Minggu, 27 Juni 2010

Bisa Lestari di Balikpapan

Bicara Balikpapan biasanya orang langsung teringat minyak. Betapa tidak, kota di Kalimantan Timur ini adalah daerah penghasil minyak terbesar kedua di Indonesia. Sejarah penambangan minyak di sini berusia lebih dari seabad. Ini bisa kita ketahui dari Monumen Mathilda yang menjadi lambang pengingat cikal bakal kilang minyak di Balikpapan. Mathilda adalah perusahaan penambang minyak pertama di sana, yang didirikan pada 1897.
Sejak saat itu, Balikpapan menjadi wilayah strategis bagi Hindia Belanda. Di masa Perang Dunia II, Jepang mengincar kota tersebut untuk dijadikan batu loncatan menuju Jawa. Ketika pasukan Sekutu datang, kota ini lagi-lagi jadi incaran. Hingga akhirnya Indonesia merdeka, kota ini beserta penambangan minyaknya dikelola oleh Pemerintah Indonesia.
Kandungan minyak di wilayah ini telah mengubah wajah Kota Balikpapan. Kota yang awalnya hanya merupakan kota transit, berubah menjadi kota tujuan bagi banyak orang. Banyaknya pendatang tentu memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan, seperti halnya kota-kota minyak lain di dunia, Balikpapan lalu berkembang sedemikian rupa menjadi sangat modern.
Namun, Balikpapan memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota minyak lainnya. Perkembangan kota ini tidak membuat Balikpapan mengorbankan kelestarian lingkungan. Di balik gemerlap kota serta serbuan gedung tinggi, Balikpapan memiliki kearifan dalam menjaga kelestarian. Bila kota-kota tambang lain biasanya memiliki masalah dengan lingkungan hidup, Balikpapan patut dipuji atas keberhasilannya menjaga keseimbangan alam di tengah gencarnya pembangunan kota.
Penangkaran Buaya
Salah satu usaha Balikpapan dalam menjaga keseimbangan alam adalah membuat penangkaran buaya. Ada beberapa penangkaran di sana. Namun yang terbesar adalah Penangkaran Buaya Teritip. Penangkaran yang mulai beroperasi tahun 1991 dengan misi pelestarian satwa buaya, secara resmi menjadi obyek wisata unggulan Balikpapan pada tahun 1997.
Penangkaran Buaya Balikpapan berlokasi di Desa Teritip, Balikpapan Timur, tak jauh dari obyek wisata Pantai Manggar. Jaraknya sekitar 27 kilometer dari pusat kota, dan bisa ditempuh 30 menit menggunakan mobil, serta hanya 20 menit dari Bandara Sepinggan. Mobil pribadi, taksi bandara, maupun angkutan kota, dapat mengantarkan ke sana setiap saat.
Kawasan seluas lima hektare ini menampung sekitar 1500 buaya asli Kalimantan Timur. Yang terbanyak adalah jenis buaya muara (crocodylus prosus). Sedangkan buaya air tawar (crocodylus siamensis) dan buaya supit (tomistoma segelly) hanya beberapa ekor, karena termasuk langka.
Setiap hari, penangkaran ini dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WITA. Pengunjung bisa mengamati dari dekat gerak-gerik hewan melata yang terkenal buas ini. Para turis dapat menyaksikan kebuasan para buaya tersebut saat berebut makanan. Bahkan, pengunjung pun boleh ikut memberi makan para buaya itu hanya dengan membayar 10.000 untuk seekor ayam.
Selain melihat proses pemberian makan buaya, pengunjung juga bisa menikmati wisata satwa lainnya. Yaitu, menunggang dua gajah Lampung mengelilingi kompleks penangkaran buaya. Anda bisa berkeliling sambil melihat-lihat berbagai produk hasil olahan kulit buaya. Ada dompet, tas, ikat pinggang, serta berbagai asesoris lain yang cocok dijadikan suvenir.
Tak perlu takut, semua produk tersebut adalah legal. Hal ini telah ditegaskan saat kunjungan Pangeran Bernard dari Belanda pada 1997. Pangeran Bernard adalah pendiri World Wildlife Fund, sebuah organisasi di bidang pelestarian hewan. Kunjungannya ke penangkaran buaya Teritip saat itu merupakan pengakuan bahwa penggunaan kulit buaya dari indonesia berasal dari penangkaran yang legal.
Maka tak mengherankan bila banyak wisatawan yang datang, baik lokal maupun mancanegara. Jumlah wisatawan ini memuncak di akhir pekan dan hari-hari libur nasional. Pada hari-hari tersebut, pengelola menyediakan menu khusus berupa sate buaya yang dijual seharga Rp 3.000 per tusuk. Sate buaya dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan. Ada pula menu khusus untuk kesehatan khusus pria, yaitu ramuan tangkur (alat kelamin buaya). Ramuan ini dijual dengan harga Rp 400.000-Rp 700.000.
Hanya satu pantangan saat berkunjung ke sini: pantang mengabaikan rambu-rambu peringatan. Meskipun kawasan ini relatif aman, buaya tetaplah hewan yang sifat alamiahnya buas. Bila ada yang tak berkenan di hati mereka, bisa-bisa Anda jadi santapan mereka.
Kampung Atas Air:
Di Balikpapan, ada perkampungan di atas air yang sangat terkenal. Perkampungan ini menjadi unik karena perpaduan kehidupan tradisional dengan kota yang modern. Jadi, tak perlu jauh-jauh pergi ke Vietnam hanya untuk melihat perkampungan di atas air.
Perkampungan di atas air ini berada di Kelurahan Margasari, Balikpapan Barat. Wilayah permukiman seluas 66 hektare ini separuhnya berdiri di atas laut. Meskipun demikian, tak ada kesan kumuh atau kotor di sana. Sebaliknya, kita tak akan merasa bahwa kita tengah berada di atas air. Bangunannya pun berjejer rapi dan kokoh dengan pondasi bangunan terbuat dari kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama.
Awalnya, kawasan di teluk Balikpapan ini merupakan lahan kosong. Para penduduk yang sekarang mendiami wilayah Kampung Atas Air ini dahulu tinggal di kawasan buffer zone, di bagian lain Balikpapan. Daerah buffer zone adalah daerah yang bebas dari aktivitas industri penambangan. Namun, daerah itu berkembang menjadi sangat padat dan kumuh hingga tak sedap dipandang mata.
Ketika Pemerintah Kota Balikpapan berbenah diri, warga dari permukiman kumuh tersebut dipindahkan ke Kampung Atas Air ini. Kampung ini ditata sedemikian rupa sehingga rapi dan enak ditinggali. Meski berada di atas air, bukan berarti limbah yang diproduksi rumah tangga dapat dibuang begitu saja ke laut. Pemerintah setempat telah memikirkan cara agar kawasan itu tetap bersih tak tercemar.
Untuk melindungi kawasan itu, pemerintah menanam bakau (mangrove) di sekeliling kawasan itu. Hutan mangrove ini sangat berguna menjaga ekosistem di wilayah itu. Dengan banyaknya pohon bakau di sana risiko penggerusan bibir pantai dapat dikurangi. Pohon mangrove juga bisa menjadi tempat tinggal bagi hewan-hewan laut yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti ikan dan kepiting.
Memang, sebagian besar penduduk di sana berprofesi sebagai nelayan. Dan mereka sangat sadar, kelestarian lingkungan laut akan menguntungkan untuk profesi mereka. Itu sebabnya mereka sukarela ikut merawat kelestarian alam tempat tinggal mereka. Dalam hal sampah, misalnya, mereka sudah melaksanakan pemisahan sampah organik yang mudah terurai dengan yang non-organik.
Sampah-sampah organik kemudian mereka olah menjadi kompos. Mereka melakukannya secara kolektif sehingga dampaknya kepada lingkungan juga sangat signifikan. Kompos itu mereka gunakan untuk menyuburkan tanaman yang mereka tanam di lingkungan rumah mereka. Tak mengherankan bila kawasan itu menjadi hijau dengan udara yang segar dan nyaman.
Untuk mengatasi masalah limbah rumah tangga, di sana dibangunlah instalasi pengolahan air limbah. Jadi limbah rumah tangga disalurkan langsung ke instalasi ini. Limbah tersebut lalu dipisahkan menjadi limbah padat dan cair. Limbah yang padat beserta sampah organik lainnya diolah menjadi kompos yang berguna untuk tanaman. Limbah yang cair diolah menjadi cairan yang tidak berbahaya yang dimanfaatkan Dinas Pertamanan Kota untuk menyiram taman-taman kota dan pemadam kebakaran.
Segala upaya melestarikan lingkungan ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Tahun lalu, wilayah ini berhasil menyabet gelar juara II dalam “Lomba Penataan Daerah Kumuh” yang diselenggarakan Departemen Pekerjaan Umum. Sementara, dalam lomba yang diselenggarakan Kementrian Dalam Negeri, Kampung Atass Air berhasil menyabet gelar Juara I dalam kategori “inovasi manajemen perkotaan di kawasan kumuh.” Ternyata, dengan semangat bisa menjaga keseimbangan alam, tak mustahil menikmati kehijauan desa di balik gemerlap gedung-gedung tinggi di tengah kota minyak Balikpapan.


Mariana Hasbie

Tidak ada komentar:

Pengikut