegara yang tidak ragu-ragu berbaring di atasnya untuk berjemur. Mereka menyukai pantai ini juga karena tidak terlalu hiruk pikuk. Tidak terlalu banyak kegiatan atau dekorasi yang artifisial. Semuanya masih alami.


Di sepanjang pantai ini terdapat juga bangunan peninggalan Jepang. Bangunan itu berupa benteng pertahanan yang mampu menampung 3-4 orang di dalamnya. Bangunan ini dilengkapi juga dengan celah menghadap laut, yang diperkirakan digunakan untuk memantau situasi yang terjadi di laut.


Total bangunan benteng itu ada sembilan. Semuanya ditempatkan sejajar dengan jarak sekitar 5 meter antar bangunan dan lokasinya memanjang di sepanjang bibir pantai. Pembangunan benteng itu dilakukan oleh warga Lais sendiri. Pada masa pendudukan Jepang, mereka dipaksa menjadi Romusha. Dan benteng itu dibangun untuk mempertahankan wilayah Lais dari Belanda dan sekutu pada perang Asia Timur Raya.


Lokasi Bengkulu memang strategis. Maka tak mengherankan bila ia disinggahi banyak bangsa. Jauh sebelum Jepang tiba, Inggris telah dahulu menguasai wilayah ini. Maka tak mengherankan bila banyak sekali bangunan bersejarah yang ditinggalkan di daerah ini. Peninggalan Inggris antara lain adalah Benteng Marlborough.


Benteng ini didirikan pada abad ke-17 oleh East Indian Company. Sebetulnya benteng ini adalah benteng yang kedua dibangun setelah Fort York. Namun Fort Marlborough ini menjadi benteng Inggris yang terkuat di Timur setelah benteng di Madras, India. Marlborough dibangun khusus untuk mengantisipasi ancaman Belanda yang pada waktu itu berpusat di Batavia.


Inggris memang mampu bertahan dari Belanda. Tapi ternyata, Inggris justru ditaklukkan oleh warga asli Bengkulu. Pada 1807 terjadi pemberontakan rakyat Bengkulu terhadap Inggris. Dalam peristiwa itu, residen Inggris yang superkejam, Thomas Parr terbunuh. Jasadnya dikubur di benteng Marlborough. Kuburannya ini lalu dibuatkan tugu sebagai monumen peringatan kemenangan rakyat Bengkulu terhadap Inggris.


Ada lagi monumen penting yang sering dikunjungi wisatawan, yaitu rumah pengasingan Bung Karno. Sebelum Indonesia merdeka, proklamator kita ini pernah diasingkan ke Bengkulu. Rumah ini terletak di Jl. Soekarno-Hatta. Sekarang, rumah seluas 9 X 18 m persegi di atas lahan seluas empat hektare ini dijadikan museum. Kita bisa melihat barang-barang pribadi peninggalan Soekarno di sana. Ada sepeda yang sering digunakan Bung Karno dahulu, koleksi buku-bukunya, bahkan perlengkapan tonil Monte Carlo. Ah, kalau bicara peninggalan sejarah di Bengkulu, pasti tidak ada habisnya.




Mariana Hasbie

Bisa Lestari di Balikpapan

Bicara Balikpapan biasanya orang langsung teringat minyak. Betapa tidak, kota di Kalimantan Timur ini adalah daerah penghasil minyak terbesar kedua di Indonesia. Sejarah penambangan minyak di sini berusia lebih dari seabad. Ini bisa kita ketahui dari Monumen Mathilda yang menjadi lambang pengingat cikal bakal kilang minyak di Balikpapan. Mathilda adalah perusahaan penambang minyak pertama di sana, yang didirikan pada 1897.
Sejak saat itu, Balikpapan menjadi wilayah strategis bagi Hindia Belanda. Di masa Perang Dunia II, Jepang mengincar kota tersebut untuk dijadikan batu loncatan menuju Jawa. Ketika pasukan Sekutu datang, kota ini lagi-lagi jadi incaran. Hingga akhirnya Indonesia merdeka, kota ini beserta penambangan minyaknya dikelola oleh Pemerintah Indonesia.
Kandungan minyak di wilayah ini telah mengubah wajah Kota Balikpapan. Kota yang awalnya hanya merupakan kota transit, berubah menjadi kota tujuan bagi banyak orang. Banyaknya pendatang tentu memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan, seperti halnya kota-kota minyak lain di dunia, Balikpapan lalu berkembang sedemikian rupa menjadi sangat modern.
Namun, Balikpapan memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota minyak lainnya. Perkembangan kota ini tidak membuat Balikpapan mengorbankan kelestarian lingkungan. Di balik gemerlap kota serta serbuan gedung tinggi, Balikpapan memiliki kearifan dalam menjaga kelestarian. Bila kota-kota tambang lain biasanya memiliki masalah dengan lingkungan hidup, Balikpapan patut dipuji atas keberhasilannya menjaga keseimbangan alam di tengah gencarnya pembangunan kota.
Penangkaran Buaya
Salah satu usaha Balikpapan dalam menjaga keseimbangan alam adalah membuat penangkaran buaya. Ada beberapa penangkaran di sana. Namun yang terbesar adalah Penangkaran Buaya Teritip. Penangkaran yang mulai beroperasi tahun 1991 dengan misi pelestarian satwa buaya, secara resmi menjadi obyek wisata unggulan Balikpapan pada tahun 1997.
Penangkaran Buaya Balikpapan berlokasi di Desa Teritip, Balikpapan Timur, tak jauh dari obyek wisata Pantai Manggar. Jaraknya sekitar 27 kilometer dari pusat kota, dan bisa ditempuh 30 menit menggunakan mobil, serta hanya 20 menit dari Bandara Sepinggan. Mobil pribadi, taksi bandara, maupun angkutan kota, dapat mengantarkan ke sana setiap saat.
Kawasan seluas lima hektare ini menampung sekitar 1500 buaya asli Kalimantan Timur. Yang terbanyak adalah jenis buaya muara (crocodylus prosus). Sedangkan buaya air tawar (crocodylus siamensis) dan buaya supit (tomistoma segelly) hanya beberapa ekor, karena termasuk langka.
Setiap hari, penangkaran ini dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WITA. Pengunjung bisa mengamati dari dekat gerak-gerik hewan melata yang terkenal buas ini. Para turis dapat menyaksikan kebuasan para buaya tersebut saat berebut makanan. Bahkan, pengunjung pun boleh ikut memberi makan para buaya itu hanya dengan membayar 10.000 untuk seekor ayam.
Selain melihat proses pemberian makan buaya, pengunjung juga bisa menikmati wisata satwa lainnya. Yaitu, menunggang dua gajah Lampung mengelilingi kompleks penangkaran buaya. Anda bisa berkeliling sambil melihat-lihat berbagai produk hasil olahan kulit buaya. Ada dompet, tas, ikat pinggang, serta berbagai asesoris lain yang cocok dijadikan suvenir.
Tak perlu takut, semua produk tersebut adalah legal. Hal ini telah ditegaskan saat kunjungan Pangeran Bernard dari Belanda pada 1997. Pangeran Bernard adalah pendiri World Wildlife Fund, sebuah organisasi di bidang pelestarian hewan. Kunjungannya ke penangkaran buaya Teritip saat itu merupakan pengakuan bahwa penggunaan kulit buaya dari indonesia berasal dari penangkaran yang legal.
Maka tak mengherankan bila banyak wisatawan yang datang, baik lokal maupun mancanegara. Jumlah wisatawan ini memuncak di akhir pekan dan hari-hari libur nasional. Pada hari-hari tersebut, pengelola menyediakan menu khusus berupa sate buaya yang dijual seharga Rp 3.000 per tusuk. Sate buaya dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan. Ada pula menu khusus untuk kesehatan khusus pria, yaitu ramuan tangkur (alat kelamin buaya). Ramuan ini dijual dengan harga Rp 400.000-Rp 700.000.
Hanya satu pantangan saat berkunjung ke sini: pantang mengabaikan rambu-rambu peringatan. Meskipun kawasan ini relatif aman, buaya tetaplah hewan yang sifat alamiahnya buas. Bila ada yang tak berkenan di hati mereka, bisa-bisa Anda jadi santapan mereka.
Kampung Atas Air:
Di Balikpapan, ada perkampungan di atas air yang sangat terkenal. Perkampungan ini menjadi unik karena perpaduan kehidupan tradisional dengan kota yang modern. Jadi, tak perlu jauh-jauh pergi ke Vietnam hanya untuk melihat perkampungan di atas air.
Perkampungan di atas air ini berada di Kelurahan Margasari, Balikpapan Barat. Wilayah permukiman seluas 66 hektare ini separuhnya berdiri di atas laut. Meskipun demikian, tak ada kesan kumuh atau kotor di sana. Sebaliknya, kita tak akan merasa bahwa kita tengah berada di atas air. Bangunannya pun berjejer rapi dan kokoh dengan pondasi bangunan terbuat dari kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama.
Awalnya, kawasan di teluk Balikpapan ini merupakan lahan kosong. Para penduduk yang sekarang mendiami wilayah Kampung Atas Air ini dahulu tinggal di kawasan buffer zone, di bagian lain Balikpapan. Daerah buffer zone adalah daerah yang bebas dari aktivitas industri penambangan. Namun, daerah itu berkembang menjadi sangat padat dan kumuh hingga tak sedap dipandang mata.
Ketika Pemerintah Kota Balikpapan berbenah diri, warga dari permukiman kumuh tersebut dipindahkan ke Kampung Atas Air ini. Kampung ini ditata sedemikian rupa sehingga rapi dan enak ditinggali. Meski berada di atas air, bukan berarti limbah yang diproduksi rumah tangga dapat dibuang begitu saja ke laut. Pemerintah setempat telah memikirkan cara agar kawasan itu tetap bersih tak tercemar.
Untuk melindungi kawasan itu, pemerintah menanam bakau (mangrove) di sekeliling kawasan itu. Hutan mangrove ini sangat berguna menjaga ekosistem di wilayah itu. Dengan banyaknya pohon bakau di sana risiko penggerusan bibir pantai dapat dikurangi. Pohon mangrove juga bisa menjadi tempat tinggal bagi hewan-hewan laut yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti ikan dan kepiting.
Memang, sebagian besar penduduk di sana berprofesi sebagai nelayan. Dan mereka sangat sadar, kelestarian lingkungan laut akan menguntungkan untuk profesi mereka. Itu sebabnya mereka sukarela ikut merawat kelestarian alam tempat tinggal mereka. Dalam hal sampah, misalnya, mereka sudah melaksanakan pemisahan sampah organik yang mudah terurai dengan yang non-organik.
Sampah-sampah organik kemudian mereka olah menjadi kompos. Mereka melakukannya secara kolektif sehingga dampaknya kepada lingkungan juga sangat signifikan. Kompos itu mereka gunakan untuk menyuburkan tanaman yang mereka tanam di lingkungan rumah mereka. Tak mengherankan bila kawasan itu menjadi hijau dengan udara yang segar dan nyaman.
Untuk mengatasi masalah limbah rumah tangga, di sana dibangunlah instalasi pengolahan air limbah. Jadi limbah rumah tangga disalurkan langsung ke instalasi ini. Limbah tersebut lalu dipisahkan menjadi limbah padat dan cair. Limbah yang padat beserta sampah organik lainnya diolah menjadi kompos yang berguna untuk tanaman. Limbah yang cair diolah menjadi cairan yang tidak berbahaya yang dimanfaatkan Dinas Pertamanan Kota untuk menyiram taman-taman kota dan pemadam kebakaran.
Segala upaya melestarikan lingkungan ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Tahun lalu, wilayah ini berhasil menyabet gelar juara II dalam “Lomba Penataan Daerah Kumuh” yang diselenggarakan Departemen Pekerjaan Umum. Sementara, dalam lomba yang diselenggarakan Kementrian Dalam Negeri, Kampung Atass Air berhasil menyabet gelar Juara I dalam kategori “inovasi manajemen perkotaan di kawasan kumuh.” Ternyata, dengan semangat bisa menjaga keseimbangan alam, tak mustahil menikmati kehijauan desa di balik gemerlap gedung-gedung tinggi di tengah kota minyak Balikpapan.


Mariana Hasbie

Fishermen are yearning for a landing place

It was still dark, around 4.30 at dawn. Adzan (call to prayer) echoed from some prayer houses and filled the sky around Kubu Beach, Subdistrict Arongan Lambalek, District Aceh Barat, January 2010. Some fishermen raced against the time to land their boat and to lift their catch of the night. They should not be lost from the bright sun. If they lost they would be left behind by the middlemen who had been waiting at the landing place.
But landing a boat and keep it in a special place is a complicated and time consuming task for a fisherman who has just finished hunting the fish and shrimp in the sea and around the estuary all through the night. From the estuary, the fishermen must sail through the denseness of palm forest alongside the river.
At the same time, they also have to guide their boat avoiding the rapidly growing water hyacinth. The light from an oil lamp is their only help. When the day is breaking, they can count on the red tinge light of the sun in the east.
Only from there they can reach the landing place which looks like a 50 square meters bay. The condition of this landing place is far from decent. It is full of water hyacinth and beach palms. The water is quite deep too, a knee high of an adult. It is completely dark and it has no light not even from one lamp. The path from land to water or vice versa is also steep without cement and very slippery when it is wet.
“Welcome to our landing place. This is the real condition of our place. We are now thinking of having a new landing place which is more decent and close to the fishermen’s villages,” said Anwar, the leader of a fishermen group there.
Actually, their landing place is still part of the villagers’ property. Upon docking the boat, the fishermen go out of the boat and set down their feet into the water. One by one they lift the nets to the land, and then the plastic drums filled with fish and shrimp, and a water bucket. They then go back to the water and drain the seawater inside their boat, wash the boat, and then secure it. Because the surface of this landing place is steep, they pull the boat from the land with the help from other people. They still have to drag their boat to the store place under banana trees in villagers’ plantation not far from the landing place.
For the fishermen in Kubu, life is quite hard. Their wish to have a more tactical landing place is probably still far from real. They are still hoping for a help from others to make their wish comes true. “We’ve talked to our local government. There are some options for the location to build the new landing place,” said Anwar.
Besides depending on their local government, they also expect Child Fund to help them make their wish come true since they have already received support from Child Fund in the form of fishing net. This aid, similar to support to other groups in the form of fishing tools, is part of the revolving fund scheme.
According to Anwar and his fishermen fellows, Child Fund and its assistance program is very useful. When tsunami struck in Desember 2004, the fishermen went suddenly bankrupt. Their boats and fishing tools were destroyed. They completely lost everything. “So when Child Fund helped us with fishing tools and boats, we were truly saved. We could go back to earn a living,” said Anwar.
He believes that the fishermen fully understand that fund distribution scheme through revolving fund oblige the fishermen to pay back in installments to Child Fund. There are a lot of fishermen in all over Arongan Lambalek who had to start their living back from zero after the earthquake and tsunami.
“The aid certainly lightens up our lives. This includes non-financial aid from Child Fund to Fishermen. We learn to run an organization and to make our way to prosperity,” Anwar continued.
Therefore the fishermen are hoping that Child Fund to continue their assistance program in this place. “If Child Fund reopen such support program, we want support to build a new landing place for fishermen’s boats,” said Anwar.

Mariana Hasbie

When the generosity subsided

De jure, Nazan has two children and a wife. But de facto he has to share his attention to more than those three persons. Besides his children and wife, Nazan also has to take care of his organic vegetable plants that he grows in the demonstration plot in front of his house. Since he joined to community-based organization (CBO) Geurundong Jaya that receives support from ChildFund last year, he really takes care and occupies himself in his experimental organic garden.
Nazan or Muhammad Nazan Rizky (32 years old) lives in Geurundong Village, Sub-district Jeumpa, District Bireuen. This area is not far from east coast of Aceh overlooking Malacca Strait. Every day, he takes his time entering his fence-surrounded organic garden. In this garden he plants cabbage, spinach, and water spinach.
“I get all the seeds from ChildFund through CBO Geurundong Jaya. Not only seeds, I also get other farming tools,” said Nazan, a graduate from junior high school.
When it doesn’t rain, Nazan and his wife water all the plants. They dispel the insects, clear away the grass and other weeds. They are even willing to clean every leaf of their plants. “We have hopes in these plants. We can not see the result now, but we don’t complain. As long as it is halal, we will do it,” said Nazan, accompanied by his wife Widyawati (28 years old) from East Java.
Everyday Nazan does odd jobs. He does everything depending on the demand from people. It can be building a house, doing the garden, working in the rice field. When there is no job, Nazan will go out to sea to catch fish using his father’s boat.
But according to him, fishing with boat can not give you good result. A small boat and a paddle will never get to the middle of the sea. It can only float around the beach line. Consequently, he can only get some small fish.
Furthermore, he also feels that the sea is not as rich as it was when he was still a boy. He said that, until five years ago, the sea near his village still had many fish. But recently it seems that the fish have disappeared from the sea. “This morning I tried to go back fishing, but still not much I could get,” said Nazan.
His catch is not for self consumption, but to be sold to the market or he sells it through a warung near his house. He also depends on the vegetable he plants in his garden. For instance when some staff members of ChildFund visited him, his wife was busy preparing lunch with the vegetables from his garden in front of their house.
If Nazan spend his day to earn a living, at night he is occupied with his organic garden. His main activity is producing compost for his organic plants. He already prepares the ingredients to produce compost like banana trunks, cattle manure, parkia (petai) and white leadtree leaves. “I produce compost at night so that it won’t disturb my schedule as a breadwinner,” said Nazan.
Nazan gathers knowledge on organic farming from organic agriculture training from Balai Penyuluh Pertanian (Agriculture Information Office) Agriculture Agency District Bireuen. He also often has discussion with ChildFund’s field officer specialized in agricultural advocacy. Besides being a beneficiary from ChildFund’s financial program, Nazan also receives other benefit such as technical briefing on organic farming.
“It’s not difficult to work with ChildFund. I only have to prepare a place for a demonstration plot, and then I received everything I need,” said Nazan.
Almost all plants in Nazan’s organic garden have already grown ripe and ready to be picked. And he told us that he had already picked up the result several times before. Some part of it is for his consumption, some other part is for his neighbors. He told us that he also sells the organic crops to the market, which is eight kilometers away from his house. He goes there by bicycle.
“When fate is on my side, a bunch of cabbage can be sold at IDR 500. But when I have bad luck, the price can fall down to IDR 1,000 for four bunches of cabbage,” said Nazan.
He observes that there still not many people in his area who likes to eat vegetables. People prefer meat or fish. Vegetables, especially cabbages, are mostly bought by noodles sellers. But recently many people start to sell similar vegetables. That is the problem that Nazan has to face in developing organic farming. “There is almost no other problem. Most possible would be the attack from insects, chicken, and neighbor’s cattle,” he said.
With unpredictable income, Nazan still hopes that his farming will lead his family to a better life.

Mariana Hasbie

Jelajah Hutan

Pangandaran adalah salah satu lokasi wista pantai terbaik di Jawa. Dengan wilayah dataran yang diapit laut, Pangandaran menjadi tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit dan terbenam. Daerah pesisir di ujung selatan Jawa Barat ini menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.

Tak hanya atraksi alam yang bisa dinikmati para pelancong di wilayah ini. Pangandaran menyimpan cerita masa lalu di sepanjang jalur kereta mati Banjar-Cijulang. Tradisi dan budaya penduduk di daerah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah ini pun bisa menjadi atraksi wisata tersendiri. Semua itu bisa Anda nikmati dengan mengikuti program Jelajah Hutan.

Anda pasti merasa senang bila memulai hari dengan menikmati matahari terbit. Para pemandu akan menjemput di hotel dan mengantar Anda ke Saung Buled. Ini adalah titik terbaik untuk dapat menikmati matahari terbit sambil menikmati sarapan dan teh hangat.

Tak jauh dari Saung Buled terdapat mulut jalan setapak menuju terowongan. Dari sinilah Anda memulai petualangan. Terowongan pertama yang Anda lalui adalah Terowongan Hendrik yang panjangnya 50 meter. Anda juga akan menemui Jembatan Cikacepit, jembatan gantung yang tingginya 65 meter di atas permukaan laut.

Melalui hutan perkebunan rakyat, Anda meneruskan perjalanan hingga tiba di terowongan kedua—Terowongan Juliana—yang panjangnya 100 meter. Ini adalah terowongan kedua di jalur mati Banjar-Cijulang. Dahulu, jalur ini dibuat atas perintah Belanda untuk memudahkan jalur perdagangan. Jalur ini pula yang sempat dipakai Daendles ketika hendak melarikan diri dari Jakarta. Cerita selengkapnya bisa Anda dengar langsung dari pemandu Anda.

Sekitar 1 km setelah terowongan kedua, Anda akan diajak menyusuri terowongan ketiga. Ini terowongan terpanjang –dan karenanya tergelap—di jalur ini. Terowongan Willhelmina ini panjangnya mencapai 1,2 Km. Tak usah takut, pemandu akan mendampingi Anda dengan lampu di tangan. Pemandu juga akan bercerita tentang kisah di balik nama-nama Belanda untuk terowongan itu.

Selepas terowongan, Anda diajak menyusuri sejuknya hutan jati milik rakyat. Ini adalah perjalanan menuju Karang Mini, pos terakhir pada perjalanan ini. Anda dipersilahkan beristirahat sambil menikmati makan siang dengan makanan lokal. Masih belum puas? Anda bisa mencoba jalur trekking kami lainnya.


Trekking 2-Selusur Sungai

Tuhan menganugerahkan alam yang indah untuk Pangandaran. Bagaimana tidak, daerah ini memiliki tempat ter baik untuk menikmati matahari terbit juga terbenam. Bila Anda sudah mengikuti jelajah hutan pagi hari, jalur Curug Sawangan ini akan menambah sempurna liburan Anda.

Jalur dua ini dimulai pada siang hari setelah makan siang. Anda akan dijemput di hotel menuju mulut hutan jati. Anda akan berjalan menyusuri sungai lalu menyeberangi Jembatan Gantung Pandean. Kami jamin adrenalin Anda akan terpacu saat melakukannya. Tak usah khawatir, kami juga menjamin keselamatan Anda.

Setelah dua jam berjalan menyusuri sungai di hutan jati ini, Anda boleh istirahat di tempat istimewa. Sebuah kolam buatan Tuhan di bawah air terjun Curug Sawangan menanti Anda. Airnya yang jernih akan menggoda Anda untuk berenang di dalamnya. Kalau terlalu lelah berenang, bisa juga Anda hanya berendam duduk di batu-batu pinggir sungai itu. Inilah saatnya Anda berbagi bekal dengan teman seperjalanan.

Setelah rasa lelah terobati, kita bisa melanjutkan perjalanan. Keluar dari air terjun, Anda akan menemui kebun-kebun rakyat. Kebun ini berisi berbagai jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk warga setempat. Bila bertualang bersama keluarga, Anda mungkin ingin bercerita soal tanaman kepada anak-anak.

Tak terasa, perjalanan di kebun ini akan mengantar Anda sampai ke Bukit Mahoni. Ini adalah bukit yang tingginya 217 meter di atas permukaan laut. Menjadi tempat terbaik untuk menikmati pemandangan kota Pangandaran di senja hari. Inilah saatnya satu persatu warga setempat menyalakan lampu yang terlihat bagai kunang-kunang.

Bila Anda bersama pasangan tercinta, kami sarankan untuk memilih waktu ketika bulan Purnama. Bayangkan romantisnya menikmati makan malam dari atas bukit, diterangi oleh sinar bulan. Ah, indahnya!

Cycling along the river banks

Take this bike tour in the morning or in the evening, both will give you unforgettable memories. If you start early in the morning, you will end this 4 hour ride by having lunch on a lagoon. When you start after the lunch, you will end up enjoying sunset on Pangandaran.

You will start the tour on the road to the thatch/nipa palm plantation. But first, you will come across the old trainways built in 1912 by the Dutch. Then you will pass through the paddy field when the farmers start their day. Then you will arrive in the plantation, you can stop and learn to make dahon (handicraft made from thatch leaves) from the people.

We will go through the village up to the Matras Dam. This is an irrigation dam where two rivers join. You can ride on the edge of the dam. You will feel like you are riding on the water! The journey after the dam will be up and up to the chalk cliff Karst Hill and off to Munggang Kemit hill. Munggang Kemit is the best spot to enjoy the view of Pananjung Peninsula. With the height of 75 meters above sea level, it is a great place to witness the sunset.

The tour will get easier from here. We will go down to the Ciputrapinggan Lagoon. The lagoon is located in the middle of coconut plantation. We will stop here to have lunch with typical food from Pangandaran: pindang gunung.

We will continue the journey back passing through a fisherman village in Cikidang. You can witness the fisherman activities here: catching the fish, selling the fish, making salted fish and even making shrimp paste! And to top it all, we will have to cross the Cikidang River with a raft to the base station home.

Kamis, 17 Juni 2010

It's a restart!

Ah, welcome back, my friends!

Finally I've managed to set my time to write again. I've been meaning to blog since ages ago. I've also always wanted to write anything since looong time ago. But neither happened.

Since facebook era, well until now facebook is still in, I felt like blogging is very old fashioned. I have been very busy confirming friends, shouting on their walls, posting some stylish pictures with various backgrounds so stylish that one will think I'm a show off --if you know what I mean ;-).

After facebook came twitter, and "twitting" became a new trendy term . I have an account on twitter too but not using it very often. Up to now, I still haven't found the pleasure in twitting. Maybe later, I'll try.

For the last three years (I did blog in 2007. I wrote about my vacation in Bali, remember? So the previous two years didn't count!) I've been through thick and thin. See many things, hear many things, but still say nothing. Quel dommage!

A friend of mine, Tri L. Astraatmaja, bought me a legendary elegant journal of Moleskine, back in Leiden. I remember what he wrote to me: "Please don't let your ideas slip away, keep them in it." I keep the journal, not the promise.

Since then, I wrote occasionally. But the writings ended mostly in my external hard disk. I don't know why, my faith in words gradually dwindled. In fact, I lost faith in many things. I was at the point of really really hard to get back on track, that is: writing.

I've never ever wanted to be a writer. I wish I could write a novel, a script, or the like. I did write short stories before. And it seemed to be only one step away from writing a novel. Yes, one step. But it's a giant's step we are talking about. I did write scripts for documentaries. That's all. I never again write for myself, write for the sake of writing itself.

It's such an irony. I never documented my experience in writings or anything. While at the same time I often give workshop on publication and documentation. I've been thinking about this irony since 2008, how I was too absorbed in works. And I feel dull.

I'm not that busy. I've never been that busy. I just feel that everything I see or hear or live through is not really interesting for anybody else. And sometimes I prefer to live my life through music. It's remarkable how music can invoke your old memories.

But now, despite my faith, I'm back in writing. Why? I don't know, I just feel the urge to do it. Maybe, maybe because I have too many spare time recently. And I want to have my faith in words back!

So, from now on, stay tune!


Pengikut