Minggu, 29 Agustus 2010
And by that you mean...?
Jumat, 13 Agustus 2010
Stay around Mr. Williams and Ms Fygi
I don't know why really. I just woke up coz I needed a cup of hot tea. But now I can't go back to sleep.
Well, I do have some homework for a meeting tomorrow. When I opened my laptop, my plan was to finish the homework. But then I open Facebook, and comments on people's walls. Then I browse people's links.Yadda yada yada... and I arrive at my own blog, hehehe...
To avoid loneliness in the middle of the night, I call Mr. Robbie Williams and Ms Laura Fygi to sing for me. To hear them swingin, I feel the urge to write. Again, I dont know what to write. So I write these strange feelings on my blog.
So, what exactly am I doing at this hour?
Rabu, 21 Juli 2010
Let’s go retro!
(Bayangan Semu, sung by Margie Segers)
1. Rien Djamain dan Jack Lesmana - Hapuslah Air Matamu
2. Rien Djamain - Pergi Untuk Kembali
3. Margie Segers - Enggo Lari
4. Margie Segers - Bayangan Semu
Enjoy!
Mariana Hasbie
Minggu, 27 Juni 2010
Wisata di Bengkulu
Meskipun kecil, wilayah ini menyimpan beragam potensi wisata. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, maupun wisata sejarah. Hingga saat ini, Dinas Pariwisata Bengkulu mencatat ada 80 obyek wisata di wilayah itu. Bayangkan, wisata alamnya saja meliputi 14 pantai, delapan wisata air, dan 36 wisata alam lainnya.
Ya, Bengkulu cukup beruntung dianugerahi topografi alam yang unik. Bagian timurnya merupakan dataran tinggi dan pegunungan. Di bagian ini banyak terdapat obyek wisata yang berkaitan dengan pegunungan. Anda bisa menikmati nikmatnya mandi di sumber mata air panas, berenang di air terjun, atau sekadar menikmati keindahan alam di Telaga Tujuh Warna. Di bagian timur ini pulalah terdapat pusat sayuran dan buah-buahan.
Sementara, bagian barat Bengkulu adalah dataran rendah dan pantai berpasir putih. Tak mengherankan bila pantai menjadi obyek wisata andalan Provinsi Bengkulu. Salah satu pantai yang terkenal di Bengkulu adalah Pantai Lais. Pantai ini sering dikunjungi wisatawan karena aksesnya mudah dan tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jarak dari Bandara Fatmawati ke Pantai ini hanya 60 km.
Pantai Lais ini masih asli, pantainya berpasir hitam dan lautnya masih biru. Di sepanjang pantai tumbuh deretan pohon-pohon palem yang menyejukkan. Warna biru cerah dan pasir hitam, dibumbui dengan hijaunya pohon palem sungguh menyejukkan mata. Tambah segar lagi karena di sela-sela deretan pohon palem itu terdapat titik-titik oranye. Ternyata warna oranye itu berasal dari kotak pendingin khas Sosro. Ah memang segar menikmati Teh Botol Sosro di bawah panasnya matahari pantai.
Meski berpasir hitam, pantai ini jauh dari kesan jorok. Lihat saja para wisatawan mancanegara yang tidak ragu-ragu berbaring di atasnya untuk berjemur. Mereka menyukai pantai ini juga karena tidak terlalu hiruk pikuk. Tidak terlalu banyak kegiatan atau dekorasi yang artifisial. Semuanya masih alami.
Di sepanjang pantai ini terdapat juga bangunan peninggalan Jepang. Bangunan itu berupa benteng pertahanan yang mampu menampung 3-4 orang di dalamnya. Bangunan ini dilengkapi juga dengan celah menghadap laut, yang diperkirakan digunakan untuk memantau situasi yang terjadi di laut.
Total bangunan benteng itu ada sembilan. Semuanya ditempatkan sejajar dengan jarak sekitar 5 meter antar bangunan dan lokasinya memanjang di sepanjang bibir pantai. Pembangunan benteng itu dilakukan oleh warga Lais sendiri. Pada masa pendudukan Jepang, mereka dipaksa menjadi Romusha. Dan benteng itu dibangun untuk mempertahankan wilayah Lais dari Belanda dan sekutu pada perang Asia Timur Raya.
Lokasi Bengkulu memang strategis. Maka tak mengherankan bila ia disinggahi banyak bangsa. Jauh sebelum Jepang tiba, Inggris telah dahulu menguasai wilayah ini. Maka tak mengherankan bila banyak sekali bangunan bersejarah yang ditinggalkan di daerah ini. Peninggalan Inggris antara lain adalah Benteng Marlborough.
Benteng ini didirikan pada abad ke-17 oleh East Indian Company. Sebetulnya benteng ini adalah benteng yang kedua dibangun setelah Fort York. Namun Fort Marlborough ini menjadi benteng Inggris yang terkuat di Timur setelah benteng di Madras, India. Marlborough dibangun khusus untuk mengantisipasi ancaman Belanda yang pada waktu itu berpusat di Batavia.
Inggris memang mampu bertahan dari Belanda. Tapi ternyata, Inggris justru ditaklukkan oleh warga asli Bengkulu. Pada 1807 terjadi pemberontakan rakyat Bengkulu terhadap Inggris. Dalam peristiwa itu, residen Inggris yang superkejam, Thomas Parr terbunuh. Jasadnya dikubur di benteng Marlborough. Kuburannya ini lalu dibuatkan tugu sebagai monumen peringatan kemenangan rakyat Bengkulu terhadap Inggris.
Ada lagi monumen penting yang sering dikunjungi wisatawan, yaitu rumah pengasingan Bung Karno. Sebelum Indonesia merdeka, proklamator kita ini pernah diasingkan ke Bengkulu. Rumah ini terletak di Jl. Soekarno-Hatta. Sekarang, rumah seluas 9 X 18 m persegi di atas lahan seluas empat hektare ini dijadikan museum. Kita bisa melihat barang-barang pribadi peninggalan Soekarno di sana. Ada sepeda yang sering digunakan Bung Karno dahulu, koleksi buku-bukunya, bahkan perlengkapan tonil Monte Carlo. Ah, kalau bicara peninggalan sejarah di Bengkulu, pasti tidak ada habisnya.
Mariana Hasbie
Bisa Lestari di Balikpapan
Mariana Hasbie
Fishermen are yearning for a landing place
When the generosity subsided
Jelajah Hutan
Pangandaran adalah salah satu lokasi wista pantai terbaik di Jawa. Dengan wilayah dataran yang diapit laut, Pangandaran menjadi tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit dan terbenam. Daerah pesisir di ujung selatan Jawa Barat ini menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Tak hanya atraksi alam yang bisa dinikmati para pelancong di wilayah ini. Pangandaran menyimpan cerita masa lalu di sepanjang jalur kereta mati Banjar-Cijulang. Tradisi dan budaya penduduk di daerah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah ini pun bisa menjadi atraksi wisata tersendiri. Semua itu bisa Anda nikmati dengan mengikuti program Jelajah Hutan.
Anda pasti merasa senang bila memulai hari dengan menikmati matahari terbit. Para pemandu akan menjemput di hotel dan mengantar Anda ke Saung Buled. Ini adalah titik terbaik untuk dapat menikmati matahari terbit sambil menikmati sarapan dan teh hangat.
Tak jauh dari Saung Buled terdapat mulut jalan setapak menuju terowongan. Dari sinilah Anda memulai petualangan. Terowongan pertama yang Anda lalui adalah Terowongan Hendrik yang panjangnya 50 meter. Anda juga akan menemui Jembatan Cikacepit, jembatan gantung yang tingginya 65 meter di atas permukaan laut.
Melalui hutan perkebunan rakyat, Anda meneruskan perjalanan hingga tiba di terowongan kedua—Terowongan Juliana—yang panjangnya 100 meter. Ini adalah terowongan kedua di jalur mati Banjar-Cijulang. Dahulu, jalur ini dibuat atas perintah Belanda untuk memudahkan jalur perdagangan. Jalur ini pula yang sempat dipakai Daendles ketika hendak melarikan diri dari Jakarta. Cerita selengkapnya bisa Anda dengar langsung dari pemandu Anda.
Sekitar 1 km setelah terowongan kedua, Anda akan diajak menyusuri terowongan ketiga. Ini terowongan terpanjang –dan karenanya tergelap—di jalur ini. Terowongan Willhelmina ini panjangnya mencapai 1,2 Km. Tak usah takut, pemandu akan mendampingi Anda dengan lampu di tangan. Pemandu juga akan bercerita tentang kisah di balik nama-nama Belanda untuk terowongan itu.
Selepas terowongan, Anda diajak menyusuri sejuknya hutan jati milik rakyat. Ini adalah perjalanan menuju Karang Mini, pos terakhir pada perjalanan ini. Anda dipersilahkan beristirahat sambil menikmati makan siang dengan makanan lokal. Masih belum puas? Anda bisa mencoba jalur trekking kami lainnya.
Trekking 2-Selusur Sungai
Tuhan menganugerahkan alam yang indah untuk Pangandaran. Bagaimana tidak, daerah ini memiliki tempat ter baik untuk menikmati matahari terbit juga terbenam. Bila Anda sudah mengikuti jelajah hutan pagi hari, jalur Curug Sawangan ini akan menambah sempurna liburan Anda.
Jalur dua ini dimulai pada siang hari setelah makan siang. Anda akan dijemput di hotel menuju mulut hutan jati. Anda akan berjalan menyusuri sungai lalu menyeberangi Jembatan Gantung Pandean. Kami jamin adrenalin Anda akan terpacu saat melakukannya. Tak usah khawatir, kami juga menjamin keselamatan Anda.
Setelah dua jam berjalan menyusuri sungai di hutan jati ini, Anda boleh istirahat di tempat istimewa. Sebuah kolam buatan Tuhan di bawah air terjun Curug Sawangan menanti Anda. Airnya yang jernih akan menggoda Anda untuk berenang di dalamnya. Kalau terlalu lelah berenang, bisa juga Anda hanya berendam duduk di batu-batu pinggir sungai itu. Inilah saatnya Anda berbagi bekal dengan teman seperjalanan.
Setelah rasa lelah terobati, kita bisa melanjutkan perjalanan. Keluar dari air terjun, Anda akan menemui kebun-kebun rakyat. Kebun ini berisi berbagai jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk warga setempat. Bila bertualang bersama keluarga, Anda mungkin ingin bercerita soal tanaman kepada anak-anak.
Tak terasa, perjalanan di kebun ini akan mengantar Anda sampai ke Bukit Mahoni. Ini adalah bukit yang tingginya 217 meter di atas permukaan laut. Menjadi tempat terbaik untuk menikmati pemandangan kota Pangandaran di senja hari. Inilah saatnya satu persatu warga setempat menyalakan lampu yang terlihat bagai kunang-kunang.
Bila Anda bersama pasangan tercinta, kami sarankan untuk memilih waktu ketika bulan Purnama. Bayangkan romantisnya menikmati makan malam dari atas bukit, diterangi oleh sinar bulan. Ah, indahnya!
Cycling along the river banks
Take this bike tour in the morning or in the evening, both will give you unforgettable memories. If you start early in the morning, you will end this 4 hour ride by having lunch on a lagoon. When you start after the lunch, you will end up enjoying sunset on Pangandaran.
You will start the tour on the road to the thatch/nipa palm plantation. But first, you will come across the old trainways built in 1912 by the Dutch. Then you will pass through the paddy field when the farmers start their day. Then you will arrive in the plantation, you can stop and learn to make dahon (handicraft made from thatch leaves) from the people.
We will go through the village up to the Matras Dam. This is an irrigation dam where two rivers join. You can ride on the edge of the dam. You will feel like you are riding on the water! The journey after the dam will be up and up to the chalk cliff Karst Hill and off to Munggang Kemit hill. Munggang Kemit is the best spot to enjoy the view of Pananjung Peninsula. With the height of 75 meters above sea level, it is a great place to witness the sunset.
The tour will get easier from here. We will go down to the Ciputrapinggan Lagoon. The lagoon is located in the middle of coconut plantation. We will stop here to have lunch with typical food from Pangandaran: pindang gunung.
We will continue the journey back passing through a fisherman village in Cikidang. You can witness the fisherman activities here: catching the fish, selling the fish, making salted fish and even making shrimp paste! And to top it all, we will have to cross the Cikidang River with a raft to the base station home.